Sisa Saham Sepenuhnya di Tangan Underwriter - Garuda Pasrah

NERACA

Jakarta - Perusahaan penerbangan milik negara, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendukung percepatan penjualan 10,88% saham penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang diserap tiga penjamin emisi (underwriter) pelat merah, yaitu PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities, dan PT Mandiri Sekuritas.

Direktur Keuangan GIAA, Elisa Lumbantoruan mengungkap, dengan percepatan penjualan ini maka akan dapat mendukung kinerja ketiga underwriter ini sebagai penjamin emisi IPO maupun obligasi. "Logikanya, karena bidang mereka sebagai penjamin emisi jadi tidak boleh berlama-lama memegang (sisa saham milik Garuda)," kata dia di Jakarta, Kamis (29/3).

Mengenai mekanisme penjualan dan harga yang ditetapkan, Elisa mengatakan hanya ketiga penjamin emisi ini yang menentukan. "Namun bagaimana menjualnya tentunya mekanismenya itu mereka yang menentukan" tambahnya.

Sebelumnya, sebagai salah satu penjamin emisi IPO Garuda, PT Danareksa melalui PT Danareksa Sekuritas, segera menentukan penasihat keuangan (financial advisor) pada pekan depan untuk menilai harga penjualan sisa saham Garuda.

Hal itu diungkapkan Direktur Utama Danareksa, Edgar Ekaputra, yang mengatakan pihaknya telah mengantongi 13 nama perusahaan penasihat keuangan, salah satunya Fourteen Houses Advisor.

Nantinya, penasihat keuangan terpilih ini akan menghitung nilai wajar harga penjualan saham maskapai pelat merah tersebut. "Kita kan tidak tahu kondisi pasar seperti apa,” tukas dia, kemarin. Namun, pihaknya juga berharap harga saham Garuda yang akan dilepas berada pada level yang terbaik.

Setelah itu, penasihat keuangan terpilih yang akan menyampaikan surat penawaran kepada sejumlah investor baik domestik maupun asing. Dia juga tidak mempermasalahkan apabila asing berkeinginan membeli saham perseroan. Menyoal beberapa penguasaha muda yang berminat untuk membeli saham Garuda, Elisa menyerahkan seluruhnya kepada penasihat keuangan.

"Kita terbuka kalau investor domestik ingin membelinya, tapi kalau asing juga tidak masalah karena kepemilikan domestik sendiri sudah 90%," imbuhnya. Ketiga underwriter BUMN ini masih menyimpan saham aviasi beraset terbesar tersebut sebanyak 2,46 miliar lembar saham karena gagal diserap pasar.

Lips service

Sebelumnya, komentar pedas dilontarkan Agus S Irfani. Lektor Kepala FE Universitas Pancasila ini menegaskan mustahil harga saham maskapai penerbangan pelat merah ini bakal di atas pasar. “Logika sederhananya, mana mungkin barang tidak laku dijual lalu di obral dengan harga mahal? Yang ada juga di bawah harga normal,” cetus Agus kepada Neraca.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam teori ekonomi terdapat tiga nilai penjualan. Yaitu, nilai buku atau akuntansi, nilai pasar, dan nilai lelang atau likuidasi atau kebangkrutan. Nah, Garuda berada pada pilihan ketiga atau nilai lelang. Dijelaskan pula, jika ada satu perusahaan penilaiannya masuk kategori lelang maka harga jualnya pasti di bawah pasar.

Mengenai rasa optimisme Kementerian BUMN kalau harga saham Garuda akan naik saat ditawarkan kepada investor, dinilai Agus hanyalah sebatas "lips service”. Karena, lanjut dia, hal tersebut bertujuan untuk mengangkat nilai jual perusahaan penerbangan BUMN beraset terbesar ini.

Di tempat terpisah, pelaku pasar yang dekat dengan kalangan bursa mengatakan, meskipun tahun lalu Garuda berhasil mencatatkan laba bersih Rp 808,64 miliar atau naik 50% dibanding tahun sebelumnya, harga yang terbentuk saat ini, Rp 600 per lembar, sudah tinggi.

Bahkan, dia menyebutkan harga wajar yang pantas untuk Garuda di posisi Rp 565 per lembar. Itu sebabnya, kalau mau aman, tiga underwriter ini harus berani buntung alias menjual di bawah harga IPO. “Kalau tidak dilepas, Garuda hanya akan memperbesar angka kerugian. Sudah rugi lantaran capital loss, rugi bunga pula,” papar sumber yang enggan disebutkan namanya ini. [ardi]

Related posts