Kemenperin Tumbuhkan Wirausaha Baru Bagi Penerima PKH

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) terus berupaya mendorong tumbuhnya wirausaha baru industri kecil dan menengah (WUB IKM) di Indonesia. Salah satu langkah strategis yang dilakukan, dengan menggelar bimbingan teknis (bimtek) wirausaha IKM makanan dan IKM kerajinan bambu di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Bimtek terSebut, diselenggarakan untuk keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Ini sebagai tindak lanjut MoU kerja sama antara Kemenperin dan Kementerian Sosial,” kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Dirjen IKMA berharap, melalui kegiatan bimtek itu, para penerima manfaat program PKH di Magelang dapat menjadi wirausaha baru yang sukses dengan menerapkan nilai-nilai kemandirian, memiliki etos kerja tinggi, serta kreatif dan inovatif. “Jadi, mereka lulus dari program PKH tersebut dan bisa menjadi produktif,” ujarnya.

Gati menyampaikan, PKH merupakan program perlindungan sosial yang diinisiasi oleh Kemensos dengan tujuan membantu keluarga miskin dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Guna meningkatkan kemampuan mereka dalam berwirausaha, Kemenperin telah menggelar bimtek untuk menjadi pelaku IKM makanan dan IKM kerajinan bambu.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 8-12 Juli 2019 di Magelang tersebut diikuti 60 perserta, terdiri dari 30 penerima manfaat PKH yang mendapatkan fasilitas bimtek cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) dan kemasan. Sedangkan, 30 penerima PKH lainya yang berasal dari Kecamatan Borobudur mengikuti pelatihan teknis produksi kerajinan bambu.

Gati optimistis, para calon WUB IKM tersebut akan berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara khusus di Magelang, hingga tingkat ekonomi nasional. “Kabupaten Magelang memiliki beraneka ragam produk makanan ringan. Yang perlu ditingkatkan lagi adalah pengemasannya sehingga membuat harga jualnya dapat lebih tinggi dan bisa memperluas akses pemasarannya. Selain itu, potensi kerajinan bambu perlu dimanfaatkan secara maksimal,” paparnya.

Selain bimtek peningkatan kemampuan SDM, para peserta juga mendapat fasilitasi mesin dan peralatan penunjang perbaikan mutu produk pangan seperti perekat kemasan (sealer), peniris minyak, serta mesin dan peralatan untuk peningkatan kapasitas produksi kerajinan bambu. “Setelah mengikuti kegiatan ini, dengan mendapatkan materi-materi pelatihan yang beraneka ragam, kami meyakiin para peserta PKH bisa tergugah keinginan dan idenya untuk berwirausaha, dan akan muncul wirausaha-wirausaha yang tangguh,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Magelang, Endot Sudiyanto menyampaikan, harapan tumbuhnya wirausaha baru yang tangguh itu untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di kabupaten Magelang. “Kami ingin masyarakat Magelang menjadi pemain baru dalam bisnis lokal maupun global,” tuturnya.

Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPPA) Kabupaten Magelang, Retno Indriastuti menuturkan, program PKH rata-rata bisa mengentaskan 10 sampai 20 keluarga dari kemiskinan setiap bulannya.

“Tahun 2018, terdapat 54.288 keluarga penerima manfaat PKH. Angka tersebut terus turun setiap bulannya. Saat ini, antara 10 hingga 20 keluarga dapat dientas dari kemiskinan,” tandasnya. Adapun komponen keluarga penerima manfaat PKH, antara lain balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, lansia serta anak sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA.

Industri manufaktur memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal seiring dengan peningkatan investasi di dalam negeri. Tidak hanya sumbangsih dari investor skala besar, pertumbuhan di sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga mendorong meningkatnya penyerapan tenaga kerja manufaktur.

“Sektor IKM telah menyerap tenaga kerja sebanyak 11,68 juta orang atau sebesar 60 persen dari total pekerja di sektor industri,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Jakarta, Senin (8/7).

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp199,1 triliun, naik menjadi Rp222,3 triliun di tahun 2018.

BERITA TERKAIT

Mendag Pastikan Harga Bapok di Solo Jelang Nataru Aman

NERACA Kementerian Perdagangan Kemendag menjamin bahwa pasokan bahan pokok di Solo, Jawa Tengah menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020…

Presiden Ingin Impor Petrokimia Ditekan

Presiden Ingin Impor Petrokimia Ditekan   NERACA Cilegon - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pabrik baru polyethylene (PE) PT Chandra…

Kemenperin Komit Mendorong Sektor IKM

NERACA Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong perkembangan peranan perempuan dalam bidang usaha, termasuk industri kecil menengah (IKM).…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KKP Siap Mendorong Pembudidaya melalui KUR

NERACA Jakarta – Komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam mendorong pembudidaya ikan tidaklah main-main. Hal ini dibuktikan dengan mendorong para…

Industri Es Krim, 5 Tahun Kedepan Tumbuh 10 persen

NERACA Jakarta  - Siapa yang tidak suka es krim? Banyaknya konsumen es krim maka industri ini dalam 5 tahun kedepan…

BGR Merevitalisasi Gudang Semi Factory

NERACA Medan – Demi memajukan sebuah industri bidang logistics maka PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), atau BGR Logistics merevitalisasi gudang…