Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA

Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi. Berdasarkan catatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), porsi investor ritel di pasar obligasi Tanah Air masih minim bila dibandingkan dengan negara lain.

Ekonom Pefindo, Fikri C Permana mengatakan, Indonesia menempati posisi terendah yakni 20,4% terhadap produk domestik bruto yang terdiri atas 16,7% di instrumen obligasi Pemerintah dan 2,8% di instrumen obligasi korporasi. Adapun, berada di urutan teratas terdapat Malaysia dengan porsi 104,7% terhadap PDB dengan selisih tipis antara penempatan dana di obligasi pemerintah dan korporasi. “Sementara itu, setingkat di atas Indonesia, terdapat Vietnam dengan porsi total 21,2% yang 19,3% di antaranya berasal dari obligasi Pemerintah dan 1,8% dari obligasi korporasi,”ujarnya.

Menurutnya, rendahnya minat investor Tanah Air karena masyarakat yang mewakili investor ritel belum berani masuk ke pasar keuangan. Masyarakat, lanjutnya, masih lebih nyaman mengandalkan tabungan ketimbang menggunakan produk keuangan lain seperti surat utang dan saham."Orang Indonesia lebih rendah jumlahnya yang masuk ke pasar keuangan dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Fungsi intermediasi kita sangat terbatas,"jelasnya.

Dalam hasil risetnya, Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen mengatakan terdapat dua kelompok investor ritel yakni kelompok yang memutuskan langsung masuk ke pasar surat utang dan kelompok yang masuk melalui instrumen reksadana obligasi. Dari sisi minimum investasi, reksadana obligasi bisa dimulai dengan Rp100.000. Sementara itu, pada instrumen obligasi, nilainya lebih besar.

Sebagai contoh, pada Savings Bond Ritel (SBR) saja investasi minimum sebesar Rp1 juta. Sementara untuk membeli obligasi secara langsung dibutuhkan minimum investasi yang jauh lebih besar. Selain itu, dari sisi pengelolaan, reksadana obligasi menawarkan fasilitas tim manajer investasi. Dengan tim manajer investasi ini, katanya, strategi bisa disesuaikan dengan kondisi pasar sehingga bisa mendapat imbal optimal.”Manajer investasi dapat memanfaatkan fluktuasi di pasar untuk mendapatkan return yang lebih optimal," katanya.

BERITA TERKAIT

Salurkan KPR Rp 300 Triliun - BTN Telah Biayai 5 Juta Masyarakat Indonesia

Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) KPR ke 43 yang jatuh pada tanggal 10 Desember mendatang, PT Bank Tabungan Negara (Persero)…

Geliat Bisnis Jalan Tol - WTR Beri Pinjaman CCT Rp 206,57 Miliar

NERACA Jakarta- Dukung pengembangan bisnis di jalan tol, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road…

CJ CGV Restrukturisasi Saham di Graha Layar

NERACA Jakarta - CJ CGV Co Ltd merestrukturisasi kepemilikan sahamnya pada PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ). Perusahaan bioskop asal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…