Penyelesaian RCEP Bantu ASEAN Kelola Ketegangan Perdagangan

NERACA

Jakarta – Proses negosiasi perundingan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) pada 10 negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kemajuan itu terjadi pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-34 yang berlangsung di Bangkok, Thailand, 20-23 Juni 2019.

Padahal sejak pertama kali RCEP diluncurkan pada November 2012, penyelesaian perundingan mengalami perlambatan dikarenakan perubahan politik yang diiringi pergantian menteri di negara-negara ASEAN dan keenam mitranya.

Silih bergantinya pergantian menteri membuat negosiasi sering tidak menghasilkan perkembangan signifikan. Di tambah tarik-menarik kepentingan dagang di antara sesama negara ASEAN maupun negara mitra.

Namun setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik AS dari perjanjian perdagangan bebas Trans Pacific Partnership (TPP) serta adanya perang dagang AS dengan China, negara-negara ASEAN fokus untuk menyelesaikan kesepakatan RCEP.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-34, para pemimpin negara ASEAN sepakat mempercepat penyelesaian RCEP pada tahun ini.

Langkah tersebut diambil untuk memperkuat posisi ASEAN di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Ketua ASEAN ke-34, Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha mengungkapkan KTT menegaskan kembali pentingnya memperkuat ekonomi regional melalui penyelesaian negosiasi RCEP.

Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) itu akan membantu ASEAN mengelola perubahan dan ketidakpastian di kawasan ini, terutama dalam hal ketegangan perdagangan antara mitra dagang penting ASEAN, ujar PM Prayut.

Perdana Menteri Prayut mendesak negara-negara Asean untuk menyelesaikan negosiasi tahun ini untuk Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional itu.

Jika RCEP dapat diselesaikan, lanjut dia, ASEAN akan memiliki daya tawar untuk melakukan negosiasi dengan negara di luar kawasan dalam hal kerja sama ekonomi. Karena ketika ASEAN digabungkan dengan 650 juta orang itu menjadi nilai tawar yang tinggi sebagai blok regional ekonomi terbesar di dunia.

Terkait dengan situasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China, ASEAN akan mengambil sikap proaktif dalam menanggapi fenomena tersebut, yaitu dengan mendukung sistem perdagangan multilateral yang inklusif dan transparan. ASEAN akan bekerja sama dengan negara mitra dagang untuk bersama-sama mendorong proses reformasi World Trade Organization (WTO).

Sementara itu, kerja sama subregional ASEAN juga akan ditingkatkan, terutama dalam konteks Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

Sementara itu Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita mengungkapkan bahwa tidak ada lagi perdebatan substansi RCEP di antara menteri-menteri ekonomi ASEAN.

Para menteri ekonomi ASEAN, lanjut dia, menyepakati dan berkomitmen untuk menyelesaikan substansi RCEP pada 2019. Kesepakatan dan komitmen tersebut tercapai, lanjut dia, mengingat situasi global saat ini.

Menteri ekonomi ASEAN juga menyepakati untuk tidak mengajukan usulan baru dalam substansi RCEP, ujar Mendag. Upaya tersebut dilakukan agar percepatan negosiasi RCEP dapat dirampungkan pada November tahun ini, kata dia. "Kita sepakat bahwa subtansi RCEP ini selesai di antara sesama negara-negara ASEAN, makanya kita meminta agar adanya fleksibilitas, ujar dia, disalin dari Antara di Jakarta.

Menteri ekonomi ASEAN juga sepakat untuk saling memberikan dukungan satu sama lain dan melakukan komunikasi intens dalam penyelesaian RCEP ini. Di samping itu, lanjut Mendag, menteri ekonomi ASEAN juga menyepakati dan berkomitmen menyelesaikan perundingan mengenai akses pasar di antara 10 negara anggota ASEAN dengan enam negara mitra.

Mendag mengatakan akses pasar dari ASEAN ke India, China, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Selandia Baru, serta sebaliknya, harus sama dengan intra-Asean. Terkait bab kompetisi berusaha yang belum disepakati negara-negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-33, Menteri Enggartiasto mengatakan bahwa bab kompetisi berusaha sudah menemui kata mufakat. Sejauh ini telah diselesaikan tujuh bab dari keseluruhan 21 bab RCEP, dan penyelesaiannya akan terus diintensifkan hingga akhir 2019.

BERITA TERKAIT

Menteri Yohana Ingin "Tenggelamkan" Mafia Perdagangan Orang

Menteri Yohana Ingin "Tenggelamkan" Mafia Perdagangan Orang NERACA Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan…

Tim Mahasiswa UI Berhasil Raih Juara Umum Kompetisi Bisnis Se ASEAN dan China

  NERACA   Jakarta - Enam mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berhasil meraih juara umum dalam kompetisi bisnis yang diadakan oleh…

Tidak Memenuhi Kewajiban - Lagi, BEI Suspensi Perdagangan Saham SUGI

NERACA Jakarta—PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham milik PT Sugih Energy Tbk (SUGI) sejak perdagangan Kamis (11/7).…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Internasional - Pemerintah Diminta Lobi China Guna Tingkatkan Ekspor Nasional

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menginginkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dapat melobi pemerintah…

Kadin Berharap Investasi yang Masuk Berorientasi Ekspor

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap investasi yang masuk ke Indonesia merupakan investasi yang berorientasi ekspor…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…