Pemerintah Jamin Aman Ketersediaan Cabai di Pasar

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian Republik Indonesia menjamin ketersediaan cabai di tingkat pasar aman karena ada ratusan hektare tanaman cabai di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sedang panen dan hasilnya siap dijual ke Jakarta dan Sumatera.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI Prihasto Setiayanto mengatakan pihaknya memantau sentra-sentra produksi cabai, untuk mengetahui apakah stok cabai masih cukup atau tidak. "Setelah kami melalukan pemantauan di Sleman dan Kulon Progo, cabai merah keriting melimpah. Di lahan pesisir Kulon Progo seluas 600 hektare sedang panen. Artinya, ketersediaan cabai merah keriting cukup," kata Prihasto, disalin dari Antara di Jakarta.

Ia mengatakan di Kulon Progo terdapat pasar lelang cabai, yang masuk ke Jakarta. Harga cabai di pasar lelang cabai pada Selasa (6/8) mencapai Rp55 ribu per kilogram. "Meski cukup mahal, tetapi ketersediaan cabai tetap terjaga," katanya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan menginginkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian memperbaiki berbagai data terkait cabai agar dapat menjaga kestabilan harga karena harga komoditas tersebut di sejumlah daerah terpantau mengalami peningkatan. "Harusnya Kementan memperbaiki data supply and demand agar terjadi kestabilan harga dan barang," kata Daniel Johan.

Ia mengemukakan, Komisi IV DPR juga berencana untuk memanggil pihak Kementan guna mempertanyakan fenomena mahalnya harga cabai dan penyebab kurangnya produksi. Hal tersebut dinilai karena merupakan sebuah ironi di negeri agraris seperti Indonesia, kerap berulang terjadi krisis komoditas cabai. "Kami akan agendakan (pemanggilan). Agar perencanaan produksi bisa lebih tepat," kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut.

Di kesempatan terpisah, pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah juga mengamati minimnya produksi cabai membuat melonjaknya harga, baik di tingkat petani maupun pasar. Rahadiansyah berpendapat bahwa kasus minimnya produksi sektor pertanian yang kerap berulang seharusnya dapat diatasi melalui pembinaan kepada petani, serta penciptaan inovasi bibit-bibit unggul yang disesuaikan dengan kondisi alam di Indonesia, baik geografis maupun cuaca.

Menurut dia, lemahnya pembinaan dan dorongan kepada petani untuk terus meningkatkan produksi, menyebabkan kasus-kasus tersebut selalu berulang. Selain itu, masih menurut dia, kelemahan dari Kementan lainnya adalah dalam hal penciptaan inovasi bibit atau varietas yang unggul, yang seharusnya dapat dilakukan dengan meningkatkan kolaborasi dengan universitas-universitas yang memiliki Fakultas Pertanian.

"Padahal kebutuhan masyarakat dari tahun ke tahun terus meningkat. Belum lagi kebutuhan untuk ekspor. Harusnya Kementan punya varietas baru yang kompetitif di masa depan. Dan sudah bisa di prediksi masa depan bagaimana, kan bisa melalui riset unggulan. Lemahnya inovasi ini yang menyebabkan masalah pertanian terus berulang," jelasnya.

Penciptaan inovasi tersebut, lanjutnya, harusnya dapat disesuaikan dengan kondisi alam, potensi produk di masing-masing daerah. Sedangkan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih di lain kesempatan mengatakan, tingginya harga cabai memang terjadi karena sedikitnya stok.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto berpendapat bahwa hambatan produksi terjadi antara lain karena ada pengaruh sempat jatuhnya harga cabai beberapa waktu lalu sehingga membuat petani tidak memanen tanaman tersebut yang berdampak produksinya menjadi berkurang.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengingatkan perlu upaya untuk menjaga stabilitas harga cabai yang telah menjadi penyumbang inflasi pada Juni dan Juli 2019.

Menurut Eko komoditas cabai selalu mengalami kenaikan harga pada Juni maupun Juli karena musim kemarau telah menyebabkan berkurangnya panen cabai dan terbatasnya pasokan. "Selalu kenaikan harga cabai itu persentasenya tinggi bahkan bisa dua kali lipat," kata Eko.

Untuk itu, ia mengharapkan adanya upaya untuk menjaga pasokan secara berkelanjutan agar tidak terjadi fluktuasi harga komoditas yang merugikan petani maupun konsumen terutama pada bulan ketika panen cabai tidak optimal.

Menurut dia, manajemen distribusi tidak hanya soal transportasi atau angkutan komoditas karena juga terkait dengan teknologi penyimpanan cabai agar saat panen berlimpah kondisinya tetap awet dan dapat didistribusikan ketika harga naik. Sebelumnya, harga cabai merah di berbagai pasar tradisional sempat menyentuh angka Rp60.000 per kilogram untuk rata-rata nasional.

BERITA TERKAIT

Penilaian Peneliti - Waspadai Potensi Ketergantungan Impor Energi di Kawasan ASEAN

NERACA Jakarta – Peneliti dan Analis Energi dari The Economist Intelligence Unit (EIU) Peter Kiernan menyoroti potensi semakin ketergantungannya sumber…

Masuk Jalur Distribusi Ritel Modern, Bulog Harus Jaga Kualitas Beras

NERACA Jakarta – Rencana Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk mendistribusikan beras serapannya melalui jalur ritel modern merupakan sebuah inovasi yang…

Komoditas - Harga Nikel Untuk Pasar Domestik Disepakati US$30 Per Metrik Ton

NERACA Jakarta – Pemerintah dan pengusaha sepakat untuk menetapkan harga jual nikel untuk diserap di dalam negeri sebesar 30 dolar…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penilaian Peneliti - Waspadai Potensi Ketergantungan Impor Energi di Kawasan ASEAN

NERACA Jakarta – Peneliti dan Analis Energi dari The Economist Intelligence Unit (EIU) Peter Kiernan menyoroti potensi semakin ketergantungannya sumber…

Masuk Jalur Distribusi Ritel Modern, Bulog Harus Jaga Kualitas Beras

NERACA Jakarta – Rencana Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk mendistribusikan beras serapannya melalui jalur ritel modern merupakan sebuah inovasi yang…

Komoditas - Harga Nikel Untuk Pasar Domestik Disepakati US$30 Per Metrik Ton

NERACA Jakarta – Pemerintah dan pengusaha sepakat untuk menetapkan harga jual nikel untuk diserap di dalam negeri sebesar 30 dolar…