Prioritaskan 6 Koridor Ekonomi Guna Dongkrak Pertumbuhan

Impian RI Jadi Negara Maju Pada 2025

Jumat, 11/03/2011

Impian RI Jadi Negara Maju Pada 2025

Prioritaskan 6 Koridor Ekonomi Guna Dongkrak Pertumbuhan

NERACA

Jakarta – Menteri Korodinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan pemerintah memprioritaskan optimalisasi pelaksanaan enam koridor ekonomi guna mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 4 kali lipat. Setidaknya Indonesia akan menjadi negara maju dengan peringkat 12 besar pada 2025. Kemudian, pada tahun 2045 masuk ke delapan besar negara terbesar dunia.“Kita punya potensi sumber daya untuk menjadi negara kuat. Visinya, mengangkat Indonesia menjadi negara maju 12 besar di 2025 dan delapan besar di 2045” ungkap Menko Perekonomian Hatta Rajasa, dalam rapat kerja Kementerian Perdagangan, di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (10/3).

Menurut Hatta, pelaksanaan enam koridor ekonomi ini demi menargetkan PDB pada. Sehingga akan tumbuh menjadi US $ 3,8 hingga 4,5 triliun. Peningkatan PDB ini akan diikuti dengan peningkatan pendapatan perkapita menjadi US $ 16.000 per hari.

Hatta menyebutkan, ada tiga kata kunci untuk bisa mewujudkan hal tersebut, yakni percepatan, konektivitas, dan peningkatan sumber daya manusia dalam manfaatkan perkembangan IPTEK.

Dijelaskannya, percepatan, mengandung satu esensi dasar ada sesuatu desain geoekonomi dan geopolitik yang terjadi saat ini. “Oleh sebab itu kita harus mempercepat dan memperluas pembangunan. Selain itu juga perlu perkuatan konektivitas, sinergi antara pusat-pusat pertumbuhan dan memperkuat SDM dan Iptek,” ungkapnya.

Hatta meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong percepatan industrialisasi dan peningkatan peran swasta. Selain itu diperlukan peningkatan peran swasta. “Pemerintah komitmen untuk memutus ekspor row material dengan mengotimalkan produksi dalam negeri menjadi barang jadi,” katanya.

Dia juga mengigatkan Kemendag harus lebih mengoptimalkan potensi lokal dalam menghadapi perdagangan internasional. Posisi geografis Indonesia yang strategis harus ditangkap dengan peningkatan kapasitas kawasan perdagangan bebas seperti kawasan perdagangan bebas Batam Bintan karimun.

Dikatakannya, urat nadi pertumbuhan perekonomian saat ini ada di sektor perdagangan. Hal tersebut terbukti dari tingkat ekspor yang semakin meningkat dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, Indonesia harus mulai mengubah pola perdagangan khususnya untuk perdagangan antardunia internasional. “Mind set kita tidak bisa bisnis as usual tetapi thinking out of the box. Inilah esensi penting mengapa kita harus akselerasi kekuatan, itu bukan ideologi lagi, strategi bisnis ke depannya. Perdagangan adalah urat nadi dari setiap negara,” imbuhnya.

Saat ini volume perdagangan antarpulau mengalami peningkatan yang luar biasa. Sebagai contoh, jalur Selat Sunda mulai terpantau sibuk hingga diperkirakan pada 2011 akan mengalami peningkatan sekira tiga juta arus penyeberangan. “Volume perdagangan antarpulau meningkat luar biasa. Saya ambil contoh saja bagaimana Selat Sunda begitu sibuk, 2,7 juta kendaraan roda empat menyeberang meningkat menjadi 2,9 juta kendaraan menyeberang termasuk truk, dipastikan 2011 di atas tiga juta, semua mengalir ke logistik kita,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan sektor yang meningkat meliputi beberapa sektor. Di antaranya tekstil, alas kaki, dan automotif. Selain itu, ekspor yang berbasis industri kreatif dan jasa konstruksi. “Kita harus tingkatkan nilai tambah, di luar berbasis sumber daya alam itu tumbuh hampir 40%.

Yang Mari merasa yakin volume ekspor manufaktur makin naik meski masih kecil. “Kita bicara tekstil, alas kaki, automotif dan produk lain, ada alat medik misalnya walaupun masih kecil tapi pertumbuhan ekonomi sudah 100%, jangan lupa ekspor jasa-jasa konstruksi dan industri berbasis kreatif,” katanya.

Niai ekspor Indonesia di tahun ini terancam melambat akibat pelemahan ekonomi Jepang di tahun ini. Apalagi Jepang selama ini menjadi negara tujuan utama ekspor Indonesia. Pasca krisis keuangan global perekonomian Jepang belum sepenuhnya pulih, terlihat dari pencapaian pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi 1,3% pada kuartal IV-2010.

Kontraksi atau pelemahan ekonomi di Jepang terjadi akibat penurunan konsumsi masyarakat sebesar 0,8%. Ke depan, potensi kontraksi ekonomi di Jepang diperkirakan cukup besar karena harga minyak dalam level yang tinggi dapat menekan industri dan konsumsi masyarakat.

Mari Pangestui menambahkan Jepang merupakan pasar ekspor utama Indonesia. Sepanjang 2010, nilai ekspor non migas ke Jepang mencapai US$ 16,49 miliar dan menduduki peringkat pertama negara tujuan ekspor Indonesia. Pada Januari 2011, nilai ekspor non migas ke Jepang adalah sebesar US$ 1,21 miliar atau 10,13% dari total ekspor non migas. "Oleh karena itu, pelambatan ekonomi Jepang untuk beberapa hal bisa memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Namun secara keseluruhan, sepertinya pengaruh tidak terlalu besar karena produk Indonesia tetap dibutuhkan oleh Jepang," terangnya. **ruhy