Indonesia Butuh Rupiah Kuat?

Oleh: Sarwani

BI effectmenyapu pasar keuangan, membuat rupiah perkasa dalam beberapa hari dan diharapkan akan begitu seterusnya ke depan. Harapan penuh optimisme ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pascakebijakan bank sentral RI memangkas Bank Indonesia 7-day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 0,25 basis point menjadi 5,75 persen.

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu menjadi Rp 13.937 per dolar AS. Bahkan mata uang Garuda tersebut sempat menyentuh level Rp13.850 per dolar AS. Berartikah penguatan rupiah ini bagi perekonomian nasional?

Bank Indonesia optimistis rupiah masih memiliki ruang untuk terus menguat dengan adanya kebijakan pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Keputusan BI tersebut direspon pasar dengan kecenderungan yang optimistis, permintaan dan penawaran bergerak aktif, dan pasar berjalan dengan baik.

Pasar memiliki persepsi positif terhadap keputusan Bank Indonesia. Otoritas moneter mengklaim investor melihat kondisi ekonomi Indonesia semakin baik dan stabilitasnya terjaga untuk menjalankan investasi. Apakah penguatan rupiah yang terjadi baru beberapa hari itu menggambarkan sikap investor yang sesungguhnya atau hanya spekulan konyol yang memanfaatkan euforia pemangkasan suku bunga acuan?

Keputusan BI menurunkan tingkat suku bunga acuan memang sudah lama dinanti dunia usaha. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan biaya dana untuk kebutuhan investasi bisa ditekan. Pebisnis pun mempunyai peluang untuk memperluas usahanya di tengah kondisi perang dagang yang memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Apakah kebijakan ini cukup menggerakkan dunia usaha atau ada prasyarat lain?

Sekalipun kebijakan menggerakkan dunia usaha ada pada pemerintah, sudah saatnya BI juga menjadi agen pendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan moneter. Tanpa penurunan suku bunga acuan diperkirakan produk domestik bruto hanya bisa tumbuh di bawah 5,2 persen. Apakah pemerintah akan mengeluarkan kebijakan fiskal untuk turut mendorong penguatan rupiah? Atau pemerintah punya sikap yang berbeda mengingat Indonesia harus mendorong ekspor agar tumbuh lebih kuat lagi? Berapa level rupiah yang ideal?

Meskipun rupiah menguat, Indonesia harus terus mencermati kondisi dan perkembangan ekonomi global yang bisa mengganggu stabilitas kurs rupiah ke depan. Dunia terus memantau dinamika perang dagang ini dan menanti skenario apa yang disusun AS dan China yang menjadi pelaku utama. Apakah rupiah akan tetap perkasa?

Di sisi lain, rupiah juga tidak lepas dari sentimen global. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed diharapkan membawa angin segar bagi rupiah. Bank sentral AS dijadwalkan mengumumkan jadi tidaknya memangkas suku bunga acuan pada 31 Juli. Rumor yang beredar menyebutkan akan ada pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 1,75 persen-2 persen.

Melihat banyaknya faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah, apakah kebijakan BI bisa menjadi tumpuan bagi penguatan rupiah? Bagaimana jika dinamika global membawa sentimen negatif terhadap rupiah, apa yang harus dilakukan otoritas moneter dan fiskal? (www.watyutink.com)

BERITA TERKAIT

KERJASMA BNI - VAMOS INDONESIA

Menteri BUMN RI Rini M Soemarno (tengah), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan) dan Founder Yayasan Vamos Indonesia Fanny…

Pasar Non Tradisional - Indonesia Akan Perkuat Kerja Sama Perdagangan Dengan Afrika

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan akan terus berupaya membuka akses pasar produk-produk Indonesia ke pasar non-tradisional, khususnya…

Butuh Eksplorasi dan Optimasi Produksi Migas

NERACA Jakarta - Upaya meningkatkan eksplorasi dan optimasi produksi minyak dan gas bumi merupakan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan bersama…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Utang Makin Besar, Kemampuan Biayai Pembangunan Berkurang

Oleh: Riza Annisa Pujarama, Peneliti INDEF Postur APBN 2020 terdapat ekspansi untuk memperbaiki perekonomian tetapi secara secara asumsi makro tidak terlihat…

Ibu Kota Baru di Kalimantan, Bukan Soal Pemerataan Saja

Oleh:  Fransina Natalia Mahudin, Studi S2 bidang Kebijakan Publik Pemerintah akhirnya memilih memindahkan ibu kota dengan alternatif ketiga, yaitu pilihan…

Stop Rasisme dan Hargai Perbedaan Demi Keutuhan NKRI

  Oleh : Edward Krey, Mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta   Wajar kiranya apabila kita marah ketika martabat bangsa dilecehkan,…