Saham Berkah Prima Masuk Pengawasan BEI

NERACA

Jakarta – Mengalami peningkatan harga saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawasi perdagangan saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) atau masuk dalam kategori unusual market activity (UMA).”Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham BLUE, BEI sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini,"kata Lidia M. Panjaitan, Kepala Divisi Pengawasan Transaksi dan Irvan Susandy, Kepala Divisi Pengaturan dan Operasional Perdagangan BEI dalam pengumuman bursa di Jakarta, Rabu (17/7).

BEI menambahkan, pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan bidang pasar modal. BEI mengimbau para investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat tersebut atas permintaan konfirmasi bursa. Selain itu, investor juga perlu mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya. Kemudian, mengkaji kembali rencana aksi korporasi emiten apabila belum mendapat persetujuan dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).

Terakhir, sebelum mengambil keputusan investasi, penanam modal juga perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari. Sejak initial public offering (IPO) pada 8 Juli 2019, harga saham BLUE terus menguat. Pada perdagangan Rabu (17/7) pukul 09.28 WIB, harga saham BLUE naik 10,90% ke Rp 865 per saham.

Saham ini dibuka pada harga Rp 810, serta menyentuh harga terendah di Rp780 dan harga tertinggi di Rp 940. Pada masa penawaran umum saham BLUE terjadi oversubscribed sebanyak 2,8 kali dari total penawaran. Emiten tinta isi ulang ini menunjuk PT Indo Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek beserta PT Semesta Indovest Sekuritas dan PT Bosowa Sekuritas sebagai penjamin emisi.

Perseroan mengungkapkan, seluruh dana yang diperoleh saat IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan untuk beberapa kebutuhan. Pertama, sebesar Rp 10,67 miliar untuk pelunasan pokok obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh Koperasi Bintang Timur Kapital. Kedua, sebesar Rp 7,42 miliar untuk pelunasan pokok obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh PT MNM Indonesia. Ketiga, sekurang-kurangnya Rp 633,5 juta atau 7% per tahun yang dihitung dari nilai obligasi wajib konversi, akan digunakan untuk pembayaran denda pelunasan atas obligasi wajib konversi yang dimiliki oleh Koperasi Bintang Timur Kapital dan PT MNM Indonesia.

Terakhir, sisa dana sebesar Rp 3,11 miliar akan digunakan untuk modal kerja kegiatan bisnis dalam pembelian persediaan barang dagangan seperti tinta, kertas thermal dan printer thermal portable. Herman menjelaskan dalam perjalanannya, Blueprint dikenal sebagai mereka kompatibel dengan kualitas paling premium di setiap kategori produk yang dijual dan telah menyabet beberapa penghargaan salah satunya rekor MURI produk tinta produsen printer.

BERITA TERKAIT

BEI Perbanyak Sekolah Pasar Modal di DIY

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal guna menjaga ketahanan pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan sosialisai…

Kota Sukabumi Masuk Nominasi Pengelolaan JDIH Terbaik Nasional

Kota Sukabumi Masuk Nominasi Pengelolaan JDIH Terbaik Nasional NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi masuk dalam nominasi pengelolaan Jaringan…

Wilton Repo Saham Renuka Coalindo

NERACA Jakarta - Wilton Resouces Pte Ltd pemegang saham pengendali (PSP) PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) melakukan penjualan sebanyak 50…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BTN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Bengkulu

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) siap mendorong pertumbuhan ekonomi di Bengkulu agar bisa lebih maju lagi, salah satunya melalui…

Kinerja Keuangan Melorot - ANJT "Kencangkan Ikat Pinggang" di Operasional

NERACA Jakarta – Terkoreksinya pencapaian kinerja keuangan PT Austindo Nusantara Tbk (ANJT) di paruh pertama tahun ini, menjadi pertimbangan emiten…

Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko…