Kemendag Akui Kinerja Ekspor Melambat - Walau Neraca Perdagangan Surplus

NERACA

Jakarta – Kendati Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Februari 2012 masih surplus hingga US$1,71 milliar, namun Kementerian Perdagangan mengakui peningkatan kinerja ekspor tersebut mengalami pelambatan dibanding peingkatan ekspor pada tahun lalu yang mencapai 29,1%.

“Hal ini mengindikasikan bahwa krisis global mulai berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia, namun kondisi ini bukan hanya Indonesia saja yang mengalami, tapi dialami juga oleh negara-negara lain,” ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di kantornya, Jakarta, Senin (2/4).

Lebih lanjut, Bayu menjelaskan, negara‐negara lain juga mengalami pelambatan ekspor selama Januari‐Februari 2012, antara lain China, Korea Selatan, Jepang, dan Brasil. Pertumbuhan ekspor China melemah dari 21,3% menjadi 6,9%, ekspor Korea Selatan turun dari 30,5% menjadi 5,6%, Jepang dari 15,5% menjadi 0,03%, dan Brasil dari 35,9% menjadi 7,0%.

Sementara BPS mencatat kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2012 mencapai US$15,65 miliar atau mengalami peningkatan tipis sebesar 0,49% dari Januari 2012 dan secara year on year (yoy) naik sebesar 8,54% dari Februari 2011. Sementara, untuk impor pada Februari 2012 mencapai US$14,95 miliar atau naik tipis 2,74% dari Januari 2012 dan secara yoy naik sebesar 27,26%. Neraca perdagangan Indonesia bulan Februari 2012 mengalami surplus dengan nilai US$692,8 juta. Sehingga, secara kumulatif neraca perdagangan Januari-Februari 2012 surplus US$1,71 milliar.

Diversifikasi Pasar

Untuk mengantisipasi fenomena global ini, Bayu menekankan pentingnya menggalakan program diversifikasi pasar ekspor ke pasar‐pasar non‐tradisional, seperti Afrika dan Amerika Latin. Seperti produk ekspor non‐migas Indonesia periode Januari 2012 semakin beragam. “Hal ini dapat dilihat dari peran 10 produk utama Indonesia yang semakin mengecil dari bulan yang sama tahun sebelumnya menjadi 47%,” terangnya.

Meskipun demikian, nilai ekspor 10 produk utama pada awal tahun 2012 mengalami kenaikan, kecuali karet dan produk karet serta kopi. Penurunan ekspor karet dipicu oleh turunnya produksi karet dan melemahnya permintaan pasar impor China terhadap produk karet Indonesia.

Untuk komoditas kopi, volume ekspor mulai turun sejak September. BPS mencatat ekspor kopi Indonesia pada Januari 2012 hanya sebanyak 15,4 ribu ton atau turun 56,6% dibanding Januari 2011. Penurunan ekspor ini disebabkan oleh menurunnya produksi kopi nasional. Tahun 2011 produksi kopi tercatat 633.900 ton, turun sekitar 7% dibandingkan produksi tahun 2010.

Sementara, beberapa produk seperti sawit, udang, dan alas kaki ekspornya tumbuh karena didorong oleh kenaikan harga di pasar internasional. Ekspor non‐migas Indonesia selama periode Januari‐Februari 2012 masih tetap didominasi oleh sektor industri, meskipun pertumbuhannya melambat hanya mencapai 3,3%. Sebaliknya, sektor pertambangan justru mengalami peningkatan yang pesat sebesar 7,2%, tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya.

Sedangkan untuk impor, Bayu mengungkapkan, selama Januari‐Februari 2012 mencapai US$29,5 miliar, naik 21,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan impor tersebut didorong oleh meningkatnya impor seluruh golongan barang. Struktur impor periode Januari‐Februari 2012 didominasi bahan baku/penolong yang mencapai US$ 21,3 miliar. Proporsi impor bahan baku/penolong menurun dari 74,7% pada Januari‐Februari 2011 menjadi 72,2% pada Januari‐Februari 2012.

Sebaliknya, lanjut dia, pangsa barang modal pada periode Januari‐Februari 2012 mengalami peningkatan menjadi sebesar 20,2%. Hal ini didorong oleh kenaikan impor produk Kendaraan Bermotor dan bagiannya, Besi dan Baja, dan Mesin dan Peralatan Mekanik. Sementara impor barang konsumsi turun dari 8% menjadi 7,7%. “Peningkatan impor barang modal dan bahan baku/penolong terjadi dalam rangka mendukung peningkatan investasi (PMA dan PMDN) 2011 yang tumbuh 20,5%,” jelas Bayu.

Related posts