Produksi Turun Drastis, Harga Cabai Rawit Naik 10%

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan memastikan, kenaikan harga cabai rawit yang cukup tinggi, dari harga rata-rata minggu III Maret 2012 sebesar Rp27.754 per kg menjadi Rp30.538 per kg pada minggu IV Maret 2012 tau naik sebesar 10,03% dipicu oleh menurunnya produksi. Kemendag menilai meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) tetap atau bahkan turun, untuk cabai rawit dan cabai merah pasti akan mengalami kenaikan.

“Produksi turun karena faktor curah hujan dan rentannya komoditas cabai terhadap hama penyakit. Penurunan suplai ini tidak sebanding dengan meningkatnya permintaan di luar Jawa. Penurunan suplai ini menyebabkan beberapa daerah mengalami kenaikan harga," jelas Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo di kantor Kemendag, Jakarta, Jum’at (30/3).

Lebih jauh dia mengatakan, walaupun kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ditunda, Kementerian Perdagangan telah menyatakan kenaikan tersebut tidak akan banyak berpengaruh pada harga kebutuhan pokok di dalam negeri. Gunaryo menuturkan, kenaikan tidak akan mencapai lebih dari 5%.

Namun, dengan belum adanya keputusan kenaikan harga BBM, beberapa kebutuhan bahan pokok sudah mengalami kenaikan. Gunaryo beranggapan kenaikan tersebut bukan disebabkan karena antisipasi kenaikan harga BBM, tetapi lebih disebabkan pada faktor ketersediaan bahan pokok di lapangan.

Menurut dia, kenaikan 5% sudah dianggap biasa. “Kenaikan harga disebabkan karena ketersediaan barang saja. Begitu juga dengan biaya trasnportasi tidak begitu berdampak besar terhadap harga bahan pokok,” ujar Gunaryo.

Dia memperkirakan minyak goreng akan naik sekitar 5%, beras antara 0,33-0,4%. Kementerian Perdagangan akan fokus pada ketersediaan barang dan telah berkordinasi dengan dinas perdagangan di daerah untuk menjaga kepastian pasokan barang.

“Para dinas di daerah sudah mewaspadai jangan sampai terjadi penimbunan seperti yang terjadi pada pasokan BBM. Pengelola gudang sembako di daerah diwajibkan melapor untuk mendata jumlah barang yang tersedia di gudang mereka,” terangnya.

Gunaryo menuturkan, untuk membantu masyarakat pemerintah akan memfasilitasi bazaar atau pasar murah mulai April mendatang. Meskipun secara presentase kenaikan harga terlihat sedikit, dia berharap masyarakat kurang mampu masih mendapatkan fasilitas beras miskin. “Distribusi raskin jangan sampai terhambat. Saya kira ini juga salah satu upaya untuk menekan teman-teman kita yang kurang mampu,” ujarnya.

Komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga pada minggu IV Maret 2012 dibanding Minggu III 2012 antara lain cabai rawit dengan kenaikan 10,03%, gula pasir naik 2,10%, bawang merah naik 2,04% dan minyak goreng curah naik 1,89%.

Kekurangan Pasokan

Selain itu, kekurangan pasokan yang menyebabkan kenaikan harga tersebut juga berlaku pada komoditas gula, meski persentase kenaikan harga hanya 2,10% dari Rp10.401 menjadi Rp10.619. Pada awal bulan Maret, kenaikan harga disebabkan semakin menipisnya pasokan gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi.

Untuk mencukupi kebutuhan GKP, pemerintah memutuskan untuk melakukan importasi gula mentah untuk diolah menjadi GKP dan didistribusikan ke kawasan Indonesia timur dan daerah non sentra produksi gula. "Surplus gula selama ini hanya di Jawa Timur, Gorontalo dan Lampung. Selebihnya hampir dipastikan membutuhkan pasokan dari daerah lainnya," ungkap Gunaryo.

Dia juga menambahkan bahwa akhir bulan April hingga awal Mei merupakan masa panen padi. Dengan demikian, meskipun ada pengaruh dari biaya transportasi, harga beras tidak akan naik, namun juga harapkan harga beras tidak akan turun.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga rata-rata beras umum pada bulan Februari 2012, tercatat Rp10.520 per kilogram sementara rata-rata pada minggu keempat bulan Maret 2012 turun menjadi Rp10.362 per kilogram.

Sementara untuk harga beras termurah pada Februari lalu tercatat Rp8.390 per kilogram dan rata-rata minggu keempat bulan Maret turun menjadi Rp8.260 per kilogram atau sebesar 0,03%. "Untuk kenaikan harga beras yang terjadi pada akhir Februari lalu, karena keterbatasan suplai yang tidak terlalu mencukupi," ujar Gunaryo.

Related posts