Perang Dagang AS-China Harus Disikapi Dengan Produktivitas - Niaga Internasional

NERACA

Jakarta – Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Dr. Rizal E. Halim menyatakan bahwa salah satu cara menyikapi dampak perang dagang AS-China yakni mendorong produktivitas nasional dengan memperkuat sektor industri manufaktur dan memangkas inefisiensi ekonomi yang seringkali menyandera daya saing nasional.

"Upaya ini tidak hanya mengurangi efek perang dagang tetapi juga menjadi peluang mendorong kinerja perdagangan nasional. Syaratnya kinerja produktivitas industri manufaktur harus digenjot, inefisiensi baik dari sisi birokrasi maupun infrastruktur harus bisa dibenahi," kata Rizal sebagaimana diberitakan Antara.

Ia mengatakan peningkatan tensi perdagangan dunia akibat perang dagang yang terjadi antara AS-China telah memberi tekanan terhadap kinerja perekonomian dunia, setidaknya terhadap pertumbuhan global dan melambatnya perdagangan global.

Hal ini tentunya akan memiliki efek tularan ke negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Memang contagion effects pada masing-masing negara berbeda tergantung seberapa besar atau tinggi keterbukaan ekonominya, seberapa besar exposure ekonominya terhadap ekonomi global.

Untuk Indonesia, meskipun perekonomian nasional 'less exposure' terhadap ekonomi dunia mengingat mesin pertumbuhan nasional bersumber dari konsumsi domestik, namun eskalasi perang dagang AS-China akan memberi imbas pada perlambatan kinerja perdagangan yang memang dalam lima tahun ini belum membaik.

Harga komoditas akan tertekan, sementara ekspor nasional sangat tergantung pada komoditas, ini menjadi catatan serius bagi sektor perdagangan Indonesia. Berikutnya, volatilitas keuangan global juga akan berimbas pada stabilitas sektor keuangan nasional. "Persoalan ini tentunya perlu disikapi dengan taktis dan menggunakan pendekatan pendekatan antisipatif," urainya.

Ini tentunya kata Rizal tantangan bagi Presiden Jokowi beserta kabinetnya untuk mengantisipasi efek tularan lebih dalam dari tensi perang dagang terhadap perekonomian nasional.

Dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China diperkirakan berlanjut setidaknya hingga 2020, karena diduga konflik dagang tersebut digunakan Presiden Donald Trump sebagai alat citra untuk memenangkan Pemilihan Presiden AS pada 2020.

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo, perang dagang juga berpotensi meluas karena AS sedang mengkaji transaksi perdagangan dengan beberapa mitra dagang yang membuat negara "Paman Sam" defisit seperti India dan Meksiko.

Misalnya saat ini AS sedang mengkaji hubungan dagang dengan Vietnam. Bukan tidak mungkin, AS menerapkan kebijakan perdagangan yang progresif untuk membalikkan posisi defisit perdagangan bilateral mereka.

"Kalau bisa mengerucut ke suatu titik, ini akan berhenti pada saat Pemilu. Itu adalah alat untuk Trump memenangkan Pemilu 2019. Kita bisa debat tapi masuk akal bahwa artinya jika begitu akan panjang peluang perang dagang," ujar Dody.

Pandangan mengenai keberlanjutan perang dagang tersebut mengemuka dalam beberapa analisis pelaku pasar. Hal itu juga yang menjadi salah satu pertimbangan beberapa lembaga keuangan internasional untuk memprediksi perlambatan perekonomian global akan berlanjut hingga 2020.

Saat ini, ujar Dody, dampak perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi AS dan China telah menekan volume perdagangan dunia yang mengakibatkan perlambatan perekonomian global.

Konflik dagang antara AS dan China sudah memasuki perang tarif yang sangat mempengaruhi produksi rantai dagang global. AS mengenakan tarif impor sebesar 10-25 persen atas barang-barang impor asal China dengan total nilai 200 miliar dolar AS, sementara China membalas dengan meminta tarif impor sebesar 25 persen atas barang-barang asal AS senilai 60 miliar dolar AS. “Belum lagi, kemungkinan pemerintah AS melakukan bilateral expansion (pengenaan bilateral) untuk mengharapkan perdagangan internasional yang lebih adil,” ucap Dody.

Ia mengatakan kepastian atas ketidakpastian ini akan membuat kondisi pertumbuhan ekonomi global lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya. Hal ini juga berdampak ke Indonesia, karena AS dan China merupakan sasaran ekspor Indonesia.

"Sekarang ini pasar melihat semakin tegas bahwa perlambatan ekonomi akan mulai terjadi secara global, dikonfirmasi oleh lembaga internasional IMF yang mulai menurunkan performa ekonomi negara maju dan berkembang," ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak perang dagang agar tidak semakin menggerus pertumbuhan ekonomi, beberapa bank sentral mulai mengambil kebijakan memangkas suku bunga kebijakan.

BERITA TERKAIT

PKB Harus Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman

PKB Harus Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman NERACA Jakarta - Pasca pelaksanaan muktamar di Nusa Dua, Bali, Partai Kebangkitan Bangsa dinilai…

Legislator: Pemerintah Harus Satu Suara Soal RUU Pertanahan

Legislator: Pemerintah Harus Satu Suara Soal RUU Pertanahan  NERACA Jakarta - Anggota Komisi II DPR, Sutriyono mengatakan, Pemerintah dalam hal…

Berjuang ala CIMB Niaga untuk Melayani Indonesia

    NERACA   Jakarta - Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Tigor M Siahaan menegaskan, sejarah adalah bagian…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perjanjian Dagang RI-Mozambik Siap Ditandatangani

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian dagang atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Mozambik selesai dibahas, selanjutnya tim teknik kedua negara…

Pelaku Usaha Sarang Burung Walet Harus Tingkatkan Kualitas

NERACA Jakarta – Para pelaku usaha sarang burung walet di Jawa Tengah diajak untuk meningkatkan kualitas produksi agar bisa mengambil…

Indonesia Kehilangan Pasar Akibat Tertinggal Jajaki Perjanjian

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat…