Kinerja Kinclong, Saham MNCN Lebih Menarik Dikoleksi Dibanding SCMA

JAKARTA, Keberhasilan PT Media Nusantara Citra Tbk berekspansi di bidang digital tercermin dari pembukuan perseroan pada semester I/2019 dan mendorong saham perusahaan yang dipimpin Hary Tanoesoedibjo itu lebih menarik untuk dikoleksi dibandingkan dengan kompetitor di industrinya.

MNCN mencatat capaian pendapatan perusahaan dari iklan Rp 4,03 triliun, tumbuh 13,8 % secara year on year (yoy). Terkait iklan digital, pada semester I/2019, MNCN meningkat pesat hingga 318,9% menjadi Rp325,2 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp77,6 miliar. "Kalau dari sisi pendapatan cukup bagus untuk MNCN, pendapatannya mulai bergeser dari konvensional televisi ke produk-produk digital," ujar Pengamat Pasar Modal Teguh Hidayat baru-baru ini.

Sebagai perbandingan hingga pertengahan 2019, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengalami penurunan laba bersih 7,34% menjadi Rp782,48 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp844,47 miliar. Meski demikian, SCMA mencatat kenaikan pendapatan 6,91% menjadi Rp2,77 triliun dibandingkan dengan 2018, yaitu Rp 2,59 triliun.

Diketahui, penyebab turunnya laba SCMA akibat beban usaha yang naik 17,42% menjadi Rp 604,48 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 514,76 miliar. Teguh memperhatikan MNCN mengalami kenaikan lebih tinggi, karena MNCN memiliki lebih banyak konten-konten digital, sedangkan SCMA belum banyak mengembangkan produk ke digital."MNCN banyak masuk ke konten-konten digital, mungkin SCMA juga punya tapi saya belum [tahu]," katanya.

Mengacu pada kinerja kuartal I/2019, pendapatan iklan SCMA mencatat kontribusi Rp 1,47 triliun dan pendapatan lain-lain Rp 76,59 miliar. Namun, perusahaan mengalami potongan penjualan Rp 295,5 miliar yang menjadikan pendapatan bersih tercatat Rp 1,25 triliun. Teguh melihat price to earning ratio yang dimiliki MNCN jauh lebih rendah dibandingkan dengan SCMA, sehingga harga sahamnya jauh lebih murah. "Kalau secara valuasi, MNCN lebih murah, PE Ratio lebih rendah. SCMA lebih tinggi," katanya.

Berdasarkan data Bloomberg, price earning ratio MNCN 8,44, sedangkan SCMA 14,60 kali. Teguh mengatakan MNCN memiliki tiga segmen yang berpengaruh terhadap pendapatan bisnis perseroan, yaitu iklan televisi, layanan televisi berlangganan dan digital. "Karena MNCN banyak iklan digital jadi memang bagus sekali, meningkat signifikan dibandingkan iklan televisi itu sendiri," paparnya.

Hal ini terkait pola konsumsi masyarakat sudah mulai bergeser ke arah media digital, sehingga industri digital di Tanah Air akan terus bertumbuh ke depan. "Masa depan media itu adanya di media digital, Internet. Jadi, saya pikir MNCN lebih menarik," katanya.

Sebelumnya, Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyatakan MNC siap bersaing untuk menjadi pemenang, bahkan sebagai market leader di industri digital. Saat ini, MNC Media telah menunjukkan keberhasilannya di era digital. Produk-produk terobosan digital MNC mampu memberikan kontribusi yang besar pada pendapatan perusahaan berkode saham MNCN ini. "Tinggal diperbesar skalanya, saya rasa MNCN siap bersaing di digital," kata Hary.

Peningkatan pendapatan free-to-air (FTA) dan konten MNC yang mencapai 18% saat ini ditopang oleh digital revenue, produksi konten yang meningkat pesat, termasuk dari banyaknya produksi untuk pihak ketiga. Selanjutnya, juga dari non time consuming (NTC) advertising, atau iklan yang masuk di dalam program. (*)

BERITA TERKAIT

PT Jalan Setelah Hijrah Kembangkan Potensi Ekonomi Umat Melalui Tajir

Jakarta, Fenomena Hijrah diharapkan mampu mendongkrak pengembangan ekonomi syariah di Indonesia. Namun, mengandalkan perhatian pemerintah saja rasanya tak cukup. Gerakan swadaya…

Produk Kecantikan Ekstrak Rempah Indonesia Tembus Pasar Uni Eropa dan Singapura

Jakarta, Berkat ekstrak kayu cendana, daun nilam, kemangi, bunga jempiring, bunga mawar, melati, kamboja, kayu misoyi, buah adas, daun adas,…

Peluncuran Inovasi Terbaru GoFood

kiri ke kanan. Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita, Co-Owner Ban-Ban Wenny Chen, dan Chief Food Officer Gojek Group Catherine…

BERITA LAINNYA DI BERITA FOTO

BNI Syariah Fasilitasi Transaksi Saat Takjub Akbar 2020

Corporate Secretary Wardah, Novi Hendardi, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah DKI Jakarta, Rezza Arief Budy Artha, Co-Founder Tajir & Ketua…

BNI Syariah Fasilitasi Transaksi Saat Takjub Akbar 2020

Corporate Secretary Wardah, Novi Hendardi, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah DKI Jakarta, Rezza Arief Budy Artha, Co-Founder Tajir & Ketua…

OBLIGASI BERKELANJUTAN II PPRO

kiri ke kanan. Direktur Pengembangan Bisnis dan HCM PT PP Properti Tbk (PPRO) Nanang Siswanto, Direktur Keuangan Indaryanto, Direktur Utama…