Membangun Karakter Enterpreneur Muslim

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Dalam beberapa tahun ini gerakan kewirausahaan atau enterpreneur menjadi trend tersendiri di tanah air, bahkan menjadi kebijakan pemerintah dalam bentuk Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN). Untuk mendukung gerakan tersebut di komunitas Muslim juga telah terbangun sebuah komunitas gerakan seperti Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) dan sejenisnya. Meskipun gerakan kewirausahaan itu terbangun dengan beragam sosialisasi, pelatihan - pelatihan, pendampingan dan lain - lain, namun untuk menumbuhkan enterpreneur muslim juga tak mudah dibayangkan. Bahkan, dari berbagai akademisi atau perguruan tinggi yang mengklaim dirimya sebagai kampus enterpreneur, juga belum begitu signifikan menyajikan data dalam mencetak para enterpreneur.

Dari berbagai riset tentang kewirausahaan banyak memberikan petunjuk, bahwa enterpreneur tak bisa dicetak melalui akademik saja, akan tetapi harus berangkat dari pembangunan karakter enterpreneur sejak dini. Meskipun demikian, keberadaan akademik bagi enterpreneur sangat diperlukan karena dalam bisnis ada mitigasi risiko. Tanpa mitigasi risiko bisnis akan mengalami berantakan.

Lantas bagaimana dalam membangun karakter enterpremeur yang baik? Sebagai Muslim diri kita bisa mencontoh keteladanan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW, bagaimana beliau memilki sifat karakter amanah, sidik, tabliqh dan fathonah. Bahkan dalam hadistnya, beliau lebih banyak mengajarkan tentang muamalah ekonomi dalam perdagangan ke berbagai negara. Pelajaran - pelajaran tersebut, tentunya bisa kita ambil untuk menjadi seorang enterpreneur yang baik.

Mencetak enterpreneur berakhlak baik harus dikenalkan dalam sebuah komunitas dan ekosistem yang benar-benar Islami. Mereka harus tahu tentang bagaimana cara berbisnis yang halal dan tidak menghalalkan segala cara. Mereka juga harus memahami secara visioner tentang bisnis yang berkelanjutan. Maka dari itu untuk mencetak para enterpreneur Muslim, diperlukan ketaqwaan kepada Allah SWT secara komperehensif. Melalui konsep ketaqwaan, diri kita hidup untuk dikenalkan tentang ketaqwaan yang berorientasi pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dari sinilah orientasi hidup kita jika ingin mengembangkan enterpreneur.

Secara rasio dalam menciptakan para enterpreneur, Indonesia sejauh ini masih kalah jauh dengan negara Asia Tenggara lainya dengan jumlah 3,1 %. Sementara Malaysia 5 % dan Singapura 7 % dari rasio inilah Indonesia sangat tertinggal jauh. Maka dari itu, umat Islam yang menjadi mayoritas di republik ini harus mampu mengambil peran secara luas dalam agenda membangun enterpreneurahip.

Apalagi ajaran agama Islam lebih jauh mengajarkan tentang muamalah berbisnis secara lengkap, seperti yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW tentunya bisa diimplementasikan oleh Muslim Indonesia. Jika ini bisa terlaksana, arus baru ekonomi umat bisa terwujudkan, dengan sikap ta'awun dan ukhuwah.

BERITA TERKAIT

Urgensi Pembangunan dan Pemberdayaan Kepulauan

  Oleh: Stanislaus Riyanta Program Doktoral Kebijakan Publik UI   Bagi warga yang tinggal di kota besar, lulus sekolah adalah…

Apa Life Cycle Assessment?

  Oleh: Dr.Kiman Siregar, STP.,MSi  Dosen Teknik Pertanian Unsyiah   Life Cycle Assessment (LCA) merupakan salah satu metodologi yang dapat…

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Urgensi Pembangunan dan Pemberdayaan Kepulauan

  Oleh: Stanislaus Riyanta Program Doktoral Kebijakan Publik UI   Bagi warga yang tinggal di kota besar, lulus sekolah adalah…

Apa Life Cycle Assessment?

  Oleh: Dr.Kiman Siregar, STP.,MSi  Dosen Teknik Pertanian Unsyiah   Life Cycle Assessment (LCA) merupakan salah satu metodologi yang dapat…

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…