Genjot Kontribusi Ekspor dan Produktivitas Sektor Industri - Inovasi Litbang

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan (litbangyasa) yang dapat memacu produktivitas dan daya saing industri nasional. Hal ini diwujudkan melalui peran dan pelayanan teknis di balai-balai lingkungan Kemenperin, yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan industri saat ini.

Antara lain menggenjot ekspor dan substitusi impor, serta meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri. “Pemerintah terus mendorong terciptanya inovasi agar industri nasional dapat terus maju dan berdaya saing global. Langkah strategis ini sesuai program prioritas yang ada di dalam roadmap Making Indonesia 4.0,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Pada peta jalan implementasi industri 4.0 di Indonesia tersebut, inovasi memainkan peranan yang sangat penting. Bahkan salah satu aspirasi yang ingin dicapai adalah meningkatnya kegiatan litbang di dalam negeri, yang diharapkan didukung dengan porsi anggaran litbang yang proporsional, minimal 2% dari total anggaran nasional.

“Semakin meningkatnya peranan inovasi litbang diharapkan membantu mewujudkan misi Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030, yang ditandai dengan meningkatnya kontribusi net ekspor sektor industri sebesar 10% terhadap PDB dan peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat,” papar Ngakan.

Guna mencapai inovasi, diperlukan pemanfaatan teknologi terkini. Misalnya, yang sedang berkembang seiring bergulirnya industri 4.0, antara lain teknologi berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic, internet of things (IoT), 3D Printing, dan Augmented Reality/Virtual Reality (AR/VR).

“Kita harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi-teknologi tersebut sebagai momentum bahwa transformasi strategis ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, namun bisa memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemajuan industri nasional dan kemakmuran bangsa, sehingga tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Ngakan.

Oleh karena itu, pemerintah telah menetapkan lima sektor manufaktur yang mendapatkan prioritas pengembangan agar siap memasuki era industri 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri kimia, industri otomotif, serta industri elektronika.

“Selama ini, lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar 60% untuk PDB, kemudian menyumbang 65% terhadap total ekspor, dan 60% tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dalam mendukung implementasi industri 4.0 di Indonesia, BPPI Kemenperin terus berupaya membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya inovasi-inovasi di sektor manufaktur. Contohnya, BPPI Kemenperin telah membangun tiga unit mini showcase industri 4.0, yaitu Mocaf 4.0 di Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor, Vision 4.0 di Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) Bandung, dan Cacao 4.0 di Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) Makassar.

“Ketiga mini showcase itu akan terus disempurnakan agar masyarakat dapat melihat secara langsung simulasi penerapan industri 4.0. Fasilitas ini juga diharapkan dapat merangsang tumbuhnya inovasi-inovasi baru,” jelasnya. Inovasi-inovasi tersebut diyakini mampu mempercepat penguasaan teknologi berbasis industri 4.0 di Indonesia sekaligus semakin meningkatkan kapasitas inovator atau peneliti nasional.

Kepala BPPI menambahkan, pihaknya telah menyelenggarakan Bandung Riset Expo (Bandrex) 2019 sebagai sarana diseminasi informasi atas hasil litbangyasa yang telah dilakukan balai-balai Kemenperin. Melalui kegiatan Bandrex 2019 ini diharapkan dapat menghasilkan ide-ide dan inovasi konstruktif yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya dalam meningkatkan daya saing industri nasional. “Selain itu dapat memperkuat jalinan kerja sama yang baik di antara institusi litbang dan para pemangku kepentingan lainnya, serta terhadap masyarakat,” tuturnya.

Ngakan menyebutkan, ada lima unit BPPI di Bandung yang telah lama berkiprah dalam menciptakan inovasi dan riset yang dibutuhkan industri dan memberikan layanan teknis kepada masyarakat, yaitu Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM), Balai Besar Tekstil (BBT), Balai Besar Keramik (BBK), serta Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK). “Beberapa balai-balai tersebut bahkan telah hadir semenjak zaman Hindia Belanda. Banyak inovasi litbangyasa yang telah dihasilkan oleh balai-balai tersebut,” ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Tingkatkan Konsumsi Ikan, Lombok Barat Ditargetkan Bebas Stunting Pada 2024

NERACA Lombok Barat - Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup…

Bangun SDM Industri Kompeten, Kemenperin Dorong Kualitas Institut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya yang akan berperan di sektor…

Sang Gurita Octopus: Teknologi Berbisnis Era Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia semakin pesat dan memperlihatkan tren yang positif. Riset dari Google dan Temasek…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Perlu Hubungkan Riset Mobil Listrik di Kampus dengan Industri

NERACA Jakarta – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan siap menghubungkan riset kendaraan bertenaga listrik yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada…

Penyerapan Beras Tahun Ini Diakui Tak Capai Target

NERACA Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan bahwa realisasi penyerapan beras petani hingga akhir tahun ini tidak…

INDI 4.0 Diharapkan Jadi Wadah Bangun Sinergi dan Kolaborasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian berharap Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) dapat menjadi wadah dalam membangun sinergi dan…