Program B20 dan Kendaraan Listrik Bisa Terwujud Bersama

NERACA

Jakarta – PT GESITS Technologies Indo, produsen sepeda motor listrik nasional GESITS, menilai penerapan program Biodiesel B20 dan kendaraan listrik bisa terwujud bersama-sama. "Saatnya nanti sampai di penghujung, maka penerapan B20 serta kendaraan listrik akan terwujud bersama-sama saat semua sudah elektrik dan juga di sisi lain pembangkit listrik di Indonesia pun sudah mengadopsi teknologi green energy," ujar Deputy Director Sales & Distribution PT GESITS Technologies Indo Abdullah Alwi di Jakarta, disalin dari Antara.

Menurut dia, penerapan B20 dan kendaraan listrik merupakan hal yang berbeda, dan B20 tidak harus diimplementasikan dengan kendaraan karena banyak sekali aspeknya. Sebetulnya penerapan B20 dan kendaraan listrik bekerja secara paralel, dengan produsen kendaraan listrik seperti GESITS menjalankan konversi sarana transportasi di jalan raya, sementara pihak-pihak di bidang energi melakukan konversi bahan bakar di pembangkit listrik dimana mereka juga sudah bergerak ke pembangkit listrik ramah lingkungan B20 dan sebagainya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin Doddy Rahadi mengungkapkan bahwa penerapan biodiesel B20 bisa berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan mobil listrik.

Sedangkan pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai peraturan presiden (perpres) tentang mobil listrik yang akan disahkan tidak akan mematikan kebijakan biodiesel B20 yang sedang berjalan. Perpres mobil listrik tidak akan mematikan B20, mengingat kebijakan pengembangan biodiesel ini merupakan upaya bauran energi, katanya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan juga menyebut program B20 akan tetap berjalan kendati perpres mobil listrik disahkan. Menurut Jonan, pembangkit listrik akan memanfaatkan B20 sebagai bahan bakarnya.

Menteri ESDM menambahkan bahwa kedua program akan tetap berjalan, mengingat program B20 dan kendaraan listrik merupakan upaya pemerintah menekan impor BBM dan menyelamatkan devisa negara.

Director National Center for Sustainable Transportation Technology ITB Sigit Puji Santosa mengatakan kebakaran kendaraan listrik masih menjadi tantangan bagi industri otomotif nasional.

"Masih cukup banyak masalah terkait safety, salah satunya potensi kebakaran baterai berbasis lithium," ujar Sigit Puji Santosa dalam seminar Indonesianisme Summit bertema "Kendaraan Indonesia Masa Depan" di Jakarta, disalin dari Antara.

Menurut dia, kebakaran baterai bisa terjadi karena bahan yang digunakan mudah panas. Maka itu, dirinya bersama tim terus melakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi baterai kendaraan listrik dengan tingkat keamanan tinggi.

Ia mengemukakan, kendaraan mobil listrik yang ada sekarang ini menggunakan teknologi baterai generasi kedua, berjenis lithium. Saat ini, lanjut dia, pihaknya bersama kemitraan riset sedang mengembangkan baterai moda listrik generasi ketiga, berjenis lithium state. "Perkembangannya, lithium ion menjadi lithium state. Baterai generasi ketiga itu lebih ringan dengan kapasitas energinya juga lebih tinggi, dan aman dari risiko terbakar," katanya.

Ia mengatakan riset itu terus dikembangkan dengan sangat hati-hati agar tidak menjadi masalah ke depannya. "Di dunia, semua masih mencari yang terbaik, sama-sama belajar, yang paling penting adalah sertifikasi dan validasi untuk menjamin keselamatan publik. Kalau tidak hati-hati akan jadi masalah ke depan," ucapnya.

Kendaraan listrik, lanjut dia, juga merupakan salah satu solusi atas permasalahan kebutuhan energi pengganti bahan bakar minyak (BBM) dan pencemaran lingkungan.

Penasihat Khusus Menteri Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kemenko Bidang Maritim Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai bahwa Indonesia bisa menjadi pemain utama baterai untuk kendaraan listrik dunia. "Nyawa kendaraan listrik adalah teknologi baterai. Dan Indonesia bisa menjadi pemain utama baterai karena kita memiliki bahan baku utamanya," ujar Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Ia mengemukakan lithium adalah unsur logam yang ada dalam baterai. Logam lain yang sangat penting adalah nikel dan kobalt, sementara mangan dapat menggantikan nikel.

Sementara itu, Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mengatakan peraturan presiden (perpres) tentang mobil listrik perlu mengutamakan elektrifikasi pada angkutan umum terlebih dahulu.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Regulasi Ini Diharapkan Warnai Regenerasi Tenaga Kerja Pertanian

NERACA Jakarta – Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang akan dibawa ke tingkat Rapat Paripurna DPR diharapkan…

Sertifikasi Konstruksi Penting Untuk Daya Saing

NERACA Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan sertifikasi tenaga kerja konstruksi guna meningkatkan kompetensi…

TKDN Produk Elektronika dan Telematika Bakal Menyeluruh

NERACA Jakarta – Pemerintah berencana menerapkan kewajiban tingkat komponen dalam negeri untuk produk elektronika dan telematika secara menyeluruh. Rencana penerapan…