Pemilu Sudah Selesai, Saatnya Rekonsiliasi Media Sosial dan Bersama Membangun Negeri

Oleh : Anwar Zakaria, Mahasiswa Universitas Negeri Surakarta

Selama Pemilu (Pemilihan Umum) 2019 banyak yang menggunakan Media Sosial (Medsos) dalam kampanye secara positif, tapi tidak dipungkiri medsos menjadi media kampanye hitam. Efek dari kampanye hitam dapat memecah belah masyarakat. Hal inilah yang mendorong masyarakat Indonesia dengan jumlah 150 juta pengguna medsos untuk segera melakukan rekonsiliasi medsos. Medsos merupakan media daring, dengan para penggunanya mudah berpartisipasi, berbagi, berkomunikasi, berjejaring sosial dan negatifnya saling kritik yang membuat kegaduhan sosial.

Indonesia sebagai penikmat dan pengguna medsos harus sadar fungsi serta dampak negatif medsos. Selama ini pemerintah cukup tegas dalam beberapa tahun terakhir ini menanggani kasus penyalahgunaan medsos. Banyak contoh orang yang dipenjara karena liar menggunakan medsos. Mulai dari musisi terkenal Ahmad Dhani divonis hukuman penjara 1 tahun 6 bulan pada 28 Januari 2019 lalu, setalah terdakwa melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atas twitnya pada 2017 yang dinilai menyebarkan kebencian dan permusuhan.

Kasus lain UU ITE dari kelompok Saracen yang eksis difacebookdanwebsitepada pertengahan 2017. Kelompok Saracen mengunggah konten berisi ujaran kebencian dan hoaks yang ditujukan kepada kelompok tertentu. Bahkan, beberapa postingan menyinggung sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Media yang digunakan untuk menyebarkan konten negatif antara lain di Grup Facebook Saracen News, Saracen Cyber Team, situs Saracennews.com dan berbagai grup lain yang menarik warganet untuk bergabung.

Aksi teror di Selandia Baru juga sangat mengerikan, karena pelaku sempat menyiarkan langsung serangan tersebut difacebookselama 17 menit. Vidio brutal ini lantas menyebar dengan cepat di platform medsos. Perusahaan-perusahaan teknologi pun dibikin kalang kabut.Facebook, ambil contoh, langsung menghapus sekitar 1,5 juta salinan vidio yang beredar dikanal milik mereka, 24 jam usai aksi teror berlangsung. Langkah serupa juga diambil perusahaan lainnya, dariYouTube,Twitter, hinggaReddit.

Kasus diatas membuat bangsa ini harus berbenah diri tentang bagaimana cara bermedsos yang bijak. Setelah terjadi puncak kegaduhan bermedsos di Indonesia pada gelaran Pemilu April 2019, Kini nampaknya pasca Pemilu ternyata masih terdapat, pihak-pihak yang berseteru dimedsos , hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat kelompok kelompok tertentu yang memang meimiliki agenda lain agar bangsa kita hancur. Salah satu kelompok tersebut adalah yang berlaham radikalisme yang terus bermaun dengan propaganda propaganda berbalut isu SARA.

Rekonsiliasi medsos perlu dilakukan. Adastatementmenarik dari pidato Wakil Presiden (Wapres) terpilih 2019-2024 yaitu Prof. KH. Ma’ruf Amin setelah beliau ditetapkan KPU pada Minggu, 30 Juni 2019, menyatakan “Antar tetangga, antar teman, antar keluarga, hanya karena berbeda pilihan politik, jangan ada lagi saling blokir-memblokir di media (sosial). Dan harus kita akhiri.”

Kyai Ma’ruf Amin sebagai calon orang nomor 2 di Indonesia setelah dilantiknya nanti pada bulan Oktober mendatang, tentunya sangat memperhatikan pentingnya persatuan bangsa ini. Pandangan Kiai Ma’ruf Amin bahwasanya menuju kesejahteraan Indonesia dibutuhkan persatuan.Hal tersebut sebelumnya juga disampaikan Presiden Jokowi bahwa aset terbesar bangsa ini adalah persatuan dan persaudaraan untuk membangun bangsa menuju kemajuan bangsa. Menginggat persatuan saat ini mulai terkikis karena penggunaan medsos yang saling menghujat dan penyebaran ujaran kebencian. Harapannya para kontestan Pemilu 2019 secara cerdas dan bijaksana melakukan rekonsiliasi untuk mendinginkan suasana para pendukung dan simpatisan.

Semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah memiliki tugas yang sama dalam mewujudkan rekonsiliasi sebagai upaya penyelesaiaan perbedaan pilihan politik. Contoh rekonsiliasi yang cukup signifakan yaitu pertemuan Presiden Jokowi dan Wapres 2019-2024 Kiai Ma’ruf Amin dengan rivalnya di Pilpres 2019 yaitu Bapak H. Prabowo Subianto dan Bapak H. Sandiaga Uno. Jika pertemuan kedua kontestan ini bertemu maka gejolak perpecahan dibawah akan terobati. Mulai saat ini para netizen harus mensemarakkan kampanye yang mengandung konten konten positip yang menumbuhkan optimisme dan mendorong rekonsiliasi guna keutuhan Indonesia. Mari kita lawan Hoax dan paham radikalisme yang terus berupaya menghancurkan persatuan bangsa.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipertanyakan Asing, Wajarkah?

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019…

Mitigasi Risiko Turunnya Ekspor Indonesia

Oleh: Gresika Bunga Sylvana, Mahasiswa S2 Risk Management City University of New York Amerika Serikat terancam mengalami resesi ekonomi. Kabarnya,…

Mengecam Aksi Ledakan Bom di Medan

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak boleh…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipertanyakan Asing, Wajarkah?

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019…

Mitigasi Risiko Turunnya Ekspor Indonesia

Oleh: Gresika Bunga Sylvana, Mahasiswa S2 Risk Management City University of New York Amerika Serikat terancam mengalami resesi ekonomi. Kabarnya,…

Mengecam Aksi Ledakan Bom di Medan

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak boleh…