Kenaikan BBM Masih Mengancam Kinerja Emiten - Meskipun Ditunda

Neraca

Jakarta – Kepastian pemerintah menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tetap akan memberikan efek negatif terhadap kinerja emiten dan perekonomian nasional. Pasalnya, penundaan kenaikan BBM selama ini hanya masalah waktu.

Analis pasar modal dari MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, kinerja emiten dinilai akan terpengaruhterhadap rencana kenaikan harga BBM, kendatipun ditunda, “Ini kan hanya masalah waktu saja, partai koalisi minus PKS berlindung pada ayat abu-abu," katanya di Jakarta, kemarin

Menurut Edwin, disahkannya pasal 7 ayat 6A RUU APBN-Perubahan 2012, maka pemerintah berwenang melakukan penyesuaian BBM dengan catatan apabila harga rata-rata minyak mentah dunia mengalami deviasi lebih 15% dalam enam bulan terakhir.

Dia menuturkan, kondisi ini akan menghantam kinerja emiten-emiten yang berkaitan langsung dan tidak langsung terhadap kenaikan harga energi tersebut. Emiten yang usaha utamanya bertumpu pada BBM akan memicu menaikan biaya produksi.

Selain menggerus kinerja emiten, kenaikan BBM pada Agustus mendatang memicu inflasi berkepanjangan (tahunan) ke level 6,5% -7%. Hal ini juga akan mendongkrak tingkat sku bunga acuan (BI rate) ke level 6% -6,5% di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. "Hanya masalah waktu saja, 60 juta rakyat miskin Indonesia akan semakin miskin akibat kenaikan BBM, belum lagi spirral effect ke sektor-sektor lainnya,”ujarnya.

Selain itu, lanjut Edwin, kenaikan BBM juga semakin membuka meningkatnya suhu politik dalam negeri. Pasalnya, kenaikan tersebut sangat berpengaruh langsung kepada periuk nasi 60 juta rakyat miskin.

Sebelumnya, Edwin menyebutkan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan terkena dampak paling besar dari kenaikan harga BBM. Kebijakan GIAA untuk tidak melakukan lindung nilai (hedging) bahan bakarnya, menjadikan biaya operasi perseroan akan membengkak. Hal itu akhirnya membawa pesimisme investor yang memiliki portofolio saham Garuda.“Industri penerbangan, apalagi Garuda tidak hedging. Dengan frekuensi penerbangan tinggi, maka biaya akan naik,”ungkapnya.

Emiten semen, PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) juga diprediksi rentan akan kenaikan harga BBM. Pasalnya, selain faktor distribusi, dalam memproduksi semen, emiten itu juga masih tergantung pada BBM. “Perusahaan semen kan mayoritas ada di Jawa dan mereka masih banyak pakai BBM,” ujarnya.

Namun, bagi emiten yang melakukan antisipasi yang tepat, seperti halnya PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), dianggap masih layak dikoleksi. “ITMG pada awal sudah antisipasi cost BBM yang naik 20%, dengan melakukan headging,” ucapnya.

Tidak Pengaruhi IHSG

Selanjutnya, dia juga menyakini jika kenaikan harga BBM di atas Rp 2.000 akan membahayakan pergerakan IHSG. Sementara analis Universal Broker Securities Satrio Utomo menegaskan, kenaikan harga BBM diprediksi tak akan berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Menurutnya, selama ini isu kenaikan harga BBM justru membalikkan tren yang ada. Hal itu bisa dilihat pada sejarah beberapa tahun belakangan ini. “Kita tarik (pengalaman) dari 2003 dan 2005, IHSG malah menjadi naik. Padahal saat itu terjadi dua kali kenaikan harga minyak,” kata Satrio.

Satrio mengingatkan, pasar memang memiliki trauma tersendiri pasca kenaikan harga BBM di 2008. Namun, kenaikan itu terjadi pasca krisis sehingga membuat pasar sedikit trauma. “Ketika 2008, setelah kenaikan harga minyak, kita kena krisis jadi kondisinya menjadi panik. Itu meninggalkan kesan trauma bagi pelaku pasar. Namun harus dilihat sejarahnya di mana IHSG selalu mendapat respons positif,” imbuh Satrio.

Oleh karena itu, kata Satrio ada hal yang harus diperhatikan pasar. Jika dalam jangka pendek kenaikan harga minyak dunia hanya berhenti di kisaran 115-120 dolar AS per barel, maka dipastikan pasar sudah siap karena sesuai dengan prediksi kenaikan pemerintah yang mencapai 40% dari anggaran harga minyak. (bani)

Related posts