Kalau Mau Maju, BEI Harus Terapkan Continuing Price - Dinilai Tak Bisa Jadi “Mainan” Broker

NERACA

Jakarta - Lektor Kepala Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Agus S Irfani menilai, pada dasarnya, memajukan jam perdagangan saham 30 menit lebih awal oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah bagus. Namun, yang lebih penting continuing price karena prinsip inilah yang seharusnya diterapkan. “Artinya, meskipun pasar tidak beraktifitas karena libur, perdagangan saham masih berlanjut secara real time. Itulah yang diterapkan Bursa Amerika Serikat (AS) dan Eropa,” ujar dia kepada Neraca, Selasa (27/3).

Lebih lanjut Agus mengatakan, mekanisme tersebut dinilai sudah sempurna sebab transaksi perdagangan bersifat dinamis. “Kalau yang sekarang, kan, harga penutupan Jumat sama dengan saat pembukaan Senin. Nah, kalau pakai continuing price, harga saham Jumat pasti beda dengan Senin. Apalagi, transaksi bisa dilakukan di rumah walaupun hari Minggu,” jelasnya.

Dibilang sempurna, lanjut dia, karena continuing price tidak bisa “diakal-akalin” oleh pemain saham atau broker karena berjalan sesuai mekanisme pasar. Terutama saham-saham unggulan atau bluechips seperti saham perusahaan BUMN, sangat sulit untuk diintervensi. Bagaimana pasar modal Indonesia dapat menerapkan continuing price?

Menurut Agus ada beberapa poin, utamanya, keterbukaan informasi atau disclosureness dan hipotesis pasar. Pertama, keterbukaan informasi. Selama ini salah satu faktor yang menghambat kapitalisasi pasar adalah karena data dan informasi saat ini masih bersifat private information.

“Hanya pihak tertentu atau insider yang punya akses untuk mengetahui. Ya, seperti direksi suatu perusahaan,” tambah Agus. Kedua, hipotesis pasar yang dikelompokkan menjadi tiga macam. Weak form market efficient hypothesis, yaitu harga pasar terbentuk berdasarkan data dan informasi masa lalu. Alhasil, pergerakan pasar lemah karena sudah ketinggalan zaman.

Semi-strong market efficient hypothesis, harga pasar lebih banyak ditentukan harga saat ini seperti prediksi aksi korporasi atau bagi dividen suatu perusahaan, daripada harga masa lalu. Terakhir, kata Agus, strong form market efficient hypothesis. “Dalam hipotesis ini prinsipnya no one can’t beat the market price. Pola pergerakan harga pasar konsisten ke arah yang sama dan tidak bisa dibalikkan atau reversal,” tukas dia.

Kendati demikian, dia mengapresiasi majunya jam perdagangan saham ini sebagai bentuk perubahan ke arah yang lebih baik. Selain bertujuan meningkatkan kapitalisasi pasar juga memperbaiki likuiditas. Nilai transaksi perdagangan kemarin tercatat mencapai Rp 4,49 triliun dari volume transaksi sebesar 4,131 juta lembar saham yang diperdagangkan.

Sementara investor asing terpantau mencatatkan aksi beli sebesar Rp 498,04 miliar. “Kalau jam perdagangan jadi maju, harus naik likuiditasnya. Bulan Mei adalah waktu yang tepat. Normalnya nilai transaksi harian itu minimal Rp 5 triliun,” tandasnya.

Tunggu revisi

Sebelumnya, Direktur Teknologi Informasi BEI, Adikin Basirun memastikan pihaknya telah siap untuk melaksanakan jam perdagangan bursa untuk dimajukan 30 menit. Saat ini, BEI tinggal menunggu revisi peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) cepat selesai.

“Masih menunggu peraturan Bapepam untuk mensahkan dimajukannya jam perdagangan bursa. Kita berharap jangan terlalu lama, sehingga BEI dapat segera melaksanakan sebelum bulan Juni atau semester pertama," kata Adikin di Jakarta, kemarin.

Otoritas pasar modal ini telah memasukkan draft revisi peraturan perdagangan II.A terkait rencana jam perdagangan yang dimajukan 30 menit lebih awal, penerapan sistem pre-closing (pra-perdagangan), dan post-trading (pasca-perdagangan) selama 15 menit kepada Bapepam-LK pada awal Maret 2012 lalu.

Lebih lanjut Adikin menuturkan, rencana jam perdagangan bursa ini dimajukan untuk mendekatkan jam perdagangan BEI dengan pasar regional. Selain itu, jam perdagangan bursa dimajukan juga terkait pelaporan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) pada pukul 8.30 WIB. "Dengan laporan MKBD pukul 8.30 WIB lalu jam 9 WIB juga sudah bisa dagang," tambahnya.

Dijelaskannya lagi, pre-closing tujuannya untuk mengurangi risiko market to close. "Ada beberapa pihak mencoba mempengaruhi harga saat penutupan. Dengan pre-closing maka nanti ditentukan berdasarkn formula volume terbanyak yang mencerminkan keadaan pasar," tegas Adikin. Melalui sistem pre-closing dan post-trading ini diharapkan dapat memperbaiki mekanisme pasar sehingga menciptakan pasar wajar, teratur dan efisien. [ardi]

Related posts