Waktu Terbaik Mendapatkan Sinar Matahari

Banyak orang beranggapan bahwa sinar matahari pagi di bawah pukul 09.00 WIB adalah yang terbaik untuk tubuh. Namun, anggapan itu tidak tepat. Tubuh membutuhkan sinar matahari langsung untuk memproduksi vitamin D. Sinar ultraviolet dari matahari yang mengenai kulit akan membentuk vitamin D3 atau previtamin D dalam jumlah banyak. Vitamin D3 kemudian diolah oleh hati dan ginjal menjadi vitamin D aktif yang dibutuhkan oleh tubuh.

Ahli penyakit dalam, dr Siti Setiati menyebut, waktu terbaik mendapatkan sinar matahari bukan lah pukul 09.00 WIB. "Sinar matahari pagi itu [sebelum pukul 09.00 WIB] belum memiliki ultraviolet B, yang dibutuhkan untuk mengubah vitamin D3 menjadi vitamin D aktif," ujar Siti dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jakarta, beberapa waktu lalu dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut Siti, sinar ultraviolet B baru muncul saat waktu menunjukkan lebih dari pukul 09.00 WIB. Temuan ini didapatkan Siti dari penelitian yang pernah dilakukannya berjudul Pengaruh Pajanan Sinar Matahari terhadap Konsentrasi Vitamin D (25(OH)D) dan Hormon Paratiroit pada Perempuan Usia Lanjut Indonesia.

Siti menyarankan untuk berjemur di bawah sinar matahari langsung di atas pukul 09.00 WIB."Di atas jam 09.00 perlu waktu sekitar 15 menit. Kalau pukul 11.00 sinar ultraviolet B sudah banyak jadi cukup lima menit saja. Semakin siang, semakin sebentar. Lakukan tiga kali seminggu saja," tutur Siti.

Bagian tubuh yang perlu terpapar adalah wajah dan tangan atau bagian punggung dan kaki. Dianjurkan pula untuk menggunakan kacamata hitam demi melindungi mata. Namun, Anda juga tak disarankan untuk berlebihan mendapatkan sinar matahari. Banyak terpapar sinar matahari dapat memicu kanker."Jangan berlebihan karena bisa kanker kulit. Tapi sebenarnya pigmen kulit orang Indonesia itu sudah bagus," ucap Siti.

Di sisi lain, Segudang manfaat vitamin D telah diyakini banyak orang. Vitamin D disebut berperan besar untuk menghindari tulang dari keretakan. Tak heran jika suplemen vitamin D kerap direkomendasikan bagi orang lanjut usia demi mencegah osteoporosis. Namun, kini Anda mungkin perlu 'menyembunyikan' suplemen vitamin D untuk sementara waktu. Hasil penelitian anyar melawan anggapan manfaat suplemen vitamin D untuk kesehatan tulang.

Penelitian itu menyebut bahwa suplemen vitamin D sama sekali tak menyehatkan tulang, apalagi menghindari orang dewasa dari risiko tulang retak. Justru, penelitian yang dipublikasikan dalam Lancet Diabetes & Endocrinology itu menemukan bahwa suplemen vitamin D terkait dengan peningkatan beberapa risiko penyakit seperti osteoporosis dan hipertensi."Penelitian kami menemukan bahwa suplemen vitamin D tak mampu mencegah kerusakan tulang atau memperbaiki kepadatan tulang, meski dikonsumsi dalam dosis tinggi," ujar pemimpin studi, dr Mark J Bolland dari University of Auckland, New Zealand, mengutip CNN.

Para peneliti melakukan meta-analisis terhadap lebih dari 53 ribu orang yang didominasi oleh wanita berusia 65 tahun ke atas. Mereka adalah orang-orang yang getol mengonsumsi suplemen vitamin D harian.

Kendati demikian, bukan berarti suplemen vitamin D sepenuhnya buruk. Penelitian juga menemukan bahwa suplemen vitamin D membantu mencegah beberapa kondisi langka seperti rakitis dan osteomalasia yang merupakan kelainan penyebab tulang lunak. Atas hasil penelitian itu, Boland mengimbau para dokter untuk menyetop rekomendasi penggunaan suplemen vitamin D pada pasien untuk mencegah osteoporosis. "Harus ada perubahan guideline soal itu," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial

Sistem Data Kemiskinan Palembang Masuk 10 Inovasi Terbaik Geospasial   NERACA Palembang - Sistem Informasi Data Kemiskinan Kota Palembang masuk 10…

Kota Sukabumi Masuk Nominasi Pengelolaan JDIH Terbaik Nasional

Kota Sukabumi Masuk Nominasi Pengelolaan JDIH Terbaik Nasional NERACA Sukabumi - Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi masuk dalam nominasi pengelolaan Jaringan…

Pertumbuhan Ekonomi Tergantung Waktu

    NERACA   Jakarta - Direktur Riset Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), Berly Martawardaya, memprediksi laju pertumbuhan ekonomi…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Mengurai Fakta di Balik Sit Up Bisa Kecilkan Perut Buncit

Tak ada orang yang ingin punya perut buncit. Pasalnya perut buncit dianggap akan mengurangi penampilan seseorang. Hanya saja sayangnya, mengecilkan…

'Menyelamatkan' Stok ASI di Kulkas Ketika Listrik Padam

Ketika listrik padam, ibu menyusui langsung merasa panik. Apalagi mereka yang punya banyak stok ASI perah dalam lemari es. Bagi…

Berbagai Manfaat Telur Rebus untuk Kesehatan

Ada banyak cara untuk mengolah telur. Setiap cara pengolahan telur menawarkan manfaat kesehatan yang berbeda untuk tubuh. Merebus telur adalah…