Lesunya Bisnis Properti Tekan Penjualan APLN

NERACA

Jakarta – Lesunya bisnis properti menjadi tekanan terhadap pencapaian kinerja keuangan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Dimana emiten properti ini mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp1.95 triliun dalam semester awal ini atau turun dari priode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,49 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, perseroan mencatatkan marketing sales Rp 884,4 miliar atau turun sekitar 60,5% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,42 triliun.Salah satu kontributor marketing sales perusahaan pada semester I-2019 adalah poyek Podomoro Gold View dan Podomoro Park Bandung menjadi kontributor terbesar mencapai 50% dari total marketing sales.

Disebutkan pula, pendapatan berulang pada semester I tahun ini turun menjadi Rp628,6 miliar, dari yang tahun 2018 sebesar Rp691,1 miliar. APLN juga bukukan laba kotor sebesar Rp921,8 miliar. Raihan ini turun 17,5 persen dari Rp1.117,1 miliar pada semester awal tahun 2018. Meski begitu, laba bersih APLN pada semester I-2019 tercatat sebesar Rp 143,38 miliar, naik 132% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 61,80 miliar.

Melemahnya kinerja keuangan APLN, menjadi alasan bagi lembaga peringkat internasional, Moody's Investors Service menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk menjadi B2 dari sebelumnya B1. Pada saat yang sama, Moody's juga menurunkan peringkat senior notes yang akan jatuh tempo pada 2024 yang diterbitkan oleh anak usaha Agung Podomoro Land, APL Realty Holdings Pte. Ltd. menjadi B2 dari B1. Adapun outlook peringkat tersebut diubah menjadi under review for downgrade dari sebelumnya negatif.

Kata Moody's Vice President and Senior Credit Officer, Jacintha Poh,perubahan peringkat itu merefleksikan ketidakpastian Agung Podomoro Land untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Selain itu, keuangan perusahaan juga dinilai kurang fleksibel karena terbebani oleh investasi properti, termasuk hotel.”Penurunan peringkat mencerminkan lemahnya manajemen keuangan Agung Podomoro Land dan proyeksi kami bahwa kinerja operasional perusahaan tidak meningkat pada 2019,"ujarnya.

Pada Mei 2019, Agung Podomoro Land memperoleh fasilitas pinjaman berjangka untuk melunasi obligasi senilai Rp1,3 triliun yang jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Perusahaan menggunakan sebagaian dari fasilitas pinjaman untuk membiayai kembali pinjaman obligasi senilai Rp750 miliar yang jatuh tempo pada 6 Juni 2019.

Menurut Moody's, ketersediaan dana APLN untuk membayar kembali sisa obligasi Rp550 miliar dengan perincian Rp491 miliar jatuh tempo pada Desember 2019 dan Rp99 miliar jatuh tempo pada Maret 2020, sekarang tidak pasti.Risiko pembiayaan kembali APLN diperburuk oleh fasilitas sindikasi senilai Rp1,3 triliun yang jatuh tempo. Saat ini, APLN belum menyampaikan rencana refinancing yang konkret.

Moody's memperkirakan metrik kredit Agung Podomoro Land akan tetap lemah selama 12-18 bulan ke depan. Hal itu sejalan dengan risiko sulitnya perseroan untuk mencapai target marketing sales Rp3 triliun pada 2019 dan 2020, serta merampungkan penjualan lahan industri di Podomoro Industrial Park Karawang senilai Rp2,5 triliun.

BERITA TERKAIT

Ketika Mimpi Itu Terwujud Sebelum Ada Penyesalan

Hambali (58) hanya bisa meratapi masa pensiunnya dengan penuh penyesalan karena di usianya yang sudah tidak lagi muda belum memiliki…

Pelaksanaan IPO Dilanjutkan - Nara Hotel Apresiasi Hasil Keputusan OJK

NERACA Jakarta – Berdasarkan keputusan akhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap kisruh gagalnya penawaran umum saham perdana atau initial public…

Targetkan IPO Semester I 2020 - Bank DKI Menunggu Momentum Tepat

NERACA Jakarta – Wacana lama PT Bank Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Bank DKI) mencatatkan saham perdananya di pasar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Terlibat dalam Perjanjian Kontrak - Peran Penegak Hukum Bakal Ganggu Iklim Investasi

Keterlibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kegiatan investasi membuat ketidakpastian dalam berusaha. Kalangan investor menjadi tidak nyaman,  seperti kasus PT…

BEI Beri Sanksi Suspensi 19 Emiten - Melalaikan Kewajiban Biaya Pencatatan Tahunan

NERACA Jakarta – Musim laporan kinerja keuangan emiten menjadi momentum yang ditunggu para analis dan juga investor untuk memetakan investasi…

Ditopang Pondasi Bisnis Kuat - BTN Optimis Bakal Raup Laba Rp 3 Triliun

NERACA Jakarta -PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyampaikan optimistis akan meraup laba Rp3 triliun dengan berbagai bauran strategi…