PT Timah Serap Dana Capai Rp 97,40 Miliar - Biaya Eksplorasi di Bulan Juli

NERACA

Jakarta – Pacu pertumbuhan produksi timah lebih besar lagi, eksplorasi PT Timah Tbk (TINS) di semester tidak pernah berhenti. Perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengungkapkan, biaya eksplorasi yang dikeluarkan sebesar Rp97,40 miliar untuk kegiatan Juli 2019.

Selain untuk kegiatan eksplorasi, perseroan juga mengucurkan dana untuk biaya investasi Rp785,00 juta. Secara detail, eksplorasi dilakukan oleh emiten berkode saham TINS itu berupa kegiatan pemboroan rinci di perairan Bangka dan perairan Kundur. Kegiatan tersebut dilakukan dengan menggunakan lima unit kapal bor dengan total meter bor sebanyak 3.839 meter.

Selanjutnya, pada Juli 2019, kegiatan eksplorasi di darat meliputi geogmagnet, core logging, percontohan core, pengukuran grid bor, dan pemboran timah primer di pulau Bangka dan Belitung dengan total meter bor sebanyak 3.382 meter. TINS mengungkapkan rencana eksplorasi pada Agustus 2019 yakni melakukan evaluasi dan melanjutkan kegiatan bulan sebelumnya.

Sekretaris Perusahaan Timah, Abdullah Umar Baswedan menjelaskan bahwa volume penjualan refined tin perseroan mencapai 31.000 ton pada semester I/2019. Pencapaian itu tumbuh 144% dari 12.700 ton periode yang sama tahun lalu. Abdullah menjelaskan bahwa faktor pendongkrak penjualan yakni adanya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 11 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pemberian Wilayah, Perizinan, dan Pelaporan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara.

Beleid itu, lanjutnya, mensyaratkan perseoan tambang memiliki competent person untuk pelaporan cadangan tambang yang menjadi basis untuk rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB).Dia menyebut emiten berkode saham TINS itu mampu membuktikan asal usul cadangan bijih timah sehingga mampu menyusun RKAB bagi izin usaha pertambangan (IUP) yang dimiliki.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan laba sebesar Rp 1,2 triliun. Direktur Utama PT. Timah, Riza Pahlevi pernah bilang, target tersebut memang dua kali lipat dari pencapaian 2018. Maka untuk mencapai target tersebut, TINS menetapkan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan cadangan timah yang berada di di tambang timah yang memiliki IUP dan fokus pada aktivitas penambangan di lokasi yang cadangannya relatif mudah.

Kedua, percepatan produksi bijih timah menjadi logam melalui peningkatan kapasitas, produktivitas, efektivitas, dan efesiensi. Kemudian ketiga, perusahaan akan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas penjualan kepada target pasar dunia potensial. Keempat, menigkatkan besar modal kerja yang murah untuk menunjung keseluruhan aktivitas operasinal bisnis. Perusahaan juga berencana untuk mengembangkan teknologi Ausmelt untuk memproses kadar bijih timah antara 40-50%.

BERITA TERKAIT

Pasar Properti Penuh Tantangan - BTN Optimis Masih Ada Peluang Tumbuh 2020

NERACA Jakarta – Tahun depan, industri properti masih menemui tantangan seiring dengan ancaman perlambatan ekonomi nasional dan resesi ekonomi di…

PPRE Targetkan Kontrak Baru Tumbuh 20%

NERACA Jakarta –Tahun depan, PT PP Presisi Tbk (PPRE) memproyeksikan raihan proyek baru akan tumbuh 20% dibanding tahun ini. Tercatt…

Berikan Layanan Nasabah Korporasi - Maybank Sediakan Cash Collection Solution

NERACA Jakarta – Guna meningkatkan layanan kepada nasabah korporasi, PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) memberikan cash collection solution,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…