Peraturan Teknis Pasar Lelang Akan Disempurnakan - Nilai Transaksi Capai Rp14,62 Miliar

NERACA

Jakarta - Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 650/MPP/Kep/10/2004 tentang Ketentuan Penyelenggaraan Pasar Lelang dengan Penyerahan Kemudian (Forward) Komoditi Agro yang bertujuan untuk menyusun suatu peraturan teknis pasar lelang agar mampu mengakomodir dinamika perkembangan sektor perdagangan yang semakin pesat.

Dalam waktu dekat, Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tersebut akan disempurnakan dengan mempertimbangkan beberapa aspek utama dalam penyelenggaraan pasar lelang, diantaranya kelembagaan, penjaminan pasar lelang, mekanisme transaksi lelang, keanggotaan, dan penyelesaian perselisihan.

“Pasar Lelang diharapkan dapat menjadi sarana pembentukan harga yang wajar dan efektif dalam mengefisienkan mata rantai perdagangan,” ujar Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Rabu (28/3).

Pada kunjungannya ke Jambi kali ini, melihat pertumbuhan perdagangan untuk Pasar Lelang Forward di Provinsi Jambi mengalami peningkatan nilai transaksi dari tahun ke tahun, khususnya pada akhir tahun 2010 sampai dengan 2011 dimana total nilai transaksi mencapai Rp14,62 milIar, dengan rata-rata nilai transaksi setiap penyelenggaraan lelang yang dilakukan setiap tiga bulan sekali sebesar Rp3,3 milIar.

Karet merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia. Bayu mengungkapkan, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gabkindo), produksi karet Indonesia berkisar 3 juta ton, sedangkan volume ekspor karet setiap tahun meningkat berkisar 2,4 juta hingga 2,5 juta ton. “Jadi, sisanya sekitar 500 ribu ton untuk kebutuhan pabrik olahan di dalam negeri,” terangnya.

Permintaan Karet

International Rubber Study Group (IRSG) memperkirakan konsumsi karet natural pada 2012 akan mencapai 11 juta ton atau tumbuh sekitar 2,6%. Sebanyak 65% dari permintaan ini diproduksi oleh Indonesia, Thailand dan Malaysia. Riset LMC Internasional menunjukan pertumbuhan permintaan karet akan naik sekitar 3,5-4% hingga tahun 2020.

Pasar Lelang Lokal (PLL) Karet, Panerokan, Kab. Batanghari, Jambi, dibentuk sejak tahun 1989 sebagai embrio Pasar Fisik Komoditi Karet yang pendiriannya dirintis PSP (Pusat Studi Pembangunan) IPB bekerja sama dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, merupakan salah satu pasar lelang yang bertahan hingga saat ini dan pantas dijadikan raw model keberhasilan pasar lelang di dalam negeri.

PLL Karet Panerokan memiliki kontribusi besar di dalam perdagangan karet khususnya di wilayah Jambi dan secara nasional. Tahun 2011, total transaksi PLL Karet Panerokan mencapai Rp 11,5 miliar. Total transaksi ini telah mencapai Rp 2,6 miliar pada 14 Maret 2012. Atas keberhasilan PLL Karet Panerokan, ini, Kab. Bungo dan Kab. Tebo juga ikut membentuk PLL Karet.

Sementara, Kepala Bappebti Syahrul R. Sempurnajaya mengatakan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta instansi terkait lainnya akan terus mengupayakan pengembangan Pasar Lelang di berbagai daerah di Indonesia. Pasar Lelang selama ini telah dimanfaatkan oleh petani dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) untuk mendapatkan harga terbaik.

Selanjutnya, Pasar Lelang Lokal Karet yang telah hadir di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, telah dikembangkan menjadi Pasar Lelang Forward Agro. “Tujuannya adalah untuk menampung seluruh kebutuhan pemasaran bagi komoditi pertanian dan perkebunan yang ada di provinsi tersebut selain komoditi karet, seperti padi, beras, jagung, kentang, kayu manis, kopi, sayur-sayuran, dan perikanan yang rantai perdagangan cukup panjang serta masih belum efisien,” ungkap Syahrul.

Related posts