Indonesia Perlu Tingkatkan Perdagangan Bilateral Dengan AS - Genjot Ekspor

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia menyarankan pemerintah meningkatkan kerja sama perdagangan bilateral dengan Amerika Serikat agar dapat mensubstitusi komoditas ekspor yang selama ini dipasok China ke negeri Paman Sam sehingga Indonesia dapat mengeruk hasil positif dari perang dagang antara dua negara raksasa ekonomi dunia itu.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung DPR Jakarta, disalin dari Antara, mengatakan untuk mempererat hubungan bilateral dengan AS, Indonesia dapat mengganti pasokan impornya dari negara lain ke AS, seperti untuk komoditas kedelai maupun katun.

"Untuk komoditas itu bisa kita impor dari AS supaya kita selanjutnya bisa mengekspor ke AS khususnya garmen, furnitur, elektronik, dan sejumlah mesin serta peralatan tertentu," ujar Perry.

Perry mengingatkan perang dagang, dalam hal ini yang terjadi antara AS dan China tidak selalu memberikan imbas negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi negara-negara yang terlibat dalam rantai perdagangan global.

Dampak perang dagang antara AS dan China, ujar Perry, memang membuat kinerja ekspor sejumlah negara mengalami perlambatan termasuk Indonesia. Namun, Indonesia bisa mencontoh Vietnam yang sukses mengeruk hasil positif dari sengketa antara China dan AS. Hal itu karena Vietnam dapat menggantikan komoditas ekspor dari China yang biasa diekspor ke AS.

"Pertumbuhan ekonomi AS ada kecenderungan menurun, sehingga permintaan barang-barang ekspor, tidak hanya ke Indonesia, tetapi dari seluruh negara memang menurun. Kecuali sejumlah negara, seperti Vietnam karena dapat memenuhi yang dulu dipasok Cina ke AS," ujarnya.

Oleh karena itu, di saat seperti ini, strategi perdagangan bilateral lebih efektif dibandingkan perdagangan multilateral. Perry menyarankan pemerintah lebih intensif mendelegasikan misi perdagangan ke AS. "Caranya dengan lebih banyak mengirim misi dagang ke AS untuk bisa menjual komoditas-komoditas kita ke sana," ujarnya.

Hingga Mei 2019, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus 0,21 miliar dolar AS. Angka itu membaik dari kondisi April 2019 yang mencatat defisit 2,28 miliar dolar AS. Namun, perbaikan neraca perdagangan tersebut tidak cukup untuk memperbaiki secara signifikan neraca transaksi berjalan. Di kuartal II 2019, neraca transaksi berjalan diperkirakan defisit dua persen hingga tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Walaupun terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Amerika Serikat tetaplah tujuan penting dari ekspor Indonesia. Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan pada penghujung tahun 2018, AS tetap menjadi urutan nomor satu negara prioritas bagi produk Indonesia. Pengukuran ini menggunakan empat buah indikator yang mencakup indikator makro ekonomi yang berhubungan dengan daya dorong atau daya tarik untuk ekspor barang dan jasa, indikator perdagangan, indikator hambatan alamiah, dan indikator hambatan tarif maupun non tarif. Kondisi ini tentu saja dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia jika dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, perang dagang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dengan tetap memperhitungkan selisih perdagangan bilateral yang saat ini sudah mencapai USD 12,6 miliar agar tidak semakin melebar. Pilihan komoditas ekspor yang tepat dan strategi diplomasi perdagangan Indonesia perlu terus dioptimalkan agar penetrasi produk-produk Indonesia ke pasar Amerika Serikat dapat memperkecil defisit neraca perdagangan yang ada saat ini.

Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, peluang ini dapat menjadi bumerang bagi Indonesia karena dikhawatirkan akan menyebabkan AS mencabut mekanisme generalized system of preferences (GSP) terhadap Indonesia. Terlebih baru-baru ini Indonesia juga kalah dalam kasus pengenaan trade remedy oleh AS yang berdampak signifikan bagi ekspor produk kertas ke Amerika Serikat.

“Bukan tanpa alasan kita harus fokus mempertahankan penetrasi produk kita ke pasar Amerika Serikat. Setidaknya pada semester pertama tahun 2018, enam dari sepuluh komoditi utama ekspor Indonesia menempatkan mereka sebagai negara tujuan pada posisi teratas – industri tekstil dan produk tekstil (TPT), karet dan produk karet, alas kaki, udang, kakao dan kopi, posisi ketiga untuk komoditi hasil hutan dan posisi kesembilan untuk komoditi sawit dengan total nilai ekspor kedelapan komoditi tersebut mencapai USD 5,5 juta,” jelas Pingkan.

Indonesia sebaiknya mengoptimalkan ekspor pada komoditas TPT, karet dan produk karet untuk memasuki pasar Amerika Serikat selama perang dagang berlangsung. Menimbang bahwa kedua komoditas tersebut menempati pos ketiga terbesar bagi komoditas ekspor China ke AS, setelah mesin dan perangkat transportasi serta komoditi ragam produk. Selain itu, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas dengan proses pengolahan agar menambahkan nilai pada komoditas yang diekspor.

BERITA TERKAIT

KKP Menggenjot Devisa melalui Ekspor Benih Lobster

NERACA Jakarta – Demi menggenjot devisa negara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana melakukan ekspor benih lobster. Menteri Kelautan dan…

2019, Rapor Peternak Unggas Merah

NERACA Jakarta - Tahun 2019 merupakan tahun tersulit bagi usaha budidaya ayam broiler. Tercatat selama tahun 2019 peternak rakyat mandiri…

Peringati Harkannas Ke-6, KKP Gelar Indonesia Seafood Expo

NERACA Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) ke-6 tahun 2019, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

KKP Menggenjot Devisa melalui Ekspor Benih Lobster

NERACA Jakarta – Demi menggenjot devisa negara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana melakukan ekspor benih lobster. Menteri Kelautan dan…

2019, Rapor Peternak Unggas Merah

NERACA Jakarta - Tahun 2019 merupakan tahun tersulit bagi usaha budidaya ayam broiler. Tercatat selama tahun 2019 peternak rakyat mandiri…

Peringati Harkannas Ke-6, KKP Gelar Indonesia Seafood Expo

NERACA Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) ke-6 tahun 2019, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat…