Ekonom Ingatkan Investasi dan Permintaan Melandai

NERACA

Jakarta- Meski Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 surplus sebesar US$200 juta, surplus neraca perdagangan kali ini disebabkan oleh surplus nonmigas sebesar US$ 1,16 miliar, sementara defisit migas mencapai US$966,8 juta. Namun hal tersebut menurut ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede tetap harus diwaspadai.

Menurut dia, laju impor non-migas yang terus menurun menandakan investasi dan permintaan di pasar domestik masih stagnan dan itu diperkirakan bisa terjadi hingga akhir semester II 2019. Disampaikannya, laju impor di Juni 2019 yang menurun 20,7% secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Mei 2019 mengindikasikan kontraksi yang signifikan.

Josua mengatakan, penurunan impor non-migas itu lebih karena momentum jeda saat libur Lebaran 2019 pada Juni 2019, dan menurunnya aktivitas industri manufaktur atau pengolahan di domestik. Penurunan impor non-migas memang tampak bisa memperbaiki kualitas neraca perdagangan dan juga defisit transaksi berjalan. Namun jika penurunan impor disebabkan penurunan kegiatan industri manufaktur, maka hal itu perlu dicermati karena akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi domestik.”Impor non-migas hingga Juni 2019 juga mengalami kontraksi sejalan dengan penurunan aktivitas manufaktur domestik. Defisit neraca perdagangan diperkirakan akan kembali menyusut pada semester II 2019 sejalan dengan tren melandainya investasi dan pertumbuhan permintaan domestik yang terbatas," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya BPS mengumumkan bahwa ekspor di Juni 2019 anjlok 20,54% (mtm) menjadi US$11,78 miliar, sedangkan impor merosot mencapai 20,7% menjadi US$ 11,58 miliar. Meskipun ekspor menurun, karena impor yang merosot lebih dalam, maka neraca perdagangan Indonesia di Juni 2019 tercatat surplus US$ 196 juta.

Josua menjelaskan, dengan perkiraan masih landainya investasi dan permintaan di semester II 2019, maka impor non-migas tidak akan begitu "membebani" neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Dengan begitu, defisit transaksi berjalan diperkirakan menyusut di akhir 2019 menjadi 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibanding 2018 yang sebesar 2,98% PDB.

Sedangkan untuk ekspor yang hingga Juni 2019 masih tertekan, menurut dia, karena lemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti untuk komoditas batu bara, dan produk kelapa sawit. Turunnya permintaan itu menggambarkan masih lemahnya aktivitas manufaktur dari negara tujuan ekspor Indonesia."Selain penurunan volume eskpor, penurunan harga komoditas ekspor seperti kelapa sawit sepanjang bulan Juni lalu juga turut menekan kinerja ekspor non-migas," ujarnya.

Sementara Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati meminta agar aktivitas ekspor terus digenjot mengingat nilai ekspor Indonesia turun pada Juni 2019 meskipun neraca perdagangan mengalami surplus. "Yang paling penting Presiden tetap meminta kepada seluruh menteri bersungguh-sungguh di dalam menangani masalah neraca perdagangan ini, artinya ekspor harus terus digenjot," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan, untuk itu perlu adanya dukungan dari kementerian dan lembaga melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Adapun mengenai dukungan yang diberikan oleh kementerian yang dipimpinnya, Sri Mulyani mengatakan Kementerian Keuangan akan banyak mengeluarkan kebijakan tentang perpajakan serta bea dan cukai.”Serta peraturan lain yang mungkin mempengaruhi kinerja ekspor. Kami akan terus menerus bekerja sama dengan instansi lain di dalam mendukung ekspor dan menciptakan industri dalam negeri yang lebih kuat,"kata Sri Mulyani.

BPS melansir data neraca perdagangan Juni 2019 mengalami surplus US$ 0,2 miliar atau tepatnya US$ 196,0 juta dengan total ekspor US$ 11,78 miliar dan total impor US$ 11,58 miliar.”Nilai neraca perdagangan Indonesia Juni 2019 mengalami surplus US$ 196,0 juta yang disebabkan oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$ 1.162,8 juta walaupun sektor migas defisit US$ 966,8 juta ," ujar Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. bani

BERITA TERKAIT

Presiden Diminta Cermat dan Hati-Hati Pilih Menteri

NERACA Jakarta - Pengamat hukum tata negara dari Universitas Jember Bayu Dwi Anggono berpendapat Presiden Joko Widodo harus berhati-hati dan…

Badan Riset Dorong Prioritas Riset dan Inovasi Lebih Terarah

    NERACA   Jakarta - Wakil Direktur Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI)…

RUU Pertanahan Bertentangan dengan Keinginan Jokowi Tarik Investasi - Anggota Panja RUU Pertanahan FPG Firman Subagyo

RUU Pertanahan Bertentangan dengan Keinginan Jokowi Tarik Investasi Anggota Panja RUU Pertanahan FPG Firman Subagyo NERACA Jakarta - Rancangan Undang-undang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…

PERLU NILAI TAMBAH EKONOMI DIGITAL - JK: Tiru China Bangun Inovasi Digital

Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan agar pengusaha muda Indonesia tidak hanya membangun marketplace. Generasi muda katanya juga harus berpikir…

AKIBAT KENAIKAN IMPOR NONMIGAS - NPI Defisit US$63,5 Juta di Juli 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2019 terjadi defisit US$ 63,5 juta, yang merupakan…