Lebih Efisien, Batu Bara Mulai Diperdagangkan Secara Digital - Pertambangan

NERACA

Jakarta – E-commerce atau pemasaran digital melalui dunia maya sudah merambah sektor bisnis pertambangan, terutama batu bara. Perusahaan tambang PT Bumi Banua Sinergi bekerja sama dengan PT Visitama Teknologi Indonesia yang tergabung dalam member Visitama Group mengembangkan market place penjualan batu bara bernama Vmining.

"Vmining adalah aplikasi transaksi jual beli Batu Bara pertama di Indonesia," kata Direktur Utama PT. Bumi Banua Sinergi, Arijanto, disalin dari Antara. Ia mengatakan aplikasi Vmining akan mempermudah transaksi dan lebih efisien karena antara lain memotong biaya survei batu bara, karena setiap produk yang dijual, dipastikan dengan kualitas terbaik sesuai dengan GAR yang dibutuhkan.

Menurut Arijanto, lokasi batu bara dapat di cek secara daring, hingga berbagai alternatif pengiriman batu bara dapat disesuaikan dengan budget dan dihitung secara daring. "Kini pasar jauh lebih luas dengan jangkauan nasional, menghubungkan penjual dengan pembeli yang kemudian akan mengincar pangsa Internasional. Kemudahan bertransaksi dan jaminan keamanan pembayaran menjadikan Vmining semakin layak diperhitungkan," ujarnya.

Arijanto menambahkan bahwa pihaknya telah memiliki legalisasi dengan mengandeng mitra dan pemasok batu bara dari Kalimantan dan Sumatera. "Kami melayani semua permintaan secara daring baik dalam jumlah kecil seperti hanya satu truk untuk target domestik sampai permintaan besar dengan target internasional," paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok harga batu bara acuan pada bulan Juni 2019 sebesar 81,48 dolar AS per ton. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pada tanggal 1 Juni 2019 telah menetapkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 92 K K/30/MEM/2019 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu bara Acuan untuk Bulan Juni Tahun 2019. Kepmen tersebut menetapkan Harga Batu bara Acuan (HBA) dan Harga acuan untuk 20 mineral logam (Harga Mineral Acuan/HMA).

"Kepmen yang mengatur HBA dan HMA bulan Juni sudah keluar. HBA dan HMA yang telah ditetapkan ini akan digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Patokan Batu bara dan Mineral di bulan ini," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi.

HBA Juni 2019 ditetapkan sebesar 81,48 dolar AS per ton. "Harga batu bara acuan telah ditetapkan sebesar 81,48 dolar AS per ton. Harga ini mengalami penurunan tipis, yakni 0,38 dolar AS dari HBA Mei 2018 sebesar 81,68 dolar AS per ton," tambah Agung.

HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900 pada sebelumnya. Kualitasnya disetarakan pada kalori 6322 kcal per kg GAR, Total Moisture 8 persen, Total Sulphur 0,8 persen dan Ash 15 persen.

Sementara HMA komoditas nikel ditetapkan 12.100,00 dolar AS per dry metric ton (dmt), turun dari 13.000,91 dolar  AS per dmt dari HMA Mei 2019. Untuk komoditas kobalt ditetapkan 34.750,00 dolar AS per dmt, naik dari 32.320,45 dolar AS per dmt dari HMA Mei 2019. Harga timbal turun dari 1.977,25 dolar AS per dmt pada HMA Mei 2019 menjadi 1.863,53 dolar AS per dmt.

Harga seng turun dari 2.940,43 dolar AS per dmt pada HMA Mei 2019 menjadi 2.818,39 dolar AS per dmt, sedangkan HMA aluminium naik dari 1.865,59 dolar  AS per dmt menjadi 1.801,86 dolar AS per dmt. Untuk tembaga, HMA Juni 2019 ditetapkan 6.218,67 dolar AS per dmt, naik dari 6.422,16 dolar  AS per dmt pada HMA Mei 2019.

Sebelumnya, Harga Batu bara Acuan (HBA) pada Mei 2019 turun menjadi 81,86 dolar AS per ton, atau turun 6,99 dolar AS per ton dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 88,85 dolar AS per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menjelaskan, penurunan HBA ini dipengaruhi oleh adanya kebijakan atas pembatasan impor batu bara oleh beberapa negara Asia Timur dan Asia Barat, khususnya Tiongkok dan India.

"Saat ini Tiongkok hingga India mulai mengurangi suplai batu bara mereka dari Indonesia. Mereka melakukan proteksi impor dengan memperbanyak produksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan domestiknya," jelas Agung.

Harga ini meneruskan tren komoditas batu bara yang mengalami penurunan sejak akhir tahun lalu. Secara berurutan, harga batu bara sempat berada di kisaran 100,89 dolar AS per ton pada Oktober 2018. Kemudian, harganya melorot menjadi 97,90 dolar AS per ton pada November dan sebesar 92,51 dolar AS per ton pada Desember 2018.

BERITA TERKAIT

Penetrasi Peluang Pasar Digital - GoPay Layani Pembayaran di 7000 Gerai JNE

NERACA Jakarta -GoPay menjadi platform uang elektronik pertama yang bisa digunakan sebagai salah satu opsi pembayaran di JNE. Kemudahan bertransaksi…

Tingkatkan Produktivitas - Perlu Kembangkan Teknologi Pertanian Secara Besar-Besaran

NERACA Jakarta – Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mendorong pemerintah untuk mengembangkan teknologi pertanian secara besar-besaran di Indonesia,…

DPR: Pejabat Publik Seharusnya Lebih Bijak dalam Menyikapi Blackout

  NERACA Jakarta - Peristiwa pemadaman listrik masif (blackout) di hari Minggu 4 Agustus 2019 silam memancing reaksi dari berbagai…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Program B20 dan Kendaraan Listrik Bisa Terwujud Bersama

NERACA Jakarta – PT GESITS Technologies Indo, produsen sepeda motor listrik nasional GESITS, menilai penerapan program Biodiesel B20 dan kendaraan…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

Dikembangkan, Produksi Benih Kerang Abalone

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan mengembangkan produksi benih kerang laut jenis abalone Haliotis squamata, yang bernilai ekonomi tinggi,…