Zurich Jamin Kesehatan Hingga Rp30 miliar - Luncurkan Produk Critical Advantage

NERACA

Jakarta - Zurich Indonesia meluncurkan produk asuransi untuk penyakit kritis yaitu Zurich Critical Advantage (ZCA). Produk terbaru ini memberikan manfaat utama akses kesehatan di luar negeri hingga mencapai US$ 2 juta atau Rp30 miliar. “Produk Zurich Critical Advantage merupakan inovasi terbaru kami untuk menjawab kebutuhan perlindungan masyarakat Indonesia terhadap risiko penyakit kritis seperti kanker dan penyakit jantung,” kata Cgief Distribution Officer Zurich Topas Life, Budi Darmawan saat peluncuran produk, di Jakarta, Selasa (16/7).

Memang, berdasarkan data riset kesehatan dasar yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada 2014, dua penyakit kritis tertinggi di Indonesia adalah penyakit kanker dan jantung. Risiko penyakit kritis ini terjadi pada masyarakat perkotaan, dimana gaya hidup yang kurang sehat dan kurang olahraga dinilai menjadi penyebab penyakit tersebut. Data Globocan 2018 mengungkapkan, ada 348.809 orang penderita kanker baru dalam satu tahun di seluruh Indonesia dengan rincian: kanker payudara 58.000 kasus, kanker leher rahim 32.000, kanker paru 30.000, kanker usus besar 30.000, dengan 207.000 kematian akibat kanker ini.

Dari sejumlah penyakit katastropik yang biayanya ditanggung Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, jantung menempati urutan teratas dengan pembiayaan yang cukup tinggi. Di urutan kedua dan ketiga, ada kanker dan stroke. Data ini terungkap dari laporan aplikasi BOA (Branch Office Application), yang mengungkapkan BPJS Kesehatan mengucurkan biaya untuk pengobatan penyakit jantung peserta dari Januari - September 2017, sebesar Rp6,5 triliun.

Diakui Budi, bahwa hal itu menjadi peluang bagi industri asuransi agar bisa memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Akan tetapi yang perlu ditekankan, kata Budi, yaitu manajemen risiko dari produk ini. “Jadi memang produk Zurich Critical Advantage (ZCA) ini dikhususkan bagi mereka yang belum terkena penyakit kritis. Jadi ketika sudah didiagnosa terkena penyakit lalu baru mendaftar maka tidak bisa menggunakan program ZCA,” katanya.

Untuk besaran premi, ia menjelaskan premi yang harus ditanggung tidak terlalu besar yaitu sebesar Rp3 juta per tahun untuk usia 1 tahun hingga Rp13 juta per tahun untuk usia diatas 80 tahun. “Jadi besaran preminya dilihat dari usia,” jelasnya.

Gaya hidup perkotaan yang selalu dikedepankan, banyak masyarakat yang kerap mengkonsumsi makanan tidak sehat dan kurang berolahraga, ditambah dengan kebiasaan yang malas bergerak. Maka tak ayal, penyakit jadi tidak mengenal usia baik yang muda maupun yang sudah tua juga berisiko terkena penyakit kritis. Setelah didiagnosa penyakit kritis, tak jarang banyak masyarakat lebih memilih pengobatan di luar negeri dengan harapan bisa ditangani oleh dokter ahli dan dengan teknologi yang canggih.

“Maka saya rasa Zurich Critical Advantage menjadi produk yang paling maksimal karena bisa mengcover perawatan medis kelas dunia di luar negeri. Manfaat perawatan yang mencapai US$2 juta ini mendapatkan fasilitas cashless di seluruh dunia, dan layanan second medical opinion dari ahli medis terkemuka. Produk ini merupakan inovasi dari Zurich untuk memberikan akses medis terbaik bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Survei BI : Optimisme Konsumen Menguat

      NERACA   Jakarta - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2019 mengindikasikan optimisme konsumen menguat, tercermin…

Indonesia – Jepang Sepakati Transaksi Dagang Pakai Uang Lokal

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menyepakati kerangka kerja…

Tinggalkan Otomotif, Radana Finance Fokus UMKM dan Syariah

    NERACA   Jakarta – PT Radana Bhaskara Finance Tbk (Radana Finance) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi industri multifinance…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bank Sudah Bersiap Sinergi Konvensional dengan Syariah

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan sejumlah bank sudah mulai memasukkan sinergi perbankan umum konvensional…

Proses Penguatan Bank Muamalat oleh Calon Investor Masih Berjalan

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan hingga saat ini penguatan modal di Bank Muamalat oleh…

Jaga Kinerja Perbankan, OJK dan LPS Perlu Diperkuat

    NERACA   Jakarta - Sinergi antara Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu untuk segera…