Volume Ekspor Komoditas Indonesia Dinilai Bervariasi

NERACA

Jakarta – Bank Dunia mencatat volume ekspor komoditas Indonesia bervariasi, seperti volume ekspor minyak mentah, gas dan karet tercatat menurun, sementara di sisi lain volume ekspor batubara, minyak sawit dan logam dasar terpantau menguat.

"Volume ekspor batubara, minyak sawit dan logam menguat tetapi belum mampu mengimbangi penurunan harga," kata Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia, Frederico Gil Sander, dalam pemaparannya di acara peluncuran The June 2019 edition of the Indonesia Economic Quarterly di Jakarta, disalin dari Antara.

Sander mencatat ekspor minyak mentah dan gas turun sebesar 70,7 persen dan 13,8 persen masing-masing. Penurunan tersebut hampir dua kali lipat dan tiga kali lipat daripada kontraksi yang tercatat pada kuartal sebelumnya.

Pelemahan tersebut disebabkan oleh turunnya produksi minyak di blok Mahakam yang dioperasikan Pertamina, yang produksi minyak dan gasnya hanya mencapai 90 persen dari target kumulatif pemerintah di kuartal pertama 2019.

Sementara itu, ekspor logam dasar menguat sebesar 64,5 persen dengan tingkat yang lebih kecil dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya. Penguatan tersebut, kata dia, berkat meredanya dampak pencabutan larangan ekspor.

Lebih lanjut, Sander mengatakan ekspor batubara di kuartal pertama 2019 meningkat 10,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dan lebih besar daripada penguatan 7,6 persen di kuartal keempat 2018.

Meski demikian, dia mengatakan kenaikan volume ekspor belum mampu mengimbangi penurunan harga batubara sehingga menurunkan nilai ekspor komoditas tersebut. Demikian juga dengan volume ekspor minyak sawit yang menguat 9,8 persen berkat tingginya permintaan biodiesel dari Tiongkok dan Uni Eropa. Meski demikian, peningkatan tersebut terbebani oleh turunnya harga minyak sawit.

Pengamat ekonomi Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya mendorong kebijakan terhadap industri berorientasi ekspor lebih ditingkatkan pada periode kedua kepemimpinan Joko Widodo. “Kita baru berfokus pada konsumen dalam negeri, tapi tidak mengejar pasar di luar negeri," kata Berly.

Berly mencontohkan Vietnam sebagai salah satu negara yang telah menerapkan industri berorientasi ekspor. Vietnam berhasil menggaet Korea untuk membuat pabrik pembuatan ponsel di negaranya, sehingga saat ini hampir seluruh di ASEAN ponsel dibuat oleh Vietnam.

Hal ini dapat diterapkan pada pengembangan sektor nonmigas yang mengalami peningkatan ekspor pada Mei 2019 ini. "Selama ini kita mengekspor minyak sawit dan tambang sebagai bahan baku yang belum diolah, padahal jika kita mengolahnya kedua bahan tersebut dapat dijual dengan nilai yang lebih tinggi," kata pria yang juga merupakan Direktur Riset INDEF itu.

Ia mencontohkan salah satu hasil tambang yaitu nikel dapat diolah menjadi bahan baku baterai ponsel yaitu lithium. "Jika bisa diolah dan menghasilkan nilai transaksi yang lebih tinggi, maka nilai ekspor pun akan lebih dari saat ini," kata Berly.

BERITA TERKAIT

Lepas 414 Juta Saham Ke Publik - Telefast Indonesia Bidik Dana IPO Rp 80 Miliar

NERACA Jakarta – Dorong pertumbuhan emiten di pasar modal, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) bakal membawa anak usahanya PT…

Indonesia Butuh Haluan Ideologi Pancasila

    NERACA   Jakarta - Aktivis penggagas gerakan PancasilaPower, Rieke Diah Pitaloka mendeklarasikan gerakan kebangsaan PancasilaPower di IKIP Budi…

Berjuang ala CIMB Niaga untuk Melayani Indonesia

    NERACA   Jakarta - Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Tigor M Siahaan menegaskan, sejarah adalah bagian…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perjanjian Dagang RI-Mozambik Siap Ditandatangani

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian dagang atau Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia-Mozambik selesai dibahas, selanjutnya tim teknik kedua negara…

Pelaku Usaha Sarang Burung Walet Harus Tingkatkan Kualitas

NERACA Jakarta – Para pelaku usaha sarang burung walet di Jawa Tengah diajak untuk meningkatkan kualitas produksi agar bisa mengambil…

Indonesia Kehilangan Pasar Akibat Tertinggal Jajaki Perjanjian

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai bahwa Indonesia banyak kehilangan pangsa pasar (market share) di sejumlah negara akibat…