Perlu Kembangkan Teknologi Pertanian Secara Besar-Besaran - Tingkatkan Produktivitas

NERACA

Jakarta – Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mendorong pemerintah untuk mengembangkan teknologi pertanian secara besar-besaran di Indonesia, guna meningkatkan produktivitas petani, sekaligus memberikan nilai tambah bagi hasil panen petani.

"Pemerintah Presiden Jokowi pada periode pertama telah melakukan percepatan pembangunan infrastruktur. Kemudian, pada periode kedua akan melakukan pembangunan sumber daya manusia," kata Syahrul Yasin Limpo sebagaimana disalin dari Antara.

Syahrul Yasin Limpo mengatakan dari sekitar 255 juta penduduk Indonesia, sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Karena itu, kata dia, jika pemerintah mengembangkan teknologi pertanian secara besar-besaran dapat membuka banyak lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Syahrul mengingatkan Indonesia tidak perlu khawatir untuk mengadopsi teknologi pertanian dari negara lain, karena tidak akan mengurangi kebutuhan lapangan kerja. "Dari pengalaman kami di Sulawesi Selatan, modernisasi pertanian justru berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja baru, karena mesin-mesin pertanian harus dioperasikan oleh orang-orang terlatih," katanya.

Mantan Bupati Gowa itu mengakui ada perbedaan adopsi teknologi pertanian di negara-negara maju dan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. "Di negara maju teknologi pertanian diadopsi karena hanya sedikit orang yang mau bekerja di sektor hulu pertanian, sedangkan di negara berkembang adopsi teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, efisiensi, dan penciptaan lapangan kerja baru," katanya.

Syahrul Yasin Limpo juga mengegaskan pengembangan teknologi pertanian dapat meningkatkan nilai tambah penghasilan bagi petani, pelaku UKM bidang pertanian, dan sektor terkait lainnya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.

"Semakin banyak mengadopsi teknologi dan melatih orang-orang mengoperasikan mesin pertanian, maka pendapatan masyarakat ikut meningkat. Inilah salah satu hal juga yang kami patut syukuri di Sulawesi Selatan," ujarnya.

Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian telah menyiapkan lima strategi untuk meningkatkan volume dan nilai ekspor produk pertanian, yang tahun ini diharapkan mencapai Rp45 triliun.

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil mengatakan, Kementerian Pertanian kini terus mendorong akselerasi ekspor produk pertanian oleh karena itu, pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi pelaku usaha yang akan mengekspor.

Untuk itu Menteri Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 19 tahun 2019 tentang Pengembangan Ekspor Pertanian. "Ekspor kita permudah terus. Harus kita dorong, kita datangi dan jemput bola," ujarnya.

Strategi yang disiapkan untuk menggenjot ekspor produk pertanian tersebut, lanjutnya, yakni memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perizinan melalui OSS (one single system) atau program perizinan terpadu, sehingga prosesnya bisa lebih cepat.

Kemudian, tambahnya, mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. Dalam program itu, pemerintah memberikan bimbingan teknis terkait SPS (Sanitary Phyto Sanitary), persiapan di lapangan dan bimbingan dalam good handling practices (GHP). “Kita konektivitas dengan daerah dan petani. Untuk GAP (Good Agriculture Practices) ada di dinas dan GHP tugasnya pemerintah pusat,” katanya.

Strategi lain, lanjutnya, pemerintah membuat kebijakan Inline inspection yakni Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga penanganan pascapanen sehingga mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang akan diekspor.

Selanjutnya program I-Mace (Indonesian Maps of Agriculture Commodity Export) atau peta komoditas ekspor pertanian Indonesia guna mengetahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan negara tujuannya.

“Harapan kita dengan I-Mace bisa digunakan sebagai bahan kebijakan gubernur dan bupati untuk membangun pertanian di daerahnya. Misalnya dengan membangun kawasan sentra produksi pertanian yang berpotensi ekspor,” kata Ali Jamil.

Setrategi kelima yakni penerapan elektornik sertifikat (E-Cert), sehingga produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. "Jadi negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti. “Setelah semua Ok, barang bisa jalan. Jadi barang tidak akan ditolak di negara tujuan,” ujarnya.

Selain itu, menurut Ali Jamil, pemerintah juga terus mendorong pertumbuhan eksportir baru, diversifikasi produk ekspor melalui dua cara yakni mendorong ekspor produk setengah jadi dan jadi (produk turunan) dan mendorong produk baru.

Sementara itu eksportir produk pertanian dari PT Cakrawala Skyline Indah Gemilang Indah Sofiati mengakui sebelumnya mengalami kesulitan dalam perizinan, kini dengan bimbingan Badan Karantina Pertanian menjadi lebih mudah.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Perlu Hubungkan Riset Mobil Listrik di Kampus dengan Industri

NERACA Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan siap menghubungkan riset kendaraan bertenaga listrik yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada…

Penyerapan Beras Tahun Ini Diakui Tak Capai Target

NERACA Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan bahwa realisasi penyerapan beras petani hingga akhir tahun ini tidak…

INDI 4.0 Diharapkan Jadi Wadah Bangun Sinergi dan Kolaborasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian berharap Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) dapat menjadi wadah dalam membangun sinergi dan…