Kemenperin Siapkan Insentif untuk Industri Hijau

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan insentif bagi perusahaan atau semua jenis industri penerima Penghargaan Industri Hijau 2012. Kemenperin berpandangan, insentif berupa potongan harga sebesar 10% untuk industri tekstil, alas kaki, dan gula tersebut akan memberikan dampak berupa penghematan energi yang mencapai 25% dan peningkatan produksi hingga 17%.

Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kemenperin, Arryanto Sagala, menjelaskan, insentif untuk industri yang berupa potongan harga apabila perusahaan tersebut ingin melakukan pembaharuan alat atau mesin-mesin yang ada. “Insentif tersebut diberikan karena biaya untuk mesin baru sangat mahal. Insentif berupa potongan harga tersebut sebesar 10% untuk industri tekstil, alas kaki, dan gula. Program tersebut akan memberikan dampak 25 % penghematan energi," ujar Arryanto di Jakarta, Rabu.

Arryanto menambahkan dengan adanya insentif tersebut, peningkatan produktivitas juga mencapai 17 % dan untuk kedepannya pola insentif berupa restrukturisasi permesinan tersebut bisa diterapkan juga pada program pembangunan dan pengembangan industri hijau. "Untuk penghargaan industri hijau yang diselenggarakan Kemenperin ini, kebanyakan diikuti oleh industri makanan, tekstil, dan industri semen," jelas Arryanto.

Setiap tahun, lanjut Arryanto, perusahaan-perusahaan atau industri-industri tersebut harus mendaftar sendiri, dan pada 2011 ada kurang lebih sebanyak 34 perusahaan yang mendaftar untuk mendapatkan penghargaan tersebut, dan di antara mereka sudah ada 10 perusahaan yang masuk dalam kategori industri hijau. "Namun, apabila perusahaan-perusahaan tersebut tidak mempertahankan kinerjanya, maka mereka bisa kehilangan predikat sebagai industri hijau karena akan terus diaudit ditiap tahunnya," kata dia.

Arryanto menjelaskan, apabila kualitas limbah dari perusahaan atau industri tersebut menurun dari tahun sebelumnya, maka akan dikenakan penalti, jadi belum tentu apabila perusahaan yang mendapat sertifikat tersebut akan terus menerima sertifikat itu. "Pada tahun 2012, tidak ada target berapa banyak industri yang harus mengikuti program penghargaan industri hijau namun penghargaan tersebut terbuka untuk semua jenis industri," tambah Arryanto.

Industri hijau merupakan industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Pada tahun 2012, penganugerahan industri hijau merupakan penyelenggaraan yang ketiga kali, dan pada tahun 2011 lalu terdapat 37 perusahaan industri yang terbagi dari 34 industri skala besar serta industri kecil menengah sebanyak tiga perusahaan yang mendaftarkan diri untuk mengikuti program tahunan dari Kemenperin itu, dan diharapkan pada tahun 2012 jumlahnya meningkat.

Lima Sektor

Sementara itu Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur, Panggah Susanto, memaparkan lima sektor Industri padat energi, yakni industri semen, baja, tekstil, keramik dan kaca menggunakan waste heat recovery power generation (WHRPG) untuk mendukung industri hijau. Menurut Panggah, PT Semen Padang yang telah sukses membangun pembangkit listrik tenaga gas buang WHRPG) di pabrik semen Indarung V di Kota Padang, PT Semen Padang berniat menambah satu unit pembangkit WHRPG lagi, dengan kapasitas 10 megawatt (MW).

”Untuk Proyek ini merupakan hasil kerjasama dengan NEDO Jepang yang bertujuan untuk menghemat energi dan meminimalkan emisi gas CO2 melalui mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development,” papar Panggah.

Adapun Agus Boing Nurbiantoro, Direktur Litbang dan Operasi PT Semen Padang mengatakan, pembangkit WHRPG memanfaatkan limbah uap panas yang terbuang dari pabrik semen Indarung II, III dan IV di kota Padang. Sekarang, lanjutnya, masih dalam tahap feasibility study. Agus mengatakan, setelah studi selesai, akan dilanjutkan dengan pengajuan proposal kepada pemegang saham. Jika proposal disetujui, maka pembangunan pembangkit bisa dikerjakan dalam waktu 16 bulan.

Lebih jauh lagi Agus mengungkapkan jika proyek tersebut langsung disetujui, pihaknya optimis proyek pembangkit listrik itu bisa beroperasi tahun 2013. Dana yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik itu diperkirakan sama dengan pembangkit listrik sebelumnya, yakni Rp 200 miliar. Semen Padang saat ini sudah membangun pembangkit listrik WHRPG dengan bekerjasama dengan Nedo Jepang. Proyek yang memanfaatkan gas buang pabrik Indarung V itu kini mampu menghasilkan energi listrik sebesar 8,5 MW.

”Pembangkit yang resmi beroperasi Oktober 2011 lalu itu mampu meningkatkan efisiensi perusahaan hingga Rp 33 miliar per tahun. Kehadiran pembangkit sekaligus mengurangi ketergantungan listrik PT Semen Padang dari PLN, sebesar 100 MW,” tukas Agus.

PT Semen Padang memiliki kapasitas produksi 6,3 juta ton per tahun dengan kebutuhan batubara sebanyak 760 ribu ton/tahun yang berpotensi menghasilkan emisi CO2 cukup besar. “Dengan diterapkannya WHRPG diharapkan emisi CO2 yang dihasilkan dapat berkurang sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi serta meminimalkan dampak lingkungan dan memperlambat pemanasan global,” tandasnya.

Related posts