Pemerintah Akan Terapkan B30 untuk Kurangi Porsi Impor Bahan Bakar

Pemerintah Akan Terapkan B30 untuk Kurangi Porsi Impor Bahan Bakar

NERACA

Jakarta – Kepala Litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya tengah melakukan uji coba dan memastikan apakah kandungan biodiesel B20 bisa diterapkan sebagai standar campuran kandungan B30. Menurutnya, hasil uji coba ini akan menjadi parameter bagi pemerintah untuk memutuskan apakah penerapan B30 bisa berjalan atau tidak pada 1 Januari 2020.

"Kita sedang uji coba dan memastikan untuk kandungan campuran biodiesel terutama monogriserida yang harus kita uji lebih detail, apakah cocok atau tidak, kalau ini lolos ya kita pakai, kalau tidak cocok, terpaksa kita pakai biodiesel yang standarnya lebih tinggi dari yang digunakan di luar negeri," kata Dadan seusai Diskusi Ilmiah betrtajuk "Tantangan dan Peluang Imoplementasi B30 & B100" yang digelar Masyarakat Pelumas Indonesia (MASPI) di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (17/7).

Lebih lanjut Dadan mengatakan ada delapan mobil bermesin diesel dan 3 kendaraan komersial menggunakan B30 yang akan menyelesaikan jarak 50 ribu kilometer. Kendaraan penumpang yang diuji akan menempuh rute Lembang - Cileunyi - Nagreg - Kuningan - Tol Babakan - Slawi - Guci - Tegal - Tol Cipali - Subang - Lembang sejauh 560 km per hari dengan target 50 ribu km. Secara total, perjalanan tersebut memakan waktu 159 hari. Sementara itu tiga unit kendaraan komersial dengan berat di atas 3,5 ton akan diuji melewati Lembang - Karawang - Cipali - Subang - Lembang sejauh 350 km per hari dengan target 40 ribu km selama 149 hari.

Dadan menargetkan penelitian dan uji coba biodiesel 30 persen ini dapat rampung pada pertengahan bulan Oktober 2019. "Insya allah pertengahan Oktober selesai. Ini kan diuji 50 ribu kilometer (km), jadi per 2,500 km kita record, perlu sekitar 80 harian," ucapnya.

Ditambahkan Dadan, Kementerian ESDM saat ini tengah memastikan bahwa kualitas biodieselnya sudah sesuai dan mencukupi."Saat ini jumlahnya sudah cukup, dan metode monitoringnya juga sudah ada. Jadi dari segi bahan bakar sudah tidak ada masalah," ungkapnya.

Dia mengatakan, Menteri ESDM meminta penerapan B30 jangan sampai meningkatkan biaya perawatan, serta mengurangi kinerja bahan bakar yang terlalu jauh."Nah, dua hal ini yang saat ini sedang kita pantau, di B20 kan tidak terjadi. Asumsi saya, kendaraan di Indonesia sudah siap untuk menuju B30, tapi kan mesti dibuktikan terlebih dahulu," terang Dadan.

Dadan menjelaskan, saat ini kapasitas biodiesel mencapai 12 juta kiloliter (KL) per tahun. Sedangkan untuk kebutuhan sebesar 9 juta KL per tahun."Sekarang untuk B20 kita perlu 6 juta KL per tahun, secara perhitungan masih ada dan cukup," katanya.

Ia memastikan bahwa penerapan B30 dapat mengurangi porsi impor bahan bakar Indonesia."Impor kita sebenarnya bukan tidak banyak, tapi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya semakin menurun. Nah, jika B30 diterapkan, impor solar akan 0 (nihil), jadi tahun depan sudah tidak perlu impor untuk solar lagi, karena produksi Pertamina juga sudah mulai nambah untuk solar," kata dadan.

Namun, Dadan justru khawatir jika tidak tidak ada lagi impor solar akan membuat produksi solar Pertamina melimpah."Tidak adanya impor akan membuat produksi solar Pertamina suplus, sambil berjalan kita akan carikan solusinya. Jika ingin diekspor, tinggal kita carikan pembelinya," papar Dadan.

Sekedar informasi, B30 atau yang disebut dengan Biodiesel 30% merupakan bahan bakar alternative yang dibuat dari minyak solar murni dicampur dengan FAME 30%, yang dihasilkan berasal dari bahan nabati bisa berupa kelapa sawit, kemiri sunan, biji matahari serta beragam produk organik lainnya.

Manfaat B30 adalah sebagai pengganti bahan bakar konvensional yang berasal dari minyak bumi. Jadi B30 kombinasi 70% solar murni dan 30% biodiesel yang telah diolah melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi. Mohar/Iwan

BERITA TERKAIT

Punya Prestasi Moncer, Dirut Citilink Layak Pimpin Garuda Indonesia

Punya Prestasi Moncer, Dirut Citilink Layak Pimpin Garuda Indonesia NERACA Jakarta - Prestasi membanggakan selama menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut)…

Menkop Minta Daerah Fokus Kembangkan Produk Unggulan

Menkop Minta Daerah Fokus Kembangkan Produk Unggulan NERACA Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan, setiap daerah harus…

DPRD-Pemprov Jabar Tandatangani Kesepakatan Rancangan APBD 2020

DPRD-Pemprov Jabar Tandatangani Kesepakatan Rancangan APBD 2020   NERACA Bandung - DPRD dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) menyepakati dan…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Transformasi Bukalapak, Selaras Tren Suksesi Perusahaan IT Ternama

Transformasi Bukalapak, Selaras Tren Suksesi Perusahaan IT Ternama  NERACA Jakarta – Tren suksesi kepemimpinan nampaknya sedang marak dilakukan oleh berbagai…

Prof. Rajab Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Universitas Moestopo

Jakarta-Pakar komunikasi Prof. Dr. Rajab Ritonga mengungkapkan, saat ini belum ada standar pendidikan calon wartawan yang rigid. Siapapun boleh menjadi…

Dewan Kota Sukabumi Desak Pemkot Bangun Rumah Singgah

Dewan Kota Sukabumi Desak Pemkot Bangun Rumah Singgah  NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi didesak segera membangun rumah singgah…