Gaji Pegawai Dipangkas Demi Kompensasi PLN - POLISI TERUS BEKERJA CARI PENYEBAB “BLACKOUT”

Jakarta-Manajemen PT PLN (Persero) akhirnya memutuskan akan memotong gaji pegawainya, untuk menutupi kompensasi atas pemadaman listrik (blackout) 10 jam lebih yang terjadi pada Minggu (4/8). Menurut perhitungan PLN, besaran kompensasi yang harus dikeluarkan kepada pelanggan mencapai Rp 865 miliar. Sementara itu, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi terkait padamnya listrik di Jabodetabek dan beberapa wilayah lainnya di Jawa.

NERACA

Direktur Pengadaan Strategis II PT PLN (Persero) Djoko Raharjo Abumanan mengatakan, PLN tidak mengambil dari biaya subsidi APBN tetapi berasal dari dana perusahaan dan penghematan pengeluaran perusahaan. "Iya makanya harus hemat nanti," ujarnya di DPR, Selasa (6/8).

Menurut dia, salah satu pengeluaran yang bisa di rem adalah memotong pendapatan pegawai. Hal ini menjadi pilihan, karena besaran gaji diberikan berdasarkan kinerja pegawai. Namun dia belum bisa menyebutkan besaran potongan gaji. "Gaji pegawai kurangi, karena gini di PLN itu namanya merit order, kalau kerja tidak bagus potong gaji," ujarnya.

Djoko mengungkapkan, gaji yang dipotong bukan gaji dasar, tetapi gaji berupa tunjangan berdasarkan prestasi yang telah dicapai, potongan tersebut akan diberlakukan untuk semua pegawai. "Namanya T2 nya diperhitungkan, jadi gini PLN ada tiga (jenis gaji), T1 gaji dasar, T2 kalau prestasi dikasih, kalau kayak gini nih kena semua pegawai," ujarnya.

Secara terpisah, Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan memanggil PT PLN (persero) terkait insiden pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Jawa Barat, DKI, dan Banten selama 9 jam. Akibat kejadian tersebut, pihaknya menerima banyak aduan dari masyarakat yang merasa dirugikan.

Direktur Bisnis Regional Perusahaan Listrik Negara (PLN) Jawa Bagian Barat, Haryanto WS, mengaku sudah menyelesaikan hitung-hitungan terkait kompensasi yang akan diberikan kepada masyarakat akibat insiden listrik padam terjadi di wilayah Jawa Barat, DKI dan Banten pada Minggu lalu. Secara total dari jumlah pelanggan yang terdampak jumlah ganti rugi yang diberikan PLN yakni mencapai ratusan miliar rupiah.

"Jumlah pelanggan yang terdampak yang kami hitung adalah sekitar 22 juta pelanggan di Jawa barat DKI dan Banten, dan itu sudah kami mulai hitung mengenai kompensasinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, kurang lebih Rp865 miliar," ujarnya seperti dikutip merdeka.com, kemarin. "Dan insya Allah nanti kita akan langsung berikan kompensasi itu pada rekening Agustus yang dibayarkan bulan September," tutur dia.

Hariyanto menyampaikan kompensasi yang diberikan pihaknya sesuai dengan tingkat mutu pelayanan (TMP). Di mana, dalam hal ini tidak dihitung berdasarkan lamanya gangguan melainkan yang dikenakan TMP adalah apabila melampaui di atas 10%. "Jadi begitu melampaui 10% kita langsung bayar kompensasinya. Jadi aturannya tidak berdasarkan lamanya padam. Tapi bila melampaui 10% dari TMP itu akan dibayar kompensasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku" jelasnya.

Adapun anggaran yang akan digunakan untuk kompensasi tersebut merupakan murni dari perusahaan. Baik itu, melalui kas perseroan maupun menggunakan dana belanja modal untuk tahun ini atau capex.

Di samping itu, dia menambahkan untuk kondisi listrik di daerah yang telah berdampak sebelumnya kini sudah kembali normal. Dia berharap, kejadian ini tidak akan terulang kembali. "PLN tetap siaga mengantisipasi segala kemungkinan listrik yang sudah menyala ini tidak terjadi gangguan berikutnya baik lokal maupun sistem yang besar yang lain," ujarnya.

Dirjen PKTN Kemendag Veri Anggrijono, menegaskan bahwa pihak PLN wajib melaporkan per tiga bulan mengenai kompensasi yang berlangsung. "Kami mewakili Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga perniagaan menindaklanjuti laporan-laporan masyarakat terhadap terhadap masalah pemadaman listrik kemarin," katanya.

Sebelumnya, kompensasi akan diberikan PLN sebesar 35% dari biaya beban untuk konsumen dengan golongan tarif adjustment. Juga, sebesar 20% dari biaya beban untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik (non adjustment). Penerapan ini diberlakukan untuk rekening bulan berikutnya.

Bagi pengguna prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan untuk tarif listrik reguler. Pemberian kompensasi akan diberikan pada saat pelanggan membeli token berikutnya (prabayar). PLN menyiapkan Rp 865 miliar kompensasi yang akan diberikan kepada konsumen.

Periksa Saksi

Pada bagian lain, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang terkait padamnya listrik di Jakarta dan beberapa wilayah lainnya di Jawa. Masyarakat Jakarta dan beberapa wilayah lainnya di Jawa, merasakan padamnya listrik pada Minggu (4/8). "Sudah ada sementara empat orang saksi atau petugas," ujarnya di Bareskrim Polri, kemarin.

Empat orang saksi yang telah diperiksa oleh pihaknya itu untuk mengetahui penyebab pasti padamnya listrik yang sampai beberapa hari lalu. "Ini belum diminta keterangan secara projustisia ya baru interview dan wawancara, untuk mengetahui penyebab utama terjadinya black out salah satu faktor penyebabnya yang ditemukan," ujarnya.

Dedi pun memastikan, padamnya listrik diduga karena adanya faktor alam dan bukan karena adanya sabotase seperti pada tahun 2012 silam. Hal itu diketahui hasil pemeriksaan sementara petugas di lapangan. "Dari hasil keterangan yang diberikan petugas UPT Ungaran tim langsung turun ke TKP yang berada di tower transmisi 434 dan 435, sudah di-police line oleh petugas, di Desa Malon, Kecamatan Gunung Jati," ujarnya.

Menurut dia, pohon yang diduga menjadi faktor padamnya listrik telah melebihi batas maksimal yang mencapai 8,5 meter. "Kalau misalnya di atas 8,5 meter akan terjadi flash atau lompatan listrik bisa mengganggu jalur transmisi tersebut. Namun demikian, tim pusat baik dari Bareskrim maupun PLN akan melakukan investigasi secara komprehensif terkait asalah kejadian blackout," ujarnya.

Polda Jawa Tengah menyampaikan penyebab mati listrik massal di Jabodetabek dan separuh Pulau Jawa diduga ditengarai oleh pohon sengon di daerah Ungaran. Saat ini, polisi masih mencari pemilik pohon tersebut. “Masih diselidiki pemiliknya,” kata Kabid Humas Jawa Tengah, Kombes Pol Agus Triatmaja seperti dikutip kumparan, Selasa (6/8).

Meski demikian, Plt Dirut PT PLN (Persero) Sripeni Inten Cahyani memastikan, penyebab utama listrik padam di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten bukan karena pohon. Seperti diberitakan sebelumnya, pohon dengan tinggi lebih kurang 8,5 diduga mengganggu aliran listrik yang mengakibatkan terjadinya pemadaman di sejumlah wilayah.

"Jadi kalau persoalan pemadaman kemarin (pohon) itu bukan penyebab kita jadi mohon izin berikan kami waktu untuk melakukan investigasi untuk melakukan assesement menyeluruh," ujarnya saat ditemui di DPR, kemarin. bari/mohar/fba .

BERITA TERKAIT

Kemenhub Diminta Kembangkan Logistik Dukung Pertumbuhan

NERACA Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersungguh-sungguh mengembangkan transportasi logistik guna mendukung…

Wapres : RUU Pertanahan Berpihak Pada Semua Unsur

NERACA Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menegaskan rancangan undang-undang (RUU) tentang pertanahan dibuat untuk kepentingan semua pihak, baik…

Perluasan Posisi TKA Perlu Diikuti Transfer Pengetahuan

  NERACA Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai perluasan posisi atau jabatan tenaga kerja asing dalam sektor-sektor industri terutama…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

UPAYA MENARIK INVESTOR DATANG KE INDONESIA - “Omnibus Law” Pangkas Aturan Penghambat

Jakarta-Pemerintah siap menerbitkan omnibus law yang akan menjadi payung hukum menyatukan semua peraturan menjadi satu undang-undang (UU). Skema ini diterapkan…

DAMPAK SERANGAN DRONE KE KILANG ARAB - Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Minyak Dunia

    NERACA Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah mewaspadai kenaikan harga minyak dunia sebagai imbas…

DIALOG KEPALA NEGARA DENGAN KALANGAN PENGUSAHA - Presiden: Ancaman Resesi 1,5 Tahun ke Depan

Jakarta-Presiden Jokowi terus mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan berhati-hati menghadapi ancaman resesi ekonomi dalam 1-1,5 tahun ke depan. Karena, menurut…