Pemerintah Tindak Lanjuti Laporan Soal Tantangan Ekspor ke China - Perdagangan Luar Negeri

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan akan menindaklanjuti laporan pengusaha Indonesia di China yang tergabung dalam Indonesia Chamber of Commerce (Inacham) soal berbagai tantangan ekspor produk asal Indonesia ke negeri tirai bambu.

“Ada beberapa informasi yang harus kita cek lagi, apakah benar ada perlakuan berbeda terhadap Indonesia, padahal kita punya ASEAN Plus Three Free Trade Area (FTA). Kalau ada perbedaan tarif kita cek,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Iman Pambagyo di Shanghai, China, disalin dari Antara di Jakarta.

Iman menyampaikan masukan dari para pengusaha yang menjalankan bisnisnya di China merupakan hal yang penting. Dengan demikian, pemerintah dapat mengkombinasikan berbagai informasi untuk mengidentifikasi hambatan dan tantangan ekspor ke China, di mana Kemendag akan berhubungan secara government to government (g to g) dengan Pemerintah China.

“Nah ini kombinasi informasi dari pelaku usaha eksportir dan teman-teman di lapangan, kita cek dengan dokumen yang ada. Kalau memang itu menjadi hambatan tersendiri ya kita harus bicara dan follow up segera,” ujar Iman.

Setelah itu, pemerintah baru akan mengambil langkah yang tepat dalam hal mencari solusi dan melerai hambatan-hambatan usaha tersebut. “Jadi tidak bisa langsung kita ajukan ke pemerintah (China). Kita harus cek berlapis dulu. Tidak hanya dalam konteks WTO tp juga ASEAN Plus Three FTA,” pungkas Iman.

Menurut Iman, tantangan utama Indonesia dalam menjalankan bisnis di pasar internasional adalah kepatuhan tata kelola perusahaan. Hal tersebut sangat terkait dengan aturan perdagangan internasional yang ditetapkan World Trade Organisation (WTO).

“Jadi, Indonesia dan negara lain juga punya aturan-aturan, tetapi di Republik Rakyat China (RRT) sini tampaknya lebih banyak compliance issue. Dan itu memang hak diperbolehkan di dalam WTO. Tapi kita harus pastikan apakah compliance issue itu terkait dengan prinsip-prinsip non diskriminasi dan lainnya,” ujar Iman.

Enggartiasto Lukita menggelar pertemuan dengan para pengusaha Indonesia di China yang tergabung dalam Indonesia Chamber of Commerce (Inacham) guna melerai berbagai hambatan ekspor produk Indonesia ke China.

“Inacham ini kumpulan para pengusaha yang memang sangat aktif. Tadi, kita lakukan dialog, karena intinya adalah bagaimana kita meningkatkan kuantitas ekspor kita ke sini atas beberapa produk yang saat ini juga sudah masuk,” kata Mendag.

Dalam hal ini, Mendag ingin menerima masukan langsung dari para pengusaha terkait tantangan bisnis yang mereka alami di negeri tirai bambu. Salah satunya adalah mengenai pembelian bahan baku dengan harga lebih murah di Indonesia, yang dilakukan pedagang asal China.

“Sebetulnya ini mereka datang ke Indonesia dan membeli bahan baku langsung di sana, misalnya rumput laut, kemudian di bawa ke sini. Itu tidak masuk ekspor dalam jumlah besar,” ungkap Enggar.

Sebelumnya, pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai upaya pendekatan pemerintah untuk mendorong ekspor nasional ke China dapat mengatasi persoalan neraca perdagangan yang masih mengalami defisit.

Heri mengatakan, upaya pendekatan ini harus dilakukan karena potensi pasar China saat ini sangat besar dan Indonesia masih mempunyai produk maupun komoditas ekspor unggulan. "Sebenarnya masih bisa diupayakan berbagai strategi. Jadi yang namanya berdagang atau bekerja sama itu, dalam hal ini, kita konteksnya bersaing, jadi produknya yang bersaing," katanya.

Heri menambahkan, sebagai upaya untuk memulai, pemerintah dapat segera mengidentifikasi produk atau komoditas unggulan dari Indonesia yang bisa dioptimalkan produksinya untuk meningkatkan nilai ekspor nasional.

Menurut dia, optimalisasi produksi tersebut dapat menekan nilai defisit neraca perdagangan dengan China yang telah meningkat hingga mencapai 18,4 miliar dolar AS pada 2018, dibandingkan realisasi pada 2017 sebesar 12,68 miliar dolar AS.

Untuk periode Januari-Juni 2019, ekspor Indonesia ke China juga terpantau turun dari periode sama tahun lalu, yaitu dari sebelumnya sebesar 11,13 miliar dolar AS menjadi 10,34 miliar dolar AS, dengan nilai impor Indonesia dari China justru meningkat dari 35,76 miliar dolar AS menjadi 45,53 miliar dolar AS. "Artinya dengan perang dagang, China bisa mencari pasar alternatif selain ke Amerika Serikat. Mereka bisa ke Indonesia, India dan negara lainnya," ujar Heri.

Dengan kondisi ini, Heri menyarankan pemerintah untuk lebih cermat menangkap peluang perdagangan, terutama budidaya sejumlah komoditas pertanian yang kerap dianggap sepele oleh penduduk Indonesia agar kebutuhan negara tujuan ekspor dapat dipenuhi.

Ia mengharapkan adanya upaya standar produksi komoditas tanaman agar dapat lebih mudah diekspor ke pasar global, apalagi sejumlah negara seperti China dan Jepang kerap memberlakukan non-tariff measure (NTM) terhadap produk-produk makanan impor. Secara keseluruhan, menurut dia, China dengan populasi mencapai 20 persen penduduk dunia masih merupakan pasar potensial bagi ekspor nasional.

BERITA TERKAIT

Industri Mamin RI Siap Promosi di Pameran SIAL INTERFOOD

  NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman Indonesia siap unjuk gigi di pameran berskala internasional makanan, minuman, jasa boga,…

Ralali Bantu Majukan UMKM Ritel Lewat Big Data

NERACA Jakarta – Sejak dilantik 20 Oktober lalu, Presiden RI Joko Widodo terus menggalakkan jajarannya untuk fokus mendorong UMKM Indonesia…

Niaga Luar Negeri - Prioritaskan Penyelesaian Perundingan Dagang Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyampaikan perkembangan terakhir tentang Regional Comprehensive Economic Partnership dan beberapa perundingan yang akan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Masuk Jalur Distribusi Ritel Modern, Bulog Harus Jaga Kualitas Beras

NERACA Jakarta – Rencana Badan Usaha Logistik (Bulog) untuk mendistribusikan beras serapannya melalui jalur ritel modern merupakan sebuah inovasi yang…

Komoditas - Harga Nikel Untuk Pasar Domestik Disepakati US$30 Per Metrik Ton

NERACA Jakarta – Pemerintah dan pengusaha sepakat untuk menetapkan harga jual nikel untuk diserap di dalam negeri sebesar 30 dolar…

Niaga Domestik - Pengusaha Ritel Diminta Inovatif Seiring Perkembangan Teknologi

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta para pengusaha ritel untuk inovatif seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat. Ia…