Jadikan Investasi sebagai Perisai - Reksa Dana Minimal Rp 100 Ribu

NERACA

Jakarta - Perencana Keuangan dan Investasi, Safir Senduk menilai sebagian pengusaha masih enggan berinvestasi dengan alasan merasa sudah cukup mendapatkan modal. Seandainya melakukan investasi pun mereka cenderung memilih jenis-jenis investasi konservatif yang minim risiko namun menawarkan imbal hasil yang stabil. Padahal, investasi merupakan ‘perisai’ bagi para pengusaha yang sudah mendapatkan pendapatan dari kegiatan usaha.

“Mereka enggan berinvestasi karena merasa sudah cukup modal. Ibarat berperang, setiap prajurit harus memiliki tombak dan perisai atau tameng. Nah, kegiatan usaha adalah ‘tombak’ dan ‘perisai’ itu investasi,” ujar Safir, dalam acara Independent Financial Planning (IFP) Expo 2012, di Jakarta, Sabtu (31/3), akhir pekan.

Dia kembali menjelaskan, keberadaan ‘perisai’ sangat penting untuk memperkuat kinerja usaha yang telah dimiliki sebelumnya. Lantaran berperan sebagai ‘perisai’, maka karakter investasi yang perlu dilakukan bagi seorang pengusaha juga berbeda dengan pola investasi bagi para pelaku pasar saham yang mengandalkan langkah investasi sebagai pemasukan utama.

“Ada investor yang membutuhkan portofolio investasinya sebagai ‘tombak’. Golongan ini contohnya pelaku pasar atau investor yang masih ‘hijau.’ Mereka perlu agresif agar mendapat hasil maksimal. Tapi bagi pengusaha, langkah investasi yang diperlukan adalah yang cenderung konservatif, seperti deposito atau reksa dana,” tuturnya.

Seandainya ingin berinvestasi dalam bentuk saham, sambung dia, maka pilihan tepat bagi para pengusaha adalah jenis-jenis saham yang pergerakan harganya cenderung tidak fluktuatif namun memiliki basis kinerja yang kuat, sehingga berpotensi memberikan dividen secara stabil setiap tahun.

“Pilih saham-saham biasa saja. Pergerakannya tidak perlu agresif, tapi perlahan namun tetap ada pertumbuhan. Kuncinya di kinerja emiten harus bagus. Dengan begitu, tiap tahun juga kemungkinan dapat bagi dividen. Keuntungan yang didapat dari investasi ini bisa menjadi bumper kalau usaha Anda bermasalah. Jadi (investasi bagi pengusaha) tetap perlu,” tegas Safir.

Sementara itu, Chief Executive Officer QM Financial, Ligwina Hananto menyatakan, berinvestasi di reksa dana merupakan investasi mudah dan aman asalkan investor mengetahui pilihan reksa dana yang menarik, seperti investor perlu mengetahui jenis reksa dana dan profil risiko, sehingga mereka tidak mengambil langkah yang salah dan hasil yang didapat tidak maksimal.

“Produk reksa dana merupakan produk keuangan yang paling mudah diakses dan investasi paling murah didapatkan dengan minimum Rp100 ribu. Namun, jenis reksa dana apa yang menarik, perlu mengetahui dulu profil dan management risikonya gimana. Apalagi reksa dana banyak jenisnya,” kata Ligwina.

Kenali jenis reksa dana

Dia lalu menjelaskan beberapa macam produk, seperti reksa dana pasar uang yang menempatkan seluruh aset investornya pada instrumen pasar uang seperti efek yang jangka waktunya kurang dari setahun, seperti sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, atau obligasi dengan jangka waktu kurang dari satu tahun.

Karakteristik reksa dana ini, lanjut Ligwina, sangat cocok bagi investor pemula yang masih lekat dengan berinvestasi di deposito, tetapi ingin menjajal berinvestasi di reksa dana. Oleh karena itu, kupon bunga reksa dana jenis ini bernilai hanya sedikit lebih tinggi dari suku bunga deposito.

“Kalau mau masuk reksa dana pasar uang, ada baiknya melakukan investasi dengan jangka waktu hingga tiga tahun. Sebab bedanya tipis,” tambah dia. Sementara untuk reksa dana saham, untuk mendapat return atau imbal hasil hingga 25% dari total investasi, pertahankan investasi minimal 10 tahun.

Tak hanya itu. Lebih lanjut Ligwina mengungkapkan agar investor jangan takut ketika pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun yang otomatis keuntungan juga ikut menurun. Pasalnya, untuk jenis saham, pergerakannya memang naik turun. “Kalau bisa ditambah terus jumlahnya, pasti akan kembali naik lagi. Setelah beberapa tahun baru terlihat grafiknya,” paparnya.

Sedangkan untuk reksa dana pendapatan tetap, karena memiliki risiko dan keuntungan yang sesuai, dirinya menyarankan bagi investor reksa dana ini mengambil jangka waktu investasi 5-10 triliun, karena sebagian besar masuk melalui surat berharga yang memberikan pendapatan tetap, yaitu obligasi.

Terakhir, ada reksa dana campuran. Di sini manajer investasi nantinya menginvestasikan uang nasabahnya biasanya secara sama rata ke dalam saham dan obligasi. Terkait risiko, Ligwina menilai karena reksa dana ini merupakan reksa dana yang mencampur saham dan obligasi, tentu risikonya lebih besar daripada reksa dana pendapatan tetap, namun lebih kecil daripada reksa dana saham. [ardi]

Related posts