Agar UKM Berdaya Saing, Tularkan Konsep "Monozukuri"

NERACA

Jakarta - Konsep "monozukuri" yang menjadi landasan semangat bagi wirausaha Jepang dalam memproduksi dan menciptakan produk berkualitas tinggi, melalui penyempurnaan proses dan sistem produksinya sehingga mampu bersaing, bertahan, dan ekspansi ke pasar global.

Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang (PPIJ) Rachmat Gobel tengah mencoba menularkan semangat wirausaha berbasis konsep "monozukuri" yang terbukti berhasil membawa negeri Jepang menjadi salah satu negara industri yang maju saat ini.

Racmat sebagai salah satu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menilai konsep tersebut bisa membantu industri kecil dan menengah di dalam negeri yang ingin mengembangkan usahanya lebih baik, lebih besar, lebih bersaing, dan bertahan dalam dinamika pasar yang semakin terbuka. "Konsep itu telah diterapkan oleh wirausaha Jepang sejak ratusan tahun dan sangat baik jika dicontoh oleh wirausaha kecil dan menengah di tanah air," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/3).

Rachmat menjelaskan konsep “monozokuri” berhasil menjadi penggerak sektor riil dan cikal bakal kemajuan teknologi di Jepang. “Dunia usaha kita bisa mencontohnya, bahkan untuk pengembangan industri berbasis budaya sekalipun, sehingga bisa menghasilkan produk berkualitas dan menembus pasar global," jelasnya.

Dalam konsep itu, lanjut dia, dibangun semangat dan jiwa memproduksi dan menciptakan produk berkualitas yang memiliki keunggulan dengan rasa bangga. Oleh karena itu, pihaknya akan menghadirkan tokoh wirausaha Jepang yang sukses mempertahankan dan mengembangkan bisnis mereka, yaitu pengusaha makanan tradisionil Jepang, Kurokawa yang merupakan Toraya Confectinery.

Toraya merupakan salah satu perusahaan tertua pembuat makanan tradisional Jepang yang berdiri sejak 400 dan sejak abad 16 melayani makanan keluarga kekaisaran Jepang. "Kami berharap dunia usaha kita, khususnya Usaha Kecil dan Menengah (UKM), bisa mendapat inspirasi dalam konsep pengembangan usaha, serta hubungan antara industri kecil, menengah, dan besar, sehingga sinergi dalam menggerakkan perekonomian yang lebih baik," ujar Rachmat.

Di Jepang, berdasarkan data METI (Ministery of Economy, Trade and Industry), industri yang termasuk “monozukuri” mencapai 99,3% dari jumlah industri di Jepang. Pada tahun 2005 tercatat 293 ribu industri berkategori tersebut mampu menyerap 8,2 juta tenaga kerja, dengan total produksi 98,7 triliun Yen atau setara dengan Rp8,5 miliar.

Related posts