Membangun Persatuan Bangsa Melalui Gerakan Konten Positif di Medsos

Oleh : Sintya Azharoh, Mahasiswi Universitas Paramadina

Perkembangan tekonologi informasi telah banyak mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Termasuk soal urusan persahabatan. Bahkan tidak jarang diantara kita harus bermusuhan dengan teman sejawat karib dikarenakan berbeda pendapat hingga saling bully di media sosial. Memang harus diakui dampak kampanye politik 2019 sangat besar berpengaruh terhadap pembelahan sosial serta bahlan polarisasi hampir semua kehidupan. Hal ini dapat dirasakan dikarenakan terdapat oknum oknum yang mempunyai agenda lain seperti paham.radiklisme yang ikut mendompleng pada setiap momentum bangsa. Disinilah kita semua harus cerdas memilah dan memilih bacaan maupun postingan.

Tidak salah bila dikatakan kampanye politik 2019 sebagai kampanye terburuk dalam historiografi politik Indonesia. Sebab dalam kampanye politik 2019 pengunaan hoax kian kentara dan terang-terangan. Hal itu dibuktikan dengan pengunaan teknikfirehose of falsehood(semburan hoax). Jika ditelisik pengunaan teknikfirehose of falsehoodtelah terbukti membuat pembelahan publik semakin mengental. Apalagi konten konten tersebut juga sering menggunakan isu SARA . Bahkan, pasca pemilu 2019 pembelahan sosial itu masih terus berlanjut yang dikhawatirkan akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Disinilah makin terlihat memang terdapat kelompok tertentu yang.memiliki agenda lain dan tidak menginginkan bangsa Indonesia Maju.

Selain itu pengunaanfirehose of falsehoodsangat berbahaya bagi masa depan literasi di Indonesia. Sebab, teknik ini akan terus berupaya membuat publik tidak lagi mempercayai mediamainstrem. Bila kita belajar dari pemilu di Amerika Serikat 2016 teknik firehose of falsehoodbisa bergerak cepat menyebar dikarenakan masyarakat Amerika Serikat saat itu lebih mempercayai media sosial ketimbang mediamainstream. Bahkan, banyak propaganda yang menuduh bahwa media mainstreamsebagai bagian darifakenews. Ketidakpercayaan terhadap berita mainstreamini yang dipergunakan untuk memperkuat isu-isu hoaks yang disebarkan secara liar dan berantai baik melalui sosial media hingga aplikasi pesan sepertiWhatsapp.

Beruntung tidak semua negara di dunia bisa dikalahkan dengan teknikfirehose of falsehood.Tapi Penerapan teknikfirehose of falsehoodcukup berhasil membuat masyarakat mempercayai hoax. Akan tetapi, kita sedikit berbangga karena Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil menghadapifirehose of falsehood dengan baik, meski tingkat literasi kita sangat rendah. Salah satu penyebab mengapa di Indonesia semburan dusta mengalami kegagalan, dikarenakan banyak warganet yang menjadi relawan digital dengan berupaya melakukan konfirmasi. Hingga membangun narasi tandingan terhadap berbagai hoax yang beredar selain itu penindakan hukum atas berbagai pelanggaran ITE sangat cepat dan konsisten dilakukan penegak hukum sehingga jaringan pelaku dan tujuannya cepat ditindak dan dihentikan.

Salah satu langkah yang diambil kalangan insan warganet cukup unik yakni dengan menyajikan konten tandingan yang bernilai positif misalkan dengan disisipi humor terhadap hoax tersebut. Dengan kata lain, konten hoax yang tersebar kemudian diparafrasemenjadi konten humor. Dengan begitu publik yang menerima hoax, seolah-olah sedang mendapatkan guyonan (humoris) dan segera sadar bila informasi itu adalah hoax. Artinya konten humoris tentu akan membuat kedua pendukung lebih cepat berdamai di ranah digital. Sebab konten kreatif yang humoris akan membuat pembaca akan lebih mengedepankan emosi jenaka ketimbang emosi kebencian. Jadi perlu diingat bahwa ditengah situasi kita sedang menerima hoax, diperlukan daya kreativitas agar informasi hoax tidak menyulut emosional. Dengan demikian untuk merajut perdamaian digital diperlukan banyak konten kreatif yang humoris di media sosial.

Singkat kata, ada serpihan yang bisa kita jadikan evaluasi dari gelaran kampanye politik 2019 terutama dalam upaya merajut perdamaian di ranah digital. Yakni perlu upaya mendorong para warganet yang memiliki daya kreativitas dan imajiner untuk turut serta memproduksi konten positif. Dengan demikian, konten kreatif yang bernilai positif dengan berlandaskan kegembiraan tentu akan semakin mempererat persatuan antar anak bangsa dan dipercaya meredam upaya pecah belah hanya karena hoaks.

BERITA TERKAIT

Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko…

Kantor Pusat Kedua Grab Dapat Mencegah Brain Drain Anak Bangsa

  NERACA   Jakarta - Perubahan besar menuju ekonomi berbasis pengetahuan tak terelakkan. Terbukanya pasar tenaga kerja antarnegara membuat talenta…

Persatuan Insinyur : 6 Turbin Dipulihkan Itu Luar Biasa

      NERACA   Jakarta - Chairman Persatuan Insinyur Profesional Indonesia (PIPI) Raswari, mengapresiasi kinerja cepat PLN dalam mengatasi…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Politik Pangan dan Kedaulatan Pangan di Hari Kemerdekaan

Oleh: Pril Huseno   Memaknai Hari Kemerdekaan RI ke 74 pada Sabtu (17/8), barangkali akan lebih berarti jika semua stakeholder bangsa ini…

Menghalau Langit Kelabu Jakarta

Oleh: Ahmad Safrudin, Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbel  Pencemaran udara telah menjadi bahaya laten karena tidak pernah surut setidaknya hampir…

74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

  Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa   Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat…