Pasokan Menurun, Harga Cabai Rawit Naik 100%

NERACA

Jakarta - Harga beberapa bahan baku dapur seperti cabai satu bulan terakhir mengalami peningkatan. Faktor kenaikan ini dipengaruhi oleh ketersediaan suplai bahan baku yang menurun karena pasokan dari daerah seret lantaran belum memasuki masa panen. Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) mencatat, cabai jenis rawit yang mengalami peningkatan hingga 100% dibanding Februari 2012.

Menurut Sukoco, Koordinator Wilayah AACI, harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp 25.000 per kilogram (Kg), naik lebih 100% dibandingkan Februari lalu yang hanya Rp 10.000 per kg-Rp 12.000 per kg. Sukoco menjelaskan, kenaikan harga cabai ini trennya akan terus naik paling tidak hingga dua bulan mendatang.

Salah satu penyebabnya adalah saat ini suplai cabai dari beberapa daerah sentra mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan, sentra cabai di beberapa daerah sudah tidak menghasilkan karena lewat masa panen."Kemungkinan panen raya cabai mulai berlangsung Mei-Juni mendatang," ramal Sukoco di Jakarta, Rabu.

Tidak hanya di sisi petani, kenaikan harga cabai juga terjadi di Pasar Induk Sayuran dan Buah Kramat Jati (PISBKJ). Suminto, Staf Pusat Data dan Informasi PISBKJ memastikan, harga cabai khususnya rawit merah terjadi lonjakan yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang dihimpun dari PISBKJ, harga cabai rawit merah saat ini sebesar Rp 35.000 per kg. Angka tersebut melonjak 94% dibandingkan Februari lalu yang hanya Rp 17.000 per kg-Rp 18.000 per kg. Sementara untuk jenis cabai yang lain seperti cabai keriting, cabai besar dan rawit hijau relatif stabil dan bahkan mengalami penurunan.

Suminto mengakui, suplai cabai rawit ke PISBKJ mengalami pengurangan, apabila satu bulan lalu suplai cabai mencapai 170 ton per hari, kini rata-rata dalam sehari suplainya hanya berkisar 150 ton per hari-160 ton per hari. Suminto merinci, saat ini hanya sentra cabai di daerah Rembang dan Jawa Barat saja yang menghasilkan, sementara sentra yang lain seperti Magelang, Banyuwangi dan Madura kondisinya belum memasuki masa panen.

Terkait dengan dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nampaknya sedikit banyak akan berimbas terhadap kenaikan harga cabai. Sukoco memprediksi, setidaknya harga cabai akan meningkat sekitar 10% apabila rencana kenaikan BBM tersebut tetap dilakukan oleh pemerintah. Kenaikan tersebut didasarkan pada kalkulasi kenaikan biaya transportasi.

Harga di Daerah

Sementara itu harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di Makassar naik hingga mencapai Rp30.000 per kilogram. Padahal pekan sebelumnya harga masih berkisar Rp23.000-Rp 24.000 per kilogram. Diperkirakan harga hasil komoditas pertanian tersebut bakal semakin melambung siring dengan adanya rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang belaku mulai awal bulan April.

Daeng Kanang, pedagang di Pasar Daya kenaikan ini disebabkan stok sedang kurang. Pasokan dari Pinrang dan Enrekang yang biasanya datang dua kali seminggu, kini hanya sekali seminggu bahkan kadang dua minggu sekali. Selain cabai rawit merah yang setiap hari naik, beberapa jenis cabai lainnya juga ikut naik sekitar Rp5.000 dari kondisi sebelumnya. ''Hampir setiap hari naik pak. Coba bapak tanya sendiri ke pedagang lain," katanya.

Untuk pembeli eceran, harga cabai rawit merah lebih mahal karena dijual Rp4.000 per ons atau total Rp40.000 per kilogram. Demikian untuk jenis cabai lainnya, harga ecerannya lebih mahal ketimbang yang membeli dalam jumlah banyak. "Kalau jual eceran kan juga harus diperhitungkan susutnya. Jadi memang lebih mahal. Beda dengan yang sekaligus membeli lima atau sepuluh kilogram,'' papar Mahmud, pedagang sayur di Pasar Tamangmaung.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Sulawesi, Hadi Basalama, dikonfirmasi terpisah mengakui jika harga cabai memang paling rawan berfluktuasi. Itu disebabkan karena jenis tanaman ini sangat dipengaruhi cuaca. "Pekan lalu Sulsel dilanda curah hujan yang cukup tinggi. Produksi cabai berkurang karena tingkat risiko yang tinggi pula," jelas Hadi.

Hadi menolak asumsi jika melonjaknya harga komoditas pertanian tersebut sebagai respons pedagang atas rencana kenaikan BBM. "Sejak dulu harga cabai juga selalu tidak stabil. Ini sama dengan telur. Komoditi pangan ini bergantung iklim," bebernya.

Related posts