Tantangan Indonesia dalam Dinamika Narkotika Global

Oleh Malvino Edward Yusticia

Kanit 4 Narkoba Subdit 3, Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya

Alumni Master of Strategic Studies, Victoria University of Wellington, Selandia Baru

Kantor berita Inggris The Guardian pada bulan Juni yang lalu merilis sebuah laporan investigasi yang mengejutkan: negara-negara kepulauan di Lautan Pasifik dalam kendali kartel narkoba. Kekhawatiran tersebut didasarkan pada fakta semakin berkembangnya lalu-lintas gelap penyelundupan obat-obatan terlarang. Dalam lima tahun terakhir, kawasan Pasifik telah menjadi apa yang dinamakan sebagai “crystal road” jalur perdagangan narkotika—utamanya jenis kokain dan metamfetamin. Lembaga kebijakan strategis dan pertahanan di Australia, Australian Strategic Policy Institute (6/19) pun memberikan afirmasi dengan memberikan pernyataan bahwa negara-negara kecil di Lautan Pasifik menjadi korban dari jaringan kejahatan transnasional (transnational organized crime) yang menemukan jalan dan pasar baru menuju Australia dan Selandia Baru. Fiji, Tonga, Samoa, dan Kepulauan Cook saat ini menjadi negara transit untuk kejahatan terorganisir narkoba dan human trafficking (perdagangan manusia).

Suplai obat-obatan terlarang yang diperdagangkan melalui jalur Pasifik meledak dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan permintaan yang tinggi di kota-kota besar di Australia dan Selandia Baru. Lebih dari itu, harga pasaran barang haram yang dijual di sana sangat menggiurkan bagi pengedar. Pengguna kokain dan metamfetamin di Sydney atau Auckland mau membayar dengan harga tinggi untuk setiap gramnya. Satu gram kokain di Sidney dapat dijual hingga US$ 300, sedangkan jika dijual di Amerika Serikat harganya berkisar US$ 62. Australia saat ini mempunyai catatan sebagai negara pengguna kokain tertinggi perkapita di dunia. United Nations Office on Drugs and Crime(UNODC) memberikan data pertumbuhan produksi kokain yang terus meningkat di dunia. Di Kolombia misalnya, terjadi alih fungsi lahan 423 hektar menjadi tanaman koka sebagai bahan baku untuk memproduksi kokain dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Ada satu data mengenai pertumbuhan lahan pertanian koka dan tempat produksi kokain di Kolombia, bahwa mereka berkonsentrasi di wilayah pesisir Lautan Pasifik.

Rute Penyelundupan Narkotika di Jalur Pasifik

Jalur Pasifik tampaknya semakin populer di antara para penyelundup narkoba untuk mengirimkan produk mereka. Mereka mencari rute Samudera Pasifik untuk menghindari “kebisingan” patroli keamanan di Laut Karibia dan Atlantik. Kontrol perbatasan yang lebih ketat di Amerika Serikat bersamaan dengan kebijakan proliferasi opioid telah menghalangi human trafficking (perdagangan manusia) kurir pengantar narkotika masuk ke negara tersebut. Harga di Amerika Serikat turun sehingga para pedagang mencari pasar baru. Australia menjadi menarik para penjual dan kartel narkotika di Amerika Latin karena keuntungan yang menggiurkan. Krisis politik di Venezuela turut memengaruhi negara-negara tetangganya untuk melakukan patroli ketat terhadap pantai dan pelabuhan timur laut Amerika Selatan.

Pergeseran rute perdagangan kejahatan narkotika melalui Pasifik dibarengi dengan perubahan modus operandi penyelundupan obat-obatan terlarang dengan penggunaan teknologi yang semakin mengecoh deteksi aparat keamanan. Elemen teknologi tinggi semakin banyak diaplikasikan oleh penyalur kokain dan metamfetamin. Para pengedar obat-obatan terlarang saat ini menggunakan pelampung dengan perangkat lokasi satelit yang memungkinkan kemampuan strategi manuver lebih baik. Satu kelompok sindikat meninggalkan obat-obatan di laut dengan pelampung dan mengaktifkan titik koordinat. kelompok lainnya akan menerima frekuensi untuk mengambil barang haram tersebut yang sesuai dengan keamanan mereka. Itu semua bisa mengurangi risiko para sindikat narkotika untuk tersandung patroli aparat keamanan.

Krisis obat-obatan saat ini banyak ditunjang oleh cara kerja yang benar-benar berbeda. Pengalaman penindakan yang dilakukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sendiri misalnya, telah melihat ledakan zat psikoaktif baru yang kuat saat ini bisa dengan mudah disintesis, dibeli dan dijual secara online, dibayar dengan cryptocurrency, dan dikirim dari satu negara ke negara lain dalam jumlah kecil yang sangat sulit dideteksi.

Di Amerika Latin, sindikat lokal produsen kokain membeli daun koka dari petani untuk diolah di dalam laboratorium klandestin dan kemudian menuju pelabuhan. Obat-obatan terlarang dari Kolombia tiba di Pasifik dengan berbagai cara. Beberapa datang dengan kontainer pengiriman, ada yang melalui jalur penerbangan komersial, dan beberapa berlayar dengan perahu kecil dengan rute yang sama dalam beberapa waktu belakangan.

Rute Pasifik dan Keamanan Indonesia?

Wilayah Indo-Pasifik penuh dengan potensi ketidakstabilan dan ancaman konflik dan kejahatan transnasional. Setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan situasi keamanan di Kawasan Pasifik dilanda ketidakpastian. Pertama, terjadinya pengurangan kehadiran dan patroli militer Amerika Serikat dan sekutunya seperti Australia dengan berakhirnya Perang Dingin. Hal itu berakibat pada stabilitas dan keamanan kawasan yang mulai goyah. Kedua, negara-negara di kawasan Pasifik dan mitranya tidak memiliki persepsi yang sama mengenai ancaman terhadap keamanan kawasan.

Indonesia sendiri, meskipun tidak berada langsung di jalur atau rute pelayaran Lautan Pasifik, tetapi berbatasan dan menjadi pintu gerbang ke kawasan Pasifik. Indonesia memiliki lima provinsi yang menjadi bagian dari Pasifik. Kelima provinsi itu adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Luasnya wilayah Indonesia khususnya wilayah laut dan pulau-pulau terluar menjadi tantangan tersendiri untuk mengontrol patroli dan keamanan perbatasan. Sebagai bagian dari kejahatan transnasional, ancaman terbesar peredaran narkotika ada pada daerah perbatasan. Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Lautan Pasifik infrastruktur keamanannya masih sangat memprihatinkan. Dalam hal jumlah pengamanan dari personel Polri dan TNI masih belum mencukupi. Di wilayah Miangas, Sangihe, dan Tagulandang aparat keamanan sangat sulit untuk menjaga pengawasan wilayah tersebut dari jalur perdagangan ilegal. Tidak jarang kondisi tersebut masih menjadi daerah yang rawan sebagai pintu masuk narkotika masuk dan keluar Indonesia.

Komitmen ke depan untuk menguatkan keamanan di perbatasan mutlak untuk dilakukan. Saat ini Indonesia bukan lagi menjadi negara transit, akan tetapi menjadi negara tujuan para bandar narkotika. Pentingnya menjaga perbatasan dan membangun hubungan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Pasifik secara berkelanjutan tidak bisa dikecilkan. Membangun kerangka kerja di antara negara di kawasan Pasifik menjadi krusial menghadapi peningkatan tantangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Lebih dari itu, Indonesia mempunyai kepentingan untuk mempromosikan kerja sama konkret yang sejalan dengan visi Indonesia sebagai negara maritim. Penguatan kerjasama antarnegara Indo-Pasifik menjadi penting untuk memfasilitasi adanya kolaborasi konkret dalam sektor keamanan dan pertukaran informasi terkait berbagai konflik dan ketidakstabilan di kawasan, seperti perdagangan narkotika, human trafficking, terorisme, dan kejahatan transnasional lainnya.

BERITA TERKAIT

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…

Bank Global Mulai Pangkas Jumlah Karyawan

  NERACA Jakarta – Berkembangnya era teknologi informasi turut memberikan perubahan di seluruh lini sektor, tak terkecuali di industri perbankan.…

Pemkot Tangerang Masukkan Pembangunan "Water Way" Dalam RPJMD

Pemkot Tangerang Masukkan Pembangunan "Water Way" Dalam RPJMD NERACA  Tangerang - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang memasukkan program pembangunan "Water Way"…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Politik Pangan dan Kedaulatan Pangan di Hari Kemerdekaan

Oleh: Pril Huseno   Memaknai Hari Kemerdekaan RI ke 74 pada Sabtu (17/8), barangkali akan lebih berarti jika semua stakeholder bangsa ini…

Menghalau Langit Kelabu Jakarta

Oleh: Ahmad Safrudin, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbel  Pencemaran udara telah menjadi bahaya laten karena tidak pernah surut setidaknya hampir…

74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

  Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa   Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat…