Perempuan Harus Diberi Kesempatan Jadi Pengusaha - Carmelita Hartoto, Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut Kadin

NERACA

Memasuki bulan April 2012, bulan yang identik dengan perempuan karena merupakan hari lahir Raden Ajeng Kartini, yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan. Indonesia memiliki banyak sosok perempuan pengusaha sukses, namun banyak dari mereka yang enggan menonjolkan diri. Padahal, kesuksesan para perempuan wirausaha ini dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain.

Berkembangnya kesadaran akan berwirausaha, harus disertai dengan keberanian dan inisiatif dari perempuan itu sendiri untuk memulai berbisnis. Tetapi, sejauh mana dukungan keluarga dan usahanya dalam meningkatkan kesejahteraan, juga memberdayakan ekonomi masyarakat, serta memiliki visi dan misi jelas serta peduli terhadap pemberdayaan perempuan.

Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut Kamar Dagang dan Industri Indonesia Carmelita Hartoto berpendapat perempuan harus bisa mengkomunikasikan keinginannya terutama kepada keluarga atau pasangan hidup untuk memulai bisnis atau berwirausaha, agar tidak terkesan adanya persaingan di dalam lingkungan keluarga.

“Partisipasi perempuan dalam dunia usaha sangatlah penting, karena selain sebagai langkah menuju peningkatan pendapatan rumah tangga. Perempuan yang menjadi pengusaha memiliki proteksi atas kelangsungan hidupnya sendiri,” ujar di Menara Kadin, Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bukan karena zaman emansipasi perempuan atau keseteraan gender, Carmelita melihat perempuan harus bisa kreatif untuk mencari jalan atau cara bagaimana memikirkan kelangsungan hidup keluarganya maupun dirinya sendiri. “Karena tidak selamanya perempuan hanya menggantungkan dirinya dari pendapatan rumah tangga terutama dari suami, maka perlu perempuan itu harus diberi kesempatan untuk menjalani usaha,” lanjutnya.

Karena belajar dari pengalaman, putri sulung dari tiga bersaudara keluarga (Alm.) Hartoto Hardikusumo, hatinya pun terpanggil untuk meneruskan peran sebagai nakhoda salah satu perusahaan pelayaran ternama di Indonesia, PT Andhika Lines. Sebelumnya, dirinya bekerja di perusahaan trading di London. “Satu tahun saja sih kerja di sana, karena harus pulang waktu ayah meninggal,” tuturnya.

Panggilan Hati

Tak terbayang sebelumnya, kata dia, meninggalnya sang ayah ternyata menjadi awal masuknya generasi kedua di perusahaan. Karena keterlibatannya di industri pelayaran yang semula memiliki kesan angker tidaklah direncanakan. Tiba-tiba saja, perempuan yang kini menjadi Ketua Umum Indonesian National Ship owners Association (INSA), mengaku seperti ada panggilan hati untuk ikut membesarkan perusahaan. “Tapi, kini saya mencintainya. Saya ingin ikut memajukan industri pelayaran nasional, baik melalui asosiasi maupun sebagai pelaku usaha,” ungkapnya.

Carmelita mulai terlibat di perusahaan yang berdiri sejak 1973 itu pada 1995, meski saat itu bukan termasuk jajaran direksi, dia lebih banyak turun langsung ke lapangan. Seolah-olah ada garis komando langsung dengan para pekerja di pelabuhan. “Jangan lihat pakaian saya yang gaya-gayaan sekarang. Dulu saya pakai sepatu kets, celana jins, duduk bareng mereka di sana. Ada demo, ya ikut demo,” akunya sambil tertawa.

Justru dari pergaulan dengan para pekerja di lapangan itulah Carmelita mendapat dukungan. Pernah suatu hari, ketika dirinya masih komisaris, salah satu anak usahanya di demo karyawan. Penyebabnya, direktur operasional saat itu tiba-tiba meninggal. Lalu, ada kesimpulan, penggantinya secara otomatis adalah bawahan langsung direktur operasional itu.

Ternyata, bawahan langsung direktur yang meninggal itu, dan tidak memiliki kedekatan emosional. Sebelum terjadi karyawan berdemo dan perusahaan akan mengalami kerugian. Akhirnya, Carmelita mendapatkan strategi jitu agar karyawan mau bekerja normal tanpa harus mengabaikan aspirasi mereka.

“Karena banyak bergaul dengan orang di lapangan, saya lantas bertanya ke banyak teman. Saya katakan rasa tidak suka dengan pergantian direksi itu, nanti akan saya pertimbangkan. Tetapi, saya juga tidak suka dengan cara mereka demo yang merugikan perusahaan,” tuturnya.

Ternyata, upaya Carmelita tidak sia-sia. Karyawan mau kembali bekerja, bahkan lebih dari itu. Untuk mengkondusifkan situasi, karyawan meminta Carmelita yang langsung menangani perusahaan. “Akhirnya, saya menjadi direktur, bahkan sampai direktur utama, di anak perusahaan itu,” lanjutnya.

Bangun Pergaulan

Dia mengakui dengan membangun pergaulan dengan pekerja di lapangan adalah upaya memupuk kecintaan terhadap bidang kerja Andhika Lines. Maklum, tak kenal maka tak sayang. Faktanya, Carmelita yang besar di luar negeri memang tidak mengenali bidang kerja ayahnya itu. “Awalnya keadaannya seperti itu. Tapi, lambat laun mulai menyelami dan menikmati,” paparnya.

Modal Carmelita satu-satunya hanya senang dan betah berlama-lama di pelabuhan. Tapi, itu menjadi modal kuat untuk akhirnya memahami ada kehidupan berbeda dari pekerjaan di pelabuhan dan perkapalan yang siang dan malam. “Banyak angkutan masuk gudang, barang-barang keluar masuk. Saya lihat mereka kerja. Berbagai proses itu saya ikuti sehingga merasa bersatu dengan mereka,” ucapnya.

Selain sukses di bidang usaha dalam dunia pelayaran, penggemar sosok Sri Mulyani ini, juga sukses dalam urusan keluarga, sebagai ibu rumah tangga yang nota bene mengurus suami dan anak-anak, dirinya menempatkan pada posisi yang bijak. Carmelita pada akhir pekan, waktunya banyak difokuskan untuk keluarga, “Kumpul dengan keluarga dan makan siang hingga makan malam bersama keluarga, kadang-kadang nonton bareng, serta shopping,” jelasnya.

Waktunya kerap banyak di habiskan dalam dunia usaha, karena sering pulang malam maka bertemu dengan anak-anak juga biasanya hanya pada pagi hari saat pada mau berangkat sekolah. Maka untuk hari Sabtu dan Minggu, dirinya tidak mau mensia-siakan waktu bersama keluarga. “Sebenarnya anak-anak sudah terbiasa untuk di tinggal sehingga tidak kaget saat di tinggal untuk menjalankan kegiatan usahanya di luar rumah. Dan lagi mereka sudah tumbuh dewasa,” paparnya.

Related posts