RI-Korsel Mulai Negosiasi Perjanjian Ekonomi Bilateral

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan telah menyampaikan gambaran situasi perekonomian Indonesia saat ini, hubungan perdagangan bilateral Indonesia-Korsel, serta peluang perdagangan dan invetasi di Indonesia. Sehingga, Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat untuk segera memulai tahapan negosiasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA).

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan mengajak para pelaku bisnis Korsel untuk menanamkan investasinya di Indonesia. “Jika para investor Korsel tertarik berinvestasi di Indonesia, investasinya dapat berbentuk smart capital yang mencakup quick wins, infrastruktur lunak dan keras, skala industrialisasi yang besar dan pengetahuan ekonomi. Kerja sama investasi ini akan menguntungkan kedua negara,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Kamis (29/3).

Kedua negara tersebut menargetkan volume perdagangan Indonesia-Korsel pada 2015 mencapai US$ 50 miliar dan US$ 100 miliar pada 2020. ”Kami optimis dapat mencapai target tersebut jika didukung oleh IK-CEPA,” jelas Gita.

Sebelum memulai negosiasi IK-CEPA, pemerintah kedua negara telah melakukan serangkaian tahapan, yang dimulai dari pembentukan Joint Study Group (JSG), konsultasi publik dan sosialisasi hasil studi JSG. Setelah bertemu tiga kali, tim JSG mengeluarkan laporan yang merekomendasikan agar kedua negara membentuk CEPA karena saling menguntungkan.

Indonesia-Korea Selatan pada 2011 mencapai US$29,4 miliar dengan nilai ekspor sebesar US$16,4 miliar dan impor sebesar US$12,9 miliar, atau naik 44,93% dibandingkan total perdagangan pada 2010 sebesar US$20,3 miliar. Tren total perdagangan kedua negara selama 5 tahun terakhir (2007-2011) positif sebesar 25,11%.

Neraca perdagangan Indonesia dengan Korsel sejak 2007 hingga 2011 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami surplus perdagangan. Neraca perdagangan tahun 2011 surplus bagi Indonesia sebesar US$3,4 miliar.

Komoditi ekspor utama Indonesia ke Korsel antara lain batubara, briket, bijih tembaga, kimia kayu pulp, karet alam, balata, kertas dan karton, kayu lapis; benang kapas, kelapa sawit, inti sawit serta produk yang diproduksi seperti alas kaki, tekstil dan garmen, dan furnitur.

Sementara, komoditi impor utama Indonesia dari Korsel adalah aplikasi elektronik untuk telepon line, karet sintetis, sirkuit terpadu elektronik, kain rajutan, kain tenunan dari benang filamen sintetik, Poliasetal, dan polieter lainnya.

Di bidang investasi, Korsel merupakan investor terbesar keenam di Indonesia dengan nilai akumulasi investasi sebesar US$3,35 miliar selama periode 10 tahun terakhir (2000-2010) dengan 1.400 proyek. Pada 2011, Korea menempati posisi investor terbesar kelima dengan realisasi investasi US$1,2 milliar.

Investasi Korea meliputi sektor industri logam, mesin dan elektronik, kimia dan farmasi industri, tekstil, kulit dan industri garmen, alas kaki, industri makanan, industri karet dan plastik, konstruksi dan telekomunikasi serta peralatan transportasi.

Related posts