Perlu Ajak Masyarakat Industri Sadari Pentingnya Kolaborasi

NERACA

Jakarta – Dalam menindaklanjuti Making Indonesia 4.0, menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Eko S.A. Cahyanto di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Kemenperin pun telah melakukan peluncuran Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), yakni indeks yang digunakan untuk mengukur kesiapan industri dalam bertransformasi menuju industri 4.0, yang hasilnya menunjukkan rata-rata industri sudah berada di level siap untuk bertransformasi menuju ke industri 4.0.

Selain itu, dilakukan penggalian ide-ide inovasi dan pembiayaan startup berbasis teknologi industri melalui Making Indonesia 4.0 Start-Up. Kemudian untuk mengkampanyekan Making Indonesia 4.0 secara global dan menarik investor internasional, Indonesia akan menjadi country partner acara Hannover Messe 2020.

“Implementasi Making Indonesia 4.0, harus digulirkan secara masif dan terstruktur guna mengajak masyarakat industri menyadari pentingnya kolaborasi dengan setiap stakeholders,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur lebih gencar mengisi pasar global. Peningkatan ekspor dengan mengoptimalkan utilisasi industri dan memperluas pasar luar negeri dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan defisit neraca perdagangan. Dua faktor tersebut, menjadi kunci untuk memacu daya saing Indonesia.

“Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan nilai investasi dan ekspor dari sektor industri guna memperbaiki struktur perekonomian nasional saat ini. Dua faktor tersebut, menjadi kunci untuk memacu daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Menperin menegaskan, selama ini industri manufaktur memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. “Hal ini sekaligus menandakan bahwa produk manufaktur nasional telah berkualitas sehingga mampu kompetitif dan diterima di kancah internasional,” ujarnya.

Kemenperin mencatat, sepanjang Januari-Juni 2019, pengapalan produk manufaktur nasional mampu menembus hingga USD60,14 miliar. Nilai ini berkontribusi sebesar 74,88 persen dari capaian ekspor nasional yang menyentuh angka USD80,32 miliar di semester pertama tahun ini.

“Jadi, produk manufaktur masih mendominasi ekspor kita,” tutur Airlangga. Adapun tiga sektor yang menyetor paling besar terhadap nilai ekspor nasional pada semester I-2019, yaitu industri makanan sebesar USD12,36 miliar, kemudian industri logam dasar USD8,14 miliar, serta disusul industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia USD6,37 miliar.

Sektor lainnya yang turut menyumbang signifikan, di antaranya industri pakaian jadi sebesar USD4,06 miliar, industri kertas dan barang dari kertas USD3,55 miliar, serta industri karet, barang dari karet dan plastik USD3,48 miliar.

Menperin menandaskan, melalui capaian ekspor tersebut, industri manufaktur berperan penting sebagai penggerak utama perekonomian. “Dengan investasi dan ekspor meningkat, kami yakin ekonomi kita menjadi lebih sehat,” terangnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah fokus memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor. Di samping itu juga mendorong tumbuhnya industri penghasil substitusi bahan baku impor. Hal ini sejalan dengan program prioritas Making Indonesia 4.0.

“Maka itu, perlu mengakselerasi ekspor produk yang memiliki nilai tambah tinggi,” ujarnya. Melalui pemanfaatan teknologi industri 4.0, Menperin optimistis, industri nasional akan menghasilkan produk yang lebih berkualitas secara efisien. “Jadi, lebih produktif, inovatif, dan kompetitif,” imbuhnya.

Sebelumnya, pemerintah semakin gencar memacu investasi sektor industri karena dinilai mampu memberikan efek berganda dan memperkuat struktur perekonomian nasional. Oleh karena itu, berbagai kebijakan strategis telah diterbitkan guna menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Dari hasil pertemuan kami dengan para investor, mereka melihat Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investasi. Indonesia dinilai memiliki peluang pengembangan industri manufaktur melalui pasar yang besar dan ketersediaan tenaga kerja yang kompetitif. Ini potensi bagi kita,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Minggu (4/8).

BERITA TERKAIT

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

Kinerja Industri Petrokimia Diyakini Bangkit Lagi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis pada pengembangan TubanPetro yang akan berkontribusi besar dalam membangkitkan kembali pertumbuhan industri petrokimia di…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

Kinerja Industri Petrokimia Diyakini Bangkit Lagi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis pada pengembangan TubanPetro yang akan berkontribusi besar dalam membangkitkan kembali pertumbuhan industri petrokimia di…