Menanti Putusan MK

Pemungutan suara pada pileg dan pilpres 2019 berjalan dengan aman, lancar dan damai pada 17 April 2019. Partisipasi masyarakat dalam pemilu kali ini tergolong tinggi, diperkirakan lebih dari 80% pemilih terdaftar. Pemilu terselenggara di lebih dari 800.000 TPS yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau di Tanah Air dan di luar negeri. Proses panjang dan melelahkan mesti dilalui, dari distribusi logistik, penyiapan tempat pemungutan suara hingga pemungutan dan penghitungan suara.

Menurut Riana Nazir, pemerhati sosial politik, waktu kampanye yang terlalu panjang menyebabkan kelelahan lahir dan batin bagi para kontestan dan pendukungmya. Kampanye berlangsung panas diwarnai oleh politik identitas, sentimen primordial, hoaks, fitnah dan ujaran kebencian, terutama sangat kentara di media sosial. Hal itu pada gilirannya meninggalkan sejumlah keprihatinan. Mulai dari keluhan, tuduhan dan luka batin.

Agar tidak semakin parah, luka tersebut harus segera diobati. Para kontestan pilpres, elite parpol pendukung, tim pemenangan dan relawan sebaiknya segera untuk menunjukkan kepada khalayak ramai bahwa mereka, yang tadinya berseberangan secara ekstrem pada kutub yang berbeda, sekarang telah kembali bersatu. Dengan demikian suasana masyarakat akan kembali dingin dan penuh persaudaraan. Elite yang rukun akan merukunkan kembali para pendukung di akar rumput yang sempat bersitegang leher selama berbulan-bulan.

Patut disadari Pemilu Serentak baru kali pertama diselenggarakan di Indonesia telah menghabiskan anggaran negara sekitar Rp 25 triliun. Itupun masih belum sempurna dalam pelaksanaannya, seperti terjadi korban jiwa akibat petugas kelompok pelaksana pemungutan suara (KPPS) kelelahan mencapai 372 meninggal dan lebih dari 1.000 orang menderita sakit. Semuanya berkorban demi tugas negara yang amat penting bagi masa depan rakyat Indonesia.

Tidaklah berlebihan jika saat ini (pasca Pemilu), semua pihak yang semula terpolarisasi pada kelompok pendukung paslon 01 maupun paslon 02, mulai sekarang harus segera mencair demi persatuan Indonesia. Bagaimanapun, sebagai bangsa Indonesia harus bersikap dewasa siapapun presiden yang terpilih nanti berdasarkan putusan akhir MK, yang merupakan lembaga tertinggi negara kita yaitu NKRI yang wajib dihormati dan diapresiasi sebagaimana layaknya kepala negara yang sah sesuai kedaulatan rakyat seperti tercantum dalam salah satu pilar Pancasila.

Masyarakat diharapkan sabar menunggu hasil putusan final MK dalam pekan ini. Semua masalah yang ada berkaitan dengan pemilu hendaknya tidak diselesaikan dengan cara-cara yang bertentangan dengan hukum, atau di luar koridor konstitusi, melainkan harus diselesaikan melalui mekanisme yang tersedia di Bawaslu, Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi. Apapun yang diputuskan oleh lembaga-lembaga yang berwenang tersebut harus diterima dengan terbuka dan lapang dada. Itulah esensi supremasi hukum, bahwa supremasi hukum harus dihormati oleh semua warga negara Indonesia karena Indonesia adalah negara hukum.

BERITA TERKAIT

Tantangan Ekonomi Kreatif

Presiden Jokowi pada setiap acara sering mengingatkan pentingnya budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmen Jokowi terhadap kebudayaan sebagai salah…

Pahlawan Pengentas Kemiskinan

Kita tentu terkejut ketika Asian Development Bank (ADB) melaporkan 22 juta orang Indonesia masih menderita kelaparan. Data tersebut terungkap dalam…

Upaya Tekan Kemiskinan

Meski data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2019 memaparkan angka kemiskinan di Indonesia tercatat 9,74 %, lebih rendah dibandingkan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

PR Daya Saing Indonesia

Laporan terbaru WEF yang bertajuk The Global Competitiveness Index Report 2019 mengungkapkan, Indonesia berada di peringkat 50 dengan nilai 64,6,…

Mimpi Jadi Negara Besar

Sekitar September 2012, McKinsey Global Institute (MGI) melaporkan hasil kajian berjudul “The archipelago economy: unleashing Indonesia’s potential”, yang isinya kurang…

Tantangan Ekonomi Kreatif

Presiden Jokowi pada setiap acara sering mengingatkan pentingnya budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Komitmen Jokowi terhadap kebudayaan sebagai salah…