Tak Tahan, BI Beri Sinyal Naikkan BI Rate

Serangan Capital Inflow Capai US$ 15 miliar

Jumat, 11/03/2011

Serangan Capital Inflow Capai US$ 15 miliar

Tak Tahan, BI Beri Sinyal Naikkan BI Rate

Bali – Meroketnya harga minyak dunia akibat krisis politik di Timur Tengah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi perekonomian dalam negeri. Bahkan terindikasi mengancam potensi inflasi. Karena itu Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan menaikkan acuan suku bunga bank Indonesia (BI Rate) ke depan terkait upaya meredam inflasi.

Direktur Kebijakan Moneter dan Peneliti Ekonomi BI, Perry Warjiyo mengatakan, BI mengantisipasi guna merespon inflasi akibat kenaikan harga minyak. Alasanya negara-negara Eropa sudah menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, “Kedepan BI Rate arahnya akan naik, tapi belum dipastikan timingnya karena harus mengkaji alternatif lain,”katanya kepada wartawan di Bali, Kamis (10/3).

Menurutnya, potensi kenaikan BI Rate sudah tak bisa direm lagi. Karena ancaman inflasi cukup besar. Maka BI mempertimbangkan kondisi ekonomi serta apresiasi nilai tukar rupiah. Hanya saja, Perry menyakini, krisis politik Timur Tengah tidak mengurangi derasnya capital inflow. Perbedaan interested deferensial (acuan suku bunga) yang cukup jauh antara negara maju dengan emerging market dan termasuk Indonesia menjadi alasan kenapa dana asing tidak akan lari.

Selain itu, kara Perry, membaiknya fundamental ekonomi Indonesia menjadi alasan kuat masuknya dana asing. Bahkan, berdasarkan lembaga kajian asing asal Amerika Institute for International Finance menyebutkan, ada US$ 15 miliar dana asing yang masuk ke Indonesia dari US$ 420 miliar dana asing yang masuk ke emerging market dan total US$ 800 miliar ke seluruh Asia. “Capital inflow di emerging market tahun ini cukup besar karena fundamental ekonomi di negara Asia masih bagus dan terlebih Indonesia dengan prediksi ekonomi 6,4%,”tandasnya.

Kendatipun demikian, Perry mengakui, dibalik trend penguatan capital inflow tahun ini juga berpotensi resiko lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kali ini resiko yang perlu diwaspadai, apakah kenaikan minyak dunia masih terus berlanjut dan kemudian memperhatikan ketahanan APBN akankah jebol karena subsidi BBM bengkak sebagai dampak kenaikan harga minyak dunia.

Selanjutnya, dia juga mengklaim bila BI sudah melakukan berbagai macam jurus untuk meredam inflasi serta kenaikan komoditas internasional. Sebut saja intervensi terhadap nilai tukar rupiah. Dimana apresiasi rupiah dinilai sebagai salah satu upaya mengendalikan inflasi. “Kita yakin rupiah menguat, maka inflasi akan terjaga,”tegasnya.

Penguatan nilai tukar rupiah saat ini juga sudah dipertimbangkan BI tidak akan mempengaruhi daya saing nilai ekspor Indonesia. Alasannya, sifat struktur ekspor Indonesia berasal dari natural base yang sejauh ini masih positif dan tidak tergantung dengan instrument negara lain.

Menyikapi, kritikan dana asing yang masuk hanya diatas kertas dan upaya mencegah tidak mudah keluar, BI menegaskan bila kebijakan memperpanjang tenor Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 6 bulan dan trem jangka panjang deposito menjadi dua bulan akan tetap selalu digunakan dan juga menjaga ekses likuiditas.

Nilai serapan kedua tenor tersebut mencapai Rp 51,93 triliun. Asal tahu saja, BI memang berniat untuk terus menggiring perbankan agar menempatkan dana di term deposit. Caranya, dengan mengurangi target indikatif lelang SBI dan memperpanjang pilihan tenor term deposit. Tujuannya, BI ingin lebih mudah mengendalikan likuiditas dengan term deposit yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Dengan demikian, jalan masuk investor asing ke instrumen keuangan akan kian terbatas.

Risiko pembalikan dana secara tiba-tiba pun bisa diperkecil. Langkah ini juga dilakukan dalam rangka kebijakan BI untuk mengurangi ketergantungan pengelolaan moneter dengan SBI. **bani