Bukopin Syariah Catatkan Laba Tumbuh 19,30%

Neraca

Jakarta – PT Bank Syariah Bukopin Syariah (BSB) mencatatkan laba bersih tahun 2011 sebesar Rp12,209 miliar atau tumbuh 19,30% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10n23 miliar. Perolehan laba disumbang dari pendapatan utama perseroan sebesar 87% dan fee base income 13%.

Direktur Utama PT Bank Syariah Bukopin Riyanto mengatakan, pendapatan utama perseroan lebih banyak di bisnis sektor konsumtif 25%, perdagangan 17% dan konstruksi 6%, “Rencananya, perolehan laba tahun ini akan digunakan untuk pengembangan bisnis perseroan dan termasuk memperkuat kecukupan modal,”katanya di Jakarta, Rabu (28/3).

Menurutnya, ditengah lingkungan global yang masih diwarnai stagnasi dan ketidakpastian, perekonomian Indonesia berkembang cukup baik dan menunjukan ketahanannya terhadap kejutan eksternal, dimana pertumbuhan mencapai 6,5% dengan inflasi 3,79%.

Selain itu dia juga menuturkan, dengan perolehan laba sebesar Rp 12 miliar, maka saat ini kecukupan modal (CAR) Bukopin Syariah mencapai 16%. Kemudian untuk bisnis ditahun 2012, masih fokus pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM) di delapan sektor.

Dari kedelapan sektor, sektor pembiayaan kendaraan melalui kerjasama dengan multifinance syariah dan juga pembiayaan pensiunan

Dia menuturkan, bisnis ditahun 2012 masih fokus pada segmen usaha kecil menengah (UKM) di delapan sektor, sektor pembiayaan kendaraan melalui kerjasama dengan multifinance syariah dan juga pembiayaan pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) menjadi yang diandalkan karena memberikan kontribusi cukup besar.

Sementara pendapatan melalui fee base income, kata Riyanto masih dipatok tumbuh 13% ditahun 2012 atau sama dibandingkan tahun lalu. Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) masih dikuasai dana deposito retail sebesar 80% dan sisanya tabungan atau giro.

Asal tahu saja, aset BSB juga mengalami pertumbuhan 24,43% menjadi Rp2,73 triliun dari Rp2,19 triliun pada 31 Desember 2010. Pertumbuhan aset tersebut lebih baik dibandingkan dengan akhir 2010 yang tumbuh 11,09%.

Sementara DPK meningkat menjadi Rp2,29 trilun atau tumbuh 41,30% dibandingkan dengan akhir 2010 yang hanya Rp1,62 triliun. Untuk pembiayaan yang diberikan BSB tumbuh 18,95% menjadi Rp1,92 triliun dari Rp1,61 triliun pada akhir 2010.

Selanjutnya pada rasio pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan (Non Performing Financing/NPL) sebesar 1,74% dan total pembiayaan terhadap DPK (Financing To Deposit Ratio/FDR) mencapai 83,66%.

Hasil rapat umum pemegang saham tahunan PT Bank Syariah Bukopin (BSB) telah memutuskan persetujuan atas laporan tahunan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2011 serta memberikan acquit et de charge sepenuhnya kepada Dewan Komisaris dan Direksi BSB.

RUPS juga menetapkan penggunaan laba BSB untuk tahun buku 31 Desember 2011 dan akan digunakan untuk menunjang kegiatan operasi dan pengembangan usaha BSB. Dalam hal penunjukan Kantor Akuntan Publik, pemegang saham menyetujui untuk memberikan kewenangan Kantor Akuntan Publik yang akan melakukan audit atas buku BSB untuk tahun buku yang akan berakhir pada 31 Desember 2012. (bani)

Related posts