Link and Match

Oleh : Dr. HM Syahrial Yusuf

Komisaris Utama LP3I

Fenomena tidak tertampungnya lulusan pendidikan tinggi, terutama yang bergelar sarjana, di dunia kerja bukan cerita milik era tahun 2000-an saja. Bila dirunut kebelakang, sebenarnya gejala tersebut sudah mulai muncul ke permukaan sekitar dua puluhan tahun sebelumnya. Semakin hari semakin meresahkan masyarakat yang mengalaminya langsung. Namun hingga akhir 1980-an, belum ada tanda-tanda pihak yang merasa terpanggil untuk menyelesaikan masalah tersebut, baik pemerintah maupun swasta. Semua masih yakin bahwa model pendidikan yang dijalankan oleh perguruan tinggi pada saat itu masih yang terbaik.

Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infra struktur, misalnya gedung, sekolah dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu. Tanpa kompetensi. Tanpa adanya link and match antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia.

Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya. Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil. Misalnya untuk membiayai pendidikan tenaga kerja yang trampil dibidang komputer, tidak perlu membangun sekolah komputer sendiri.

Pendidikan link and match adalah sistem pendidikan yang bentuk kegiatannya dipersiapkan agar alumni lembaga pendidikan dimaksud siap kerja dan mata kuliahnya disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia kerja.

Di sisi lain para mahasiswanya juga diberikan materi mengenai pengetahuan praktis serta sikap dan perilaku yang sesuai dengan kebutuhan kerja. Dalam kaitan itu pula proses pengajarannya lebih banyak berupa praktik daripada teori dengan perbandingan 70% praktik dan 30% teori.

Tidak hanya itu. Untuk menghidupkan kultur pendidikan yang menghasilkan pengusaha yang tangguh, kalangan pengusaha dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) , Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi), dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) akan mendeklarasikan berdirinya “Jakarta Entrepreneur Centre” (JEC) di Jakarta, hari ini (29/3).

Deklarasi ini akan dihadiri sedikitnya 100 pengusaha dan beberapa tokoh nasional, diantaranya Fahmi Idris, Siswono Yudohusodo dan Suryo Bambang Sulisto (Ketua Umum Kadin). Ini sebagai respon untuk mengubah Indonesia dengan memperbanyak pengusaha. Karena JEC bertujuan merangkul pengusaha dalam melahirkan pengusaha-pengusaha baru yang mampu memajukan ekonomi nasional.

Adapun latar belakang pendirian JEC, adalah untuk menciptakan lebih banyak pengusaha muda untuk lebih berkreasi dan tampil ke permukaan, dengan menghasilkan karya usaha yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia, sekaligus mengentaskan kemiskinan di tengah ancaman krisis ekonomi saat ini. Semoga!

Related posts