Menghirup Keuntungan Dari Mengelola Sampah

Sabtu, 07/04/2012

NERACA

Realitas bila meningkatnya jumlah penduduk dalam ruang hidup yang konstan, menyebabkan volume sampah kian bertambah memang tak terbantahkan. Kalkulasi Dinas Kebersihan DKI Jakarta, bahkan menyebutkan bila setiap orang akan menghasilkan rata-rata 1-2 kg sampah tiap hari. Nah bila penduduk Indonesia sekitar 200 juta orang, maka jumlah sampah yang menumpuk setiap hari mencapai 400.000 ton. Fantastis.

Problem sampah memang wajib ditanggapi cepat dan serius, agar tidak menimbulkan masalah lebih kompleks dikemudian hari. Dan tentunya pengolahan sampah bukanlah pekerjaan pemerintah saja, namun perlu dukungan dari setiap lapisan masyarakat.

Baca juga: Berawal dari Iseng, Raup Omzet Puluhan Juta - Anaya Hijab

Kebiasaan dan perilaku masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah perlu segera diperbaiki. Selama ini masyarakat membuang begitu saja sampah ke tempat-tempat sampah lalu menyerahkan urusannya ke petugas kebersihan dan menganggap urusan selesai sampai disitu saja. Padahal dengan terus menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan menjadi problem tersendiri, yakni problem kesehatan, pencemaran dan keindahan lingkungan.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang, sebelum membuang sampah kita perlu melakukan 4M (Memilah, Menghemat, Memakai ulang dan Mendaur ulang). Dengan memilah sampah, baik dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik ataupun dengan lebih spesifik memisahkan antara sampah plastik, kertas, kaleng, dan kaca akan membuat kita lebih sadar akan jumlah sampah yang kita hasilkan setiap hari dan tentunya juga memudahkan pengolahan sampah ditahap selanjutnya.

Baca juga: Waow Rp 40 Juta Perbulan dari Jamur

Ada cara pengolahan sampah organik maupun anorganik yang dapat menghasilkan uang. Khusus pengolahan sampah organik, baik menjadi kompos atau kerajinan tangan. Keuntungan dari pengolahan sampah organik menjadi kompos tak hanya untuk mengurangi jumlah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan saja, tetapi juga dapat menyediakan lapangan pekerjaan, menyediakan pupuk organik berkualitas tinggi kepada para petani dengan harga terjangkau, menanggulangi kelangkaan pupuk dan lahan kritis, mencegah pemanasan global dan mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional berbasiskan pertanian organik.

Baca juga: Tumbuh Subur dari Kreasi Taman Mini

Meracik Sampah

Sampah organik adalah jenis sampah yang mudah terurai. Sampah jenis ini mencapai 60-70% dari total volume sampah yang ada di Indonesia. Sampah organik pun terbagi atas dua macam, yaitu sampah organik basah, sampah yang mempunyai kandungan air yang tinggi, misalnya buah dan sayuran dan sampah organik kering, yakni sampah yang mempunyai kandungan air yang sedikit di banding sampah organik basah, misalnya kertas, ranting pohon dan dedaunan.

Selain dijadikan kompos, sampah organik juga dapat dijadikan berbagai kerajinan tangan. Dengan menggunakan bahan organik sisa hasil industri pertanian misalnya, kita dapat mengolah kulit jagung menjadi bunga hiasan rumah juga batok kelapa dan eceng gondok menjadi tas. Banyak pula kerajinan tangan yang bisa dihasilkan dengan menggunakan kulit kerang atau kulit ikan, semuanya tergantung kreativitas dari masing-masing orang.

Baca juga: Menyapu Rezeki Dari Jasa Cleaning Service

Begitupun dengan konsep sampah menjadi tenaga listrik. Sampah perkotaan yang organik yang dapat dikonversi menjadi energi melalui sejumlah proses pengolahan. Dengan atau tanpa oksigen yang bertemperatur tinggi, sampah-sampah diproses menghasilkan energi listrik, gas, energi panas dan dingin.

Pemanfaatanbiomass dari sampah sebagai sumber energi listrik seperti ini telah diakui olehpakar sebagai energi terbarukah yang ramah lingkungan. Penerapan biomassa dianggap telah sesuai dengan mekkanisme pembangunan bersih dan berkurangnyajumlah emisi.

Baca juga: Kenali Risiko dari Sebuah Investasi

Seperti halnya dibanyak negara, Indonesia pun telah mengaplikasikan sumber energi listrik ini untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Penelitian dan pengembangannya terus diteliti dan dikembangkan oleh lembaga institusi maupun kelompok-kelompok riset. Hanya saja, solusi sumber energi listrik alternatif berbasis sampah tersebut tetap memiliki kelemahan yang masih menyulitkan pemerintah untuk menerapkannya secara massal.

Masalah pertama adalah sumber sampah yang masih terbatas sehingga energi yang dihasilkan tidak mampu menjadi sustainable. Masalah kedua yang terjadi adalah limbah yang dibutuhkan untuk menghasillkan listrik dalam kapasitas tinggi membutuhkan volume yang sangat besar (50 ton sampah untuk 1 MW) akan menimbulkan bau yang menyebabkan masyarakat yang berada di sekitarnya merasa tidak nyaman.

Baca juga: Kurikulum Tepat Keuntungan Berlipat - Berbisnis di Sektor Pendidikan

Masalah yang kedua merupakan masalah yang seringkali membuat pemerintah sulit untuk merealisasikan pembangkit listrik tenaga sampah dikarenakan penolakan yang dilakukan masyarakat yang tinggal di tempat tersebut.

Hingga saat ini, belum ditemukan solusi dan metode yang dapat menangani masalah agar keberadaan pembangkit listrik tenaga sampah dapat diterima masyarakat. Berdasarkan kondisi ini, pembangkit listrik tenaga sampah belum bisa untuk diterapkan untuk didirikan di daerah perkotaan, namun untuk masyarakat pedesaan yang berada disekitar kota menjadi peluang yang baik untuk direalisasikan.

Baca juga: Mereguk Untung dari Bisnis Hewan Kurban - Momen Lebaran Qurban

Agar ide pembangkit listrik tersebut dapat tepat guna bagi masyarakat pedesaan dan tidak menganggu lingkungan kehidupan masyarakat desa, maka pembangkit listrik tenaga sampah hanya digunakan untuk memberi penerangan dijalan lintas desa ke kota, dan antar desa.

Pembangkit ini membangkitkan listrik dengan kapasitas yang lebih rendah (ditargetkan sebesar 10 kW) sehingga memerlukan sampah dengan tingkat penggunaan tidak menganggu lingkungan masyarakat pedesaan (sekitar 500 kg sampah dalam 1 siklus pengolahan).

Baca juga: Mencari Ide Bisnis dari Ahlinya

Dengan penerangan dari pengelolaan sampah meskipun skala kecil, namun diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat seperti peningkatan volume perdagangan antar desa, mengurangi tindak kriminalitas di jalan, memberikan akses perdagangan di sekitar jalan, mengurangi angka pengangguran bagi masyarakat desa, dan memberikan pasokan listrik bagi masyarakat pedesaan di sekitar jalan sembari menyelesaikan permasalahan sampah yang melanda masyarakat perkotaan, sebuah keuntungan yang dapat dipetik dari pengelolaan sampah yang bijak.

Baca juga: Mendulang Rupiah dari Berkah Hari Kemerdekaan