Penutupan Gerai Ritel Akibat Perubahan Perilaku Belanja - PERDAGANGAN DOMESTIK

NERACA

Jakarta – PT Hero Supermarket Tbk mengakui bahwa jaringan ritel yang dikelola sebagai anak usaha, Giant, akan menutup enam toko pada 28 Juli 2019 sebagai respons atas perilaku konsumen yang berubah dengan cepat. Keenam gerai yang akan ditutup yakni Giant Ekspres Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jati Makmur, Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur dan Giant Ekstra Wisma Asri Bekasi.

"Ini bukanlah hal yang mudah, tetapi perlu dilakukan guna merespons perilaku konsumen yang berubah dengan cepat," kata Direktur PT Hero Supermarket Tbk, Hadrianus Wahyu Trikusumo di Jakarta yang dikutip, Rabu (26/6).

Hadrianus menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, persaingan bisnis ritel makanan mengalami peningkatan sehingga membuat pelanggan telah mengubah cara mereka berbelanja.

Menurut dia, seperti dikutip Antara, Giant merupakan brand yang kuat namun, perusahaan juga harus terus beradaptasi dan bersaing secara efektif dengan menerapkan program transformasi multitahun untuk memberikan peningkatan jangka panjang.

Perusahaan telah berupaya melakukan penyesuaian dan menyegarkan kembali penawaran untuk memenuhi kebutuhan preferensi dari pelanggan guna memastikan kualitas, serta meningkatkan produktivitas toko.

Untuk tetap kompetitif dan memenuhi perubahan pola belanja pelanggan, Giant tengah mengembangkan strategi jangka panjang. Hal ini melibatkan penataan ulang ruang usaha, meningkatkan kualitas, skala dan kesegaran di seluruh toko, serta menyesuaikan general merchandise untuk memberikan nilai yang lebih konsisten kepada konsumen.

PT Hero Supermarket sebagai induk usaha dari jaringan ritel supermarket Giant menyatakan akan memperkuat lini bisnis lainnya di sektor nonmakanan, yakni Guardian dan IKEA, di tengah penutupan enam toko Giant. "Selain memperkuat bisnis makanan, kami juga terus mengembangkan bisnis kami lainnya yang berkinerja baik, yaitu Guardian Health Beauty dan IKEA," kata Hadrianus.

Hadrianus mengakui bahwa perseroan melakukan penyesuaian ini sebagai bentuk komitmen jangka panjang bisnis ritel di Indonesia dan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berubah dengan cepat.

Dari laporan kinerja keuangan Hero yang dirilis 29 April 2019, pada kuartal-I 2019 Hero meraup pendapatan bersih sebesar Rp3,06 triliun atau meningkat tipis 0,5 persen dari periode yang sama tahun 2018 yakni Rp3,04 triliun.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menilai perubahan perilaku konsumen memengaruhi penutupan gerai ritel modern Giant. Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey mengatakan bergesernya perilaku konsumen (consumer behaviour) dari yang biasanya memasak di rumah menjadi berkuliner dan membeli makanan di rumah turut memengaruhi penurunan transaksi komoditas pangan, baik makanan dan minuman.

"Bergesernya perilaku konsumen dari 'shopper lifestyle' sekarang perilakunya menjadi 'leisure lifestyle' yang di dalamnya terdapat kuliner dan hiburan sebagai bagian dari gaya hidup saat ini," kata Roy.

Roy menilai bahwa telah terjadi perubahan perilaku konsumen dari yang biasanya memasak di rumah dan berbelanja bahan pangan di supermarket, kini mereka lebih memilih untuk berkuliner.

"Adanya penurunan transaksi pangan, baik makanan dan minuman, akibat bergesernya perilaku konsumen. Konsumen lebih memilih kuliner di luar rumah sebagai gaya hidup masyarakat global," kata Roy.

Saat ini, gerai ritel dengan luasan medium berkisar 2.000-2.500 meter persegi lebih populer dibanding supermarket yang tergolong "largest size area" dengan luas 5.000 meter persegi ke atas. "Kemungkinan membuka area yang lebih kecil ini sebagai dampak perubahan perilaku belanja konsumen di Indonesia. Ukuran 2.000-2.500 m2 menjadi cukup populer saat ini," katanya.

Roy menambahkan strategi agar para ritel modern lain dapat bertahan, yakni menambahkan fungsi ritel agar tidak hanya sekadar menjadi pusat belanja, tetapi juga wahana bermain anak-anak, restoran, cafe dan bioskop. Ia juga berharap agar para ritel menerapkan "omni channel", yakni memberikan akses belanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus baik online maupun offline.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai tutupnya toko ritel besar di Indonesia dikarenakan kondisi yang tidak mampu bersaing. "Soal banyak toko tutup, itu bukan karena pasarnya (melemah), tapi tokonya yang tidak bisa bersaing," katanya.

Aviliani menuturkan, Indonesia yang diklaim memiliki bonus demografi seharusnya tidak mengalami penurunan daya beli. Pasalnya, peningkatan kelas menengah di Tanah Air akan dapat mendorong tingkat konsumsi.

Ia menyebut penutupan ritel bisa saja disebabkan oleh faktor internal perusahaan karena di sisi lain masih banyak perusahaan lain yang justru terus berekspansi. "Ada yang ekspansi, ada yang tutup. Berarti ada perusahaan yang tidak bisa 'survive' (bertahan). Pasarnya tidak turun," imbuhnya.

Ditekankannya, inovasi dan kreativitas ritel untuk menggaet konsumen juga dibutuhkan agar bisa bertahan di era daring seperti saat ini. "Ada bisnis online, kalau tidak bisa 'survive', ya mati. Perusahaan-perusahaan yang puluhan tahun juga bisa mati kalau tidak berinovasi," katanya.

Adapun Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant, yang dimiliki oleh PT Hero Supermarket Tbk, disebabkan persaingan bisnis, yang makin ketat. "Itu hasil dari persaingan, kalau ada yang kalah dalam bersaing, itu normal," kata Darmin.

Darmin mengatakan saat ini persaingan bisnis ritel modern sangat ketat, karena pelaku industri saling berlomba-lomba untuk menawarkan layanan terbaik kepada konsumen. Untuk itu, dia meminta tidak ada hal yang dirisaukan dari persaingan bisnis ritel tersebut, karena ini merupakan bagian dari dinamika kegiatan ekonomi. munib/fba

BERITA TERKAIT

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun - Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar

DPRD‎ Depok "Hanya" Setujui APBD Perubahan 2019 Rp3,7 Triliun Punya Potensi Dana SILPA 2018 Rp‎765,6 Miliar NERACA Depok - ‎DPRD…

Neraca Perdagangan Sumatera Selatan Surplus Juni 2019

Neraca Perdagangan Sumatera Selatan Surplus Juni 2019   NERACA Palembang - Neraca perdagangan Provinsi Sumatera Selatan mencatat surplus sebesar 251,78 juta…

Penetrasi Peluang Pasar Digital - GoPay Layani Pembayaran di 7000 Gerai JNE

NERACA Jakarta -GoPay menjadi platform uang elektronik pertama yang bisa digunakan sebagai salah satu opsi pembayaran di JNE. Kemudahan bertransaksi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bankir: Resesi Global Masih Jauh dari Kondisi Nyata

NERACA Jakarta-Kalangan bankir menilai resesi ekonomi global masih jauh dari nyata. Dengan demikian, masyarakat diimbau tak perlu menanggapi isu tersebut…

PERLU NILAI TAMBAH EKONOMI DIGITAL - JK: Tiru China Bangun Inovasi Digital

Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan agar pengusaha muda Indonesia tidak hanya membangun marketplace. Generasi muda katanya juga harus berpikir…

AKIBAT KENAIKAN IMPOR NONMIGAS - NPI Defisit US$63,5 Juta di Juli 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2019 terjadi defisit US$ 63,5 juta, yang merupakan…