Sosiologi Manajemen Risiko

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Analisis IMF, Bank Dunia, dan Pemerintah negara-negara di dunia acap kali tidak melakukan analisis sosiologis terhadap krisis perbankan. Di zaman Orde Baru misalnya tidak ada gubernur Bank Indonesia yang berlatar belakang sosiologi. Kajian Bank Indonesia tentang krisis perbankan di Indonesia tak pelak lagi kering akan pendekatan sosiologi. Seperti halnya moneter dan tentunya perbankan yang dapat dianalogikan dengan tubuh manusia seperti jantung dan pembuluh darah maka di Inggris Herbert Spencer (1876) mempublikasikan Sociology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.

Spencer memang tukang khayal namun justru mampu menjadi pola pikir dari teori Sosiologi itu sendiri. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah.

Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 18 juta penduduk yang menganggur dari 20 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi. Begitu pula dengan manajemen risiko, jika hanya ada satu bank yang bangkrut karena manajemen risiko yang buruk tentu berbeda halnya dengan adanya kebangkrutan dari 50 bank dari 500-an bank yang ada. Pendekatan khayalan ini akan semakin lengkap daya analisisnya jika dibarengi oleh pendekatan lainnya misalnya realitas sosial.

Realitas sosial adalah pengungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif. Ilmu sosiologi itu sendiri menggunakan manajemen risiko sebagai salah satu pengetahuannya. Ini yang menarik dari pendekatan sosiologi. Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya.

Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia. Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara pada masa yang akan datang.

Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat memengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya. Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut.

Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi. Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul.

Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam ilmu sosiologi. Dengan demikian akan lebih ideal jika setiap bank juga memiliki ahli sosiologi dalam konteks memperkuat kelembagaan manajemen risiko di bank tersebut. Pendekatan sosiologi yang akan membahas kekuatan hukum dan rusaknya moral pemimpin bank dan regulator bank tidak akan dapat dibahas dalam buku-buku manajemen risiko yang ada saat ini.

Perbaikan moral pimpinan Bank Indonesia tidak bisa dilakukan hanya dengan membangun rumah ibadah di Bank Indonesia. Dan tidak dapat dijamin, pimpinan Bank Indonesia yang rajin ke rumah Ibadah juga dengan sendirinya akan memiliki tingkatan moral yang lebih baik. Sebagai tanggapan terhadap kritik yang dikembangkan atas fungsionalisme, sehingga mulai muncul perspektif sosiologi hukum lainnya. Sosiolog kritis, mengembangkan perspektif hukum sebagai instrumen kekuasaan.

Sedangkan, ahli teori sosiologi hukum lainnya, seperti Philip Selznick misalnya, berpendapat bahwa hukum modern menjadi semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan harus dilakukan pendekatan moral. Filsuf sosial Jürgen Habermas tidak setuju dengan Luhmann dan berpendapat bahwa hukum dapat berfungsi lebih baik sebagai 'sistem' institusi dengan menunjukkan kepentingan keseharian masyarakat dalam konteks moralitas.

Selain itu, teori sosiologi tentang hukum dan pengacara lainnya diajukan oleh Pierre Bourdieu dan pengikutnya, yang melihat hukum sebagai bidang sosial di mana aktor memperjuangkan 'modal budaya', 'modal simbolis' dan ekonomi, yang dengan demikian juga mengembangkan 'ranah' profesional reproduksi para pengacara. Di beberapa negara benua Eropa penelitian empiris dalam sosiologi hukum berkembang luas dari tahun 1960-an hingga 1970-an. Tak dipungkiri bahwa penerapan manajemen resiko memerlukan panduan dari teori sosisologi yang berorientasi pendekatan hukum dan sekaligus juga perbaikan moral dalam manajemen perbankan beserta regulatornya.

BERITA TERKAIT

Komitmen Jokowi Memperkuat KPK

Oleh : Nova Manurung, Pengamat Masalah Sosial Politik   Sikap Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) terkait KPK dipertanyakan, terlebih kini…

Virtual Office sebagai Tempat Pengukuhan PKP

  Oleh: Devitasari Ratna Septi  Aningtiyas, PNS Ditjen Pajak Kemenkeu Pengusaha Kena Pajak yang selanjutnya disebut dengan PKP adalah pengusaha…

Swasembada Bawang Putih Bukan Ilusi

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Kebutuhan bawang putih konsumsi nasional sekitar 550.000 ton hingga…

BERITA LAINNYA DI OPINI

E-Commerce Dukung UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Ika Puspita Karyati, Staf Pusdiklat Keuangan Umum BPPK, Kemenkeu   Kita telah memasuki era digital, dimana semua hal memungkinkan…

Memilih Menteri Merupakan Hak Prerogatif Presiden

  Oleh : Rendi Alfiansyah, Pengamat Masalah Sosial Politik   Pemilu 2019 telah usai, masyarakat-pun mulai menerka – nerka siapa…

Menelisik Sosok Firli, Ketua KPK yang Baru

  Oleh : Dwi Ayu, Pemerhati Sosial Politik   Irjen Pol. Firli Bahuri, menjadi satu – satunya calon pimpinan KPK…