Kedelai Atasi Alergi Anak

Formula isolat protein kedelai menjadi pilihan rasional untuk mengatasi alergi susu sapi pada anak

NERACA

Dirancang khusus untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi anak, formula isolat protein kedelai terbukti secara klinis menunjang pertumbuhan anak secara optimal setara dengan susu sapi.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Lasekan JB dkk pada tahun 1999 menunjukkan bahwa pertumbuhan (Berat Badan, Panjang Badan dan Lingkar Kepala) yang normal dan setara pada kedua kelompok bayi yang mengkonsumsi formula isolat protein kedelai dan formula susu sapi.

Dalam proses tumbuh kembangnya, anak memerlukan nutrisi untuk menunjang kemampuan otak dan daya tahan tubuh mereka. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. Susu merupakan sumber gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat mencerna makanan padat. Susu kaya akan kandungan makro dan mikro nutrien yang diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Namun pada beberapa tahun terakhir ini terdapat peningkatan angka kejadian alergi susu sapi pada bayi dan anak dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari ringan sampai berat. Alergi Susu Sapi adalah suatu reaksi yang tidak diinginkan yang diperantarai secara imunologis terhadap protein susu sapi.

ASS biasanya dikaitkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe satu yang diperantarai oleh IgE. Walaupun demikian ASS dapat diakibatkan oleh reaksi imunologis yang tidak diperantarai oleh IgE ataupun proses gabungan antara keduanya.

ASS yang merupakan kasus yang sering dijumpai pada anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia seharusnya tidak menjadi penghalang pertumbuhan anak bila dilakukan tata laksana yang tepat.

"Angka kejadian ASS sekitar 2-7.5% dan reaksi alergi terhadap susu sapi masih mungkin terjadi pada 0.5% pada bayi yang mendapat ASI eksklusif. Sebagian besar reaksi ASS diperantarai oleh IgE dengan angka kejadian 1.5%, sedangkan sisanya adalah tipe non-IgE. Gejala yang timbul sebagian besar adalah gejala klinis yang ringan sampai sedang, hanya sedikit 0.1-1% yang bermanifestasi klinis berat."

Alergi protein susu sapi merupakan penyebab tersering alergi makanan dan dikenal sebagai alergen universal. Keadaan ini menyebabkan ketidaknyamanan dan kecemasan. ASS merupakan reaksi simpang terhadap protein susu sapi casein dan whey yang dimediasi secara imunologis.

Dokter spesialis anak konsultan alergi imunologi dari RSCM Jakarta dalam Media Edukasi, Dr.dr.Zakiudin Munasir, SpA(K) Sabtu, 31/03, mengatakan, ASS yang dimediasi IgE lebih mudah didiagnosis sedangkan yang dimediasi non-IgE kadang reaksinya lambat, sulit didiagnosis karena gejalanya tidak spesifik dan tidak ada tes yang spesifik.

“Alergi akibat protein susu sapi dan semua produk turunannya (baik dalam bentuk susu, es krim, keju atau kue) bisa menetap sampai akhir masa kanak - kanak. Oleh karena itu orang tua harus mewaspadai hal ini” himbaunya.

Sejak tahun 2010, Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan rekomendasi penanganan Alergi Susu Sapi (ASS), yaitu :

1. Untuk bayi dengan ASI ekslusif, eliminasi protein susu sapi pada diet ibu selama 2-4 minggu, dan ibu dianjurkan tetap mengkonsumsi supplemen kalsium.

2. Untuk bayi yang tidak mendapatkan ASI atau mengkonsumsi susu formula, diberikan susu hipoalergenik (susu terhidrolisis ekstensif atau susu formula asam amino). Apabila susu formula terhidrolisis ekstensif atau asam amino tidak tersedia, maka bayi diatas enam bulan dapat diberikan formula berbahan dasar isolat protein kedelai.

Dengan mempertimbangkan rasa formula isolat kedelai yang disukai anak, harga yang lebih terjangkau, dan komposisi nutrisi yang juga dapat menunjang pertumbuhan anak, pemberian formula berbahan dasar isolat protein kedelai dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi ASS, demikian dikatakan oleh dr. Zakiudin lebih lanjut.

Prof. Dr. Lee Bee Wah, seorang Associate Professor yang merupakan konsultan pediatrik Alergi dan Imunologi Klinik di Departemen Pediatrik National University Hospital (NUH) Singapura dalam membagi pengalaman klinisnya, ia mengatakan, “Konsensus Australia merekomendasikan formula isolat kedelai sebagai pilihan pertama pada bayi usia di atas enam bulan.”

Formula isolat kedelai direkomendasikan sebagai pilihan pertama pada bayi di atas 6 bulan yang mengalami reaksi makanan segera atau gejala saluran cerna atau gagal tumbuh. “Namun demikian di Singapura formula isolat kedelai direkomendasikan untuk usia di bawah enam bulan dengan alasan bahwa bukti menunjukkan pengenalan dini formula isolat kedelai pada periode neonatal tidak memprovokasi alergi kedelai.”

Menurutnya, alergi kedelai bukan merupakan masalah yang utama. Selain itu, mengingat masalah biaya dan rasa, panduan ASS di Singapura menyatakan akan lebih bijaksana untuk mencoba memberikan formula isolat kedelai sebelum memberikan formula hidrolisat, dijelaskan Prof.Lee Bee Wah.

Isolat protein kedelai merupakan makanan asli Asia yang sejak jaman dahulu telah banyak dikonsumsi baik dalam bentuk tahu, kecap, tempe maupun formula isolate kedelai. Sejak penggunaan pertama kali untuk mengatasi alergi susu sapi kira-kira 75 tahun yang lalu, formula isolat protein kedelai banyak digunakan di seluruh dunia untuk membantu anak-anak mengatasi ASS yang dialaminya.

Related posts