Link Net Alokasikan Dana Rp 1,3 Triliun - Buyback 212,33 Juta Saham

NERACA

Jakarta – Dalam rangka menjaga performance harga saham di pasar yang terus turun 9,18%, di semester kedua tahun ini PT Link Net Tbk (LINK) bakal melakukan pembelian kembali saham perusahaan (buyback) sebanyak 212,33 juta atau setara dengan 7,39% saham yang beredar. Untuk aksi korporasi ini perusahaan telah menyiapkan dana senilai Rp 1,3 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (23/7).

Sahamnya telah dibeli kembali ini akan disimpan sebagai treasury stock, meski ke depannya dapat digunakan kembali oleh perusahaan untuk hal lainnya. Perusahaan mencatat laba per saham sebesar Rp 91, sedangkan proforma laba bersih per saham setelah pembelian kembali saham dengan asumsi jumlah pembelian saham maksimum adalah sebesar Rp 100,75/saham.

Dalam eksekusinya nanti harga maksimal yang ditawarkan perusahaan untuk buyback ini sebesar Rp 6.000/saham. Adapun hingga penutupan perdagangan hari ini saham perusahaan yang terafiliasi dengan Lippo Group ini ditutup di harga Rp 4.450/saham. Sepanjang perdagangan kemarin, saham LINK telah mengalami penguatan 1,37%. Perusahaan akan meminta ijin dari pemegang saham untuk melaksanakan aksi ini dala Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada 29 Agustus 2019 mendatang. Sedang untuk eksekusi rencana tersebut akan dilakukan dalam jangka waktu 18 bulan sejak RUPSLB tersebut dilaksanakan.

Tahun ini perusahaan juga berencana untuk melakukan ekspansi bisnis ke lima kota baru yakni Solo, Semarang, Cilegon, Serang dan Bali. Ini akan menggenapkan wilayah operasional Link NEt menjadi kota. Perusahaan sudah menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 1,5 triliun untuk tahun ini yang bersumber dari laba operasional dan pinjaman dari perbankan. Sekitar 25% dari capex akan digunakan untuk penambahan home passes. Ini adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan jumlah rumah yang dilewati oleh jalur jaringan internet fiber.

Selain keperluan ekspansi, belanja modal juga akan digelontorkan untuk melakukan pembaruan (upgrade)untuk menunjang jaringan seperti penambahan hub, split hub, intercity backbone rings dan intercity ring. Saat ini mesin pendorong utama pertumbuhan perseroan masih berasal dari pelanggan residensial. Selanjutnya, memanfaatkan pesatnya pertumbuhan e-sport saat ini mendorong perusahaan untuk membikin anak usaha baru di bidang e-sport yang diharapkan bisa menjadi salah satu sumber pendapatan perseroan.

Untuk target bisnis, LINK membidik pertumbuhan laba bersih sebesar 30%dibanding tahun 2018 yang tercatat sebesar Rp 803 miliar. Perseroan mengungkapkan, pertumbuhan laba akan ditopang dari pertumbuhan pendapatan yang ditargetkan tumbuh 9% hingga 13%. Kemudian untuk mengejar pertumbuhan pendapatan akan ditopang oleh penambahan pelanggan televisi berbayar sebanyak 250 ribu home pass.

BERITA TERKAIT

Diamon Patok Harga IPO Rp 915 Persaham

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Diamond Food Indonesia Tbk akan menggelar penawaran umum perdana atau…

Diburu Banyak Nasabah - Hanson Gagal Bayar Balikkan Pinjaman Individu

NERACA Jakarta- Pasca ditahan dan ditetapkannya komisaris utama PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro sebagai tersangka kasus korupsi PT…

Marak Saham Gorengan - DPR Kritisi dan Evaluasi Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar premi PT Asuransi Jiwasraya hingga menuai kerugian besar lantaran terjebak investasi saham lapis tiga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pabrik Karawang Beroperasi - Softex Bidik Bisnis Tumbuh Double Digit

NERACA Bandung –Mengulang kesuksesan pertumbuhan bisnis di tahun 2019 kemarin, perusahaan prdousen saniter PT Softex Indonesia mematok pertumbuhan bisnis tahun…

Tambah Portofolio Aset - SDI Akuisisi Gedung Milik SCB Rp 20 Miliar

NERACA Jakarta -  Dukung pengembangan bisnisnya, PT Serba Dinamik Indonesia (SDI) mengakuisisi gedung milik PT Surya Cipta Banten (SCB) senilai…

Marak Terbitkan Obligasi - Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 40,7 Triliun

NERACA Jakarta –Pasar obligasi dalam negeri di tahun 2020 masih berpiotensi tumbuh, meskipun dihantui sentimen negatif pasar global. Berkah inilah…