PPK Kemayoran Ingin Jadikan Gedung Eks Bandara Kemayoran Jadi Cagar Budaya

NERACA

Jakarta - Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran mengusulkan agar gedung eks Bandara Kemayoran dijadikan sebagai cagar budaya. Pasalnya di gedung ini banyak menyimpan sejarah Indonesia, salah satunya terdapat tiga relief pada ruang tunggu VIP Bandara Kemayoran. Tiga relief tersebut merupakan hasil karya Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono dan Soerono.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan PPK Kemayoran Riski Renando mengungkapkan bahwa bangunan eks bandara Kemayoran ini menjadi salah satu bangunan bersejarah bagi Indonesia karena pada era nya dahulu, bandara Kemayoran menjadi pintu gerbangnya Indonesia. “Di dalam bandara eks Kemayoran khususnya di ruangan VIP, terdapat relief yang terdapat di dinding. Hingga saat ini, relief ini masih terpajang dengan baik, sehingga kita harapkan ini bisa menjadi cagar budaya,” kata Riski di Jakarta, Rabu (17/7).

Menanggapi permintaan dari PPK Kemayoran, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sri Hartini mengatakan sesuatu untuk bisa dijadikan cagar budaya itu ada persyaratannya. Dari sisi umur, kata Sri Hartini, barang atau bangunan tersebut berumur lebih dari 50 tahun. “Kalau dilihat dari sisi umur, saya rasa sudah layak dijadikan cagar budaya karena umurnya lebih dari 50 tahun,” sambung Sri.

Selanjutnya, kata Sri, nantinya ada tim ahli baik dari Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat untuk mengkaji bangunan ataupun relief tersebut. “Jika nanti dinyatakan layak dijadikan cagar budaya, namun cagar budayanya mendapatkan peringkat apa?, apakah nasional, provinsi atau kabupaten kota,” tambahnya.

Dengan adanya UU No 5 Tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, katanya, maka itu bisa memanfaatkan ruang publik untuk bisa berkespresi. “Kalau memang memungkinkan, kedepannya nanti kita akan kerjasama dalam memanfaatkan bangunan ini, karena banyak nilai yang terkandung dari bangunan dan relief nya,” jelasnya.

Relief yang terbuat dari batu ini merupkan gagasan dari Presiden Soekarno pada 1957. Relief itu dibuat sebagai upaya sambutan kepada para tamu negara yang mana tema dari relief tersebut merupakan kekayaan Indonesia. Karena diminta oleh Presiden Soekarno, masing-masing seniman meresponnya dengan cerita yang berbeda-beda. Seperti Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya bertema flora dan fauna. Kemudian Soedjojono menggambarkannya dalam tema Manusia Indonesia. Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda klasik berasal dari tanah Pasundan yaitu Sangkuriang.

BERITA TERKAIT

Implementasi Budaya Anti Korupsi, BTN Kerjasama dengan KPK

      NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (BTN) menjalin kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)…

Pemerintah Ingin Komponen Lokal Digunakan di Mobil Esemka

Pemerintah Ingin Komponen Lokal Digunakan di Mobil Esemka  NERACA Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong Esemka yang digadang-gadang menjadi mobil…

Tambah Jadwal KA Bandara

Alangkah sempurnanya jika pengelola KA Bandara, PT Railink, dapat menambah jadwal perjalanan dari stasiun Bekasi khususnya mulai Pk. 06.00 sampai…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Anggaran untuk Pembangunan Infrastruktur Naik 4,9%

  NERACA Jakarta - Pemerintah berencana untuk menggelontorkan anggaran infrastruktur dari APBN 2020 sebesar Rp419,2 triliun atau meningkat 4,9 persen…

Manipulasi Perintah Hakim, Jaksa Agung Dinilai Abaikan Larangan Presiden

  NERACA Jakarta - Pada pidato Sidang Tahun DPR/MPR 16 Agustus kemarin, Presiden Joko Widodo menginginkan tidak adanya ego sektoral…

Anggaran Pindah Ibukota Tak Masuk APBN 2020

  NERACA Jakarta -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah belum mengandalkan belanja negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan…